Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

PELATIHAN LITERASI KOMUNIKASI POLITIK PEMILIH PEMULA SMA DARUL HIKAM BANDUNG Lukman, Syauqy; Sani, Anwar; Priyatna, Centurion Chandratama
Dharmakarya Vol 6, No 4 (2017): Desember
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (848.532 KB)

Abstract

Potensi pemilih pemula dalam tiap pemilu memang besar, terbukti KPU pun memberikan perlakuan khusus terhadap segmentasi ini dengan memberikan sejumlah kegiatan sosialisasi khusus pada pemilih pemula . Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa skeptisme dan antipasti politik dari kaum pemilih pemula memang masih sangat tinggi, dapat menghasilkan implikasi yang tidak baik terhadap partisipasi politik di masa yang akan datang. Dari pra-riset yang dilakukan, Pemilih pemula banyak yang merasa bahwa komunikasi politik yang dilakukan sejumlah actor politik dirasa berbau pencitraan dan kotor, hal ini berkontribusi terhadap pengetahuan dan sikap mereka terhadap aktvitas pemilu dan pilkada, bentuk nyata partisipasi politik bagi pemilih pemula. Solusi masalah ini adalah literasi komunikasi politik, khususnya bagi para pemilih pemula. Maka dari itu, tim kami dalam kegiatan pengabdian pada masyarakat, sebagai bagian dari tridharma perguruan tinggi memutuskan untuk melakukan kegiatan pelatihan literasi komunikasi politik di SMA Darul Hikam Bandung. Banyak partisipan kegiatan ini yang awalny kurang terinformasikan mengenai sejumlah pengetahuan dasar tentang komunikasi politik, menjadi lebih kenal tentang fenomena tersebut. Kegiatan ini dihadiri oleh sekitar 300-an peserta.
Hubungan Persepsi terhadap Perilaku Swamedikasi Antibiotik: Studi Observasional melalui Pendekatan Teori Health Belief Model Insany, Annisa N.; Destiani, Dika P.; Sani, Anwar; Pradipta, Ivan S.; Sabdaningtyas, Lilik
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.019 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2015.4.2.77

Abstract

Tingginya perilaku swamedikasi antibiotik dapat meningkatkan peluang penggunaan antibiotik yang tidak rasional sehingga berdampak pada peningkatan resistensi antibiotik. Perubahan perilaku swamedikasi antibiotik diperlukan untuk menurunkan penggunaan antibiotik yang irasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan persepsi masyarakat terhadap praktik swamedikasi antibiotik yang bermanfaat untuk mengembangkan model intervensi dalam rangka menurunkan praktik swamedikasi antibiotik (SMA). Studi observasional analitik dilakukan pada bulan November–Desember 2014 kepada masyarakat yang berkunjung ke fasilitas kesehatan primer di Kota Bandung. Wawancara terstruktur dengan menggunakan kuesioner tervalidasi dilakukan untuk melihat variabel perilaku swamedikasi serta variabel persepsi ancaman, keuntungan, hambatan, dan kemamampuan bertindak berdasarkan teori perubahan perilaku health belief model (HBM). Wawancara dilakukan terhadap 506 responden dewasa yang diambil secara acak di 43 puskesmas dan 8 apotek. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif dan regresi logistik (CI 95%, α=5%).Validitas kuesioner dinyatakan dengan koefisien korelasi >0,3 dan nilai reabilitas alpha-cronbach sebesar 0,719. Terdapat 29,45% responden yang melakukan swamedikasi antibiotik selama 6 bulan terakhir. Tidak terdapat hubungan signifikan antara variabel HBM (persepsi ancaman, keuntungan, hambatan, dan kemampuan bertindak) dengan perilaku swamedikasi antibiotik (p>0,05). Persepsi ancaman, keuntungan, hambatan, dan kemauan bertindak berdasarkan teori HBM menunjukkan hubungan yang lemah terhadap perilaku swamedikasi antibiotik. Mudahnya akses dalam membeli antibiotik secara bebas diduga menjadi faktor dalam perilaku SMA sehingga regulasi yang ketat diperlukan sebagai dasar intervensi dalam menurunkan perilaku SMA.Kata kunci: Antibiotik, health belief model, swamedikasiAssociation between Perceived Value and Self-Medication with Antibiotics: An Observational Study Based on Health Belief Model TheoryHigh prevalence of self medication with antibiotics can increase the probability of irrational use of antibiotics which may lead antibiotics resistance. Thus, shifting of behavior is required to minimize the irrational use of antibiotics. This study was aimed to determine the association between public perceivedvalue and self-medication with antibiotics which can be used to develop an intervention model in order to reduce the practice of self-medication with antibiotics. An observational study was conducted during the period of November–December 2014.The subjects were patients who visit primary health care facilities in Bandung. A structured-interview that has been validated was used to investigate the association between perceived value and self-medication behavior based on the Health Belief Model theory (perceived susceptibility, benefits, barrier, and cues to action). Approximately 506 respondents were drawn randomly from 43 community healthcare centers and 8 pharmacies. Data was analyzed by using descriptive statistics and logistic regression (CI 95%, α = 5%). Validity and reliability of the questionnaire were shown with a correlation coefficient of >0.3 and a cronbach-alpha value of 0.719, respectively. We found that 29.45% of respondents practiced self-medication with antibiotics over the last six months. Additionally, there was no significant association between the perceived susceptibility, benefits, barrier, and cues to action with self-medication behavior (p>0.05). Easiness to access antibiotics without prescription was presumed as a factor that contribute to self-medication with antibiotics, therefore strict regulation in antibiotics use is very needed as a basic intervention to decrease self-medication with antibiotic.Key words: Antibiotics, health belief model, self-medication
IMPLEMENTASI PERMENDAGRI NOMOR 13 TAHUN 2011 SEBAGAI MEDIA KOMUNIKASI DI PEMERINTAHAN BUDIANA, HERU RYANTO; PRASTOWO, FX ARI AGUNG; SANI, ANWAR
Prosiding Magister Ilmu Komunikasi Buku B - Komunikasi Publik Dan Dinamika Masyarakat Lokal
Publisher : Prosiding Magister Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (385.699 KB)

Abstract

Permasalahan-permasalahan yang muncul di negara ini dari tingkat nasional sampai tingkat desa semakin membuktikan bahwa peran dan fungsi humas memiliki arti penting. Bagaimana humas idealnya mengkomunikasikan informasi tentang kinerja atau apa yang telah, sedang dan akan dilakukan pemerintah. Penyampaian informasi tersebut dimaksudkan bukan sekedar agar masyarakat mengetahuinya, tapi juga yang tidak kalah pentingnya adalah untuk membangun opini positif pemerintah, mind set masyarakat, dan muaranya adalah tumbuhnya kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam membangun negeri. .Namun demikian, perkembangan dan tantangan yang dihadapi oleh pemerintahan sekarang semakin berat, sehingga fungsi humas tidak hanya dilaksanakan oleh Kementrian Komunikasi dan Informatika. Pemerintah melalui kementerian komunikasi dan informatika telah membuat terobosan baru dengan merekrut petugas humas, namun demikian keberadaannya bukan tanpa masalah, karena pemerintah sebelumnya telah memiliki pranata humas dan kemendagri telah mengeluarkan Permendagri no 13 tahun 2011 tentang kewenangan humas pemerintah di lingkungan pemerintah dalam negeri. Tidak adanya komunikasi dan koordinasi menjadi titik persoalan komunikasi pemerintahan baik di level pusat sampai dengan level daerah. Kata Kunci : Komunikasi, Humas, Pemerintah
KONSTRUKSI MAKNA NASIONALISME PADA DESAIN UANG RUPIAH KERTAS Yonita, Lingga; Hafiar, Hanny; Sani, Anwar
WACANA, Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi Vol 17, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kontroversi pengeluaran uang Rupiah kertas tahun emisi 2016. Dengan menggunakan teori semiotika Charles Sanders Peirce, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui simbol yang terdapat dalam uang Rupiah kertas TE 2016, makna yang terkandung di dalam simbol tersebut, dan bagaimana simbol-simbol tersebut dapat mengkonstruksi makna nasionalisme. Hasil penelitian menunjukkan simbol yang hadir dalam uang Rupiah kertas TE 2016 ialah simbol garuda pancasila, simbol teks Negara Kesatuan Republik Indonesia dan gambar peta Indonesia, simbol teks “Bank Indonesia”, simbol teks “Seribu, Dua Ribu...Seratus Ribu Rupiah”,  simbol tanda tangan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia, simbol teks “Dengan Rahmat Tuhan…”, simbol pahlawan nasional, simbol tarian daerah, simbol tempat wisata alam, simbol bunga, dan simbol motif batik. Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat sebelas simbol utama dalam desain uang Rupiah kertas TE 2016. Kesebelas simbol tersebut memiliki makna yang mampu mengkonstruksi makna Autonomous, Unity, dan Identity yang menjadi unsur dalam nasionalisme. Makna Autonomous digambarkan melalui simbol teks “Bank Indonesia”, simbol tanda tangan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia, serta teks “Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa…”. Sementara itu konstruksi makna Unity digambarkan melalui simbol teks Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Peta Indonesia, simbol teks “Seribu, Dua Ribu…Seratus Ribu Rupiah”, dan simbol pahlawan nasional. Kemudian makna Identity terkonstruksi melalui simbol garuda pancasila, simbol tarian daerah, simbol tempat wisata alam, simbol bunga, dan simbol motif batik
IMPLEMENTASI REPOSITIONING L-MEN DALAM KEGIATAN KOMUNIKASI PEMASARAN Nur Ihsan, Mega Farras i; Hafiar, Hanny; Sani, Anwar
Communication Vol 7, No 2 (2016): COMMUNICATION
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi - Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (147.774 KB) | DOI: 10.36080/comm.v7i2.630

Abstract

AbstractThis research purpose is to know the communications strategy of L-Men, the product attributes of L-Men, and the positioning statement of the L-Men product in their repositioning strategy. The method used in this research is descriptive with qualitative data. The subject of this research is individuals involved in the implementation of L-men's repositioning, from the process of planning to implementation. The Data is obtained through passive participant observation, semi-structured interview, and literature. The result of this research shows that L-Men repositioning communication strategy with management L-Men consisted of brand marketing, digital, public relations, customer relations, promotions, and involvements of Perbasi and non-gym athletes as communicator, to bring out the message that L-Men is a product for those who desire ideal and athletic body shape, through media and face to face interaction with audience through events and programs, with target audiences ranging from 17 years old until 35 years old male who partake in healthy lifestyle and the needs of nutrients for the formation of muscle mass and improving sports performance, with the end goals of increasing the product awareness and also the number of sales. The attributes that L-men possessed in its repositioning strategy are packaging design, advertising concept, content marketing, and event. The repositioning as stated by the positioning statement is “Effective Nutrients for Male Ideal and Athletic Body Shape”.Keywords: implementation, repositioning, attributeAbstrakTulisan ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana strategi komunikasi yang dilakukan L-Men, bagaimana atribut-atribut produk yang disampaikan L-Men, serta untuk mengetahui bagaimana positioning statement baru yang dimiliki L-Men dalam menerapkan repositioning.Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan jenis data kualitatif. Subjek dalam penelitian mengenai hasil repositioning L-Men ini merupakan individu yang terlibat dalam pelaksanaan repositioning, dari masa perencanaan hingga pelaksanaan. Pengumpulan data diperoleh melalui observasi partisipasi pasif, wawancara semi terstruktur, dan studi pustaka.Hasil penelitian menjelaskan bahwa: Repositioning L-Men merupakan strategi komunikasi yang dilakukan oleh manajemen L-Men sebagai komunikator yang terdiri dari brand marketing, digital, public relations, customer relations, promotions (SPG), serta melibatkan pihak eksternal seperti Perbasi dan atlet-atlet non-gym, dengan pesan yang ingin disampaikan adalah L-Men merupakan produk untuk membentuk tubuh yang ideal dan atletis, melalui media serta berhadapan langsung dengan audiens melalui event dan program, dengan target sasaran pria berusia 17 sampai 35 tahun yang menyukai gaya hidup sehat dan membutuhkan nutrisi untuk pembentukan massa otot dan meningkatkan performa olahraga, dengan efek yang diharapkan adalah meningkatkan awareness produk dan meningkatkan jumlah penjualan. Atribut-atribut yang dimiliki L-Men dalam repositioning adalah desain packaging, konsep iklan, konten marketing, dan event. Repositioning ini dinyatakan dalam positioning statement, yaitu “Nutrisi Efektif untuk Pria Membentuk Tubuh Ideal dan Atletis”.Kata kunci: implementasi, repositioning, atribut
OPTIMALISASI FUNGSI HUMAS PEMERINTAH THE OPTIMIZATION OF GOVERNMENT PUBLIC RELATIONS FUNCTION Sani, Anwar
EDUTECH Vol 13, No 1 (2014): DINAMIKA PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/edutech.v13i1.3223

Abstract

Abstract, world democratization forces many organizations including the government in this case, of all types in many regions of the world, to consider giving more attention to the government public relations activities. The role will include contributing to good governance and respect for human rights. That would mean public relations in Indonesia, as elsewhere in Asia, will be involved in the development of public diplomacy. Aware of the problems as well as the demands of optimization and revitalization of the role of public relations in the era of reform, democratization and transparency of public information, Indonesian Ministry of Home Affairs issued the Regulation of the Minister of the Home Affairs (Permendagri ) No. 13 of 2011, in which it sets the Implementation Guidelines for PR Tasks in the milieu of Ministry of Home Affairs and Local Government. The regulation represents the desire of the Ministry of Home Affairs to fix the government's role and functions of public relations in its internal milieu. The research question of this study concerns how the understanding of the public relations officer in the Ministry of Home Affairs of the Permendagri 13/2011 and how the implementation of Permendagri 13/2011 by public relations officials of Ministry of Home Affairs. The method used was qualitative method using the theory of social constructs of reality and symbolic interaction. The results showed that public relations officials in the Ministry of Home Affairs understood that the regulation was to improve the professionalism of Public Relations of the Ministry of Internal Affairs and as an effort to encourage the active participation of the public. While the background history of the regulation discovered in the implementation, there were efforts to socialize the regulation; its impacts, constraints and solutions related to its implementation and other four main public relations activities of the Ministry of Home Affairs which include public information services, public affairs, content analysis of media and crisis management.Key words : government public relations, Regulation of the Minister of the Home Affairs 13/2011Abstrak, demokratisasi dunia memaksa organisasi, termasuk juga pemerintah dalam hal ini, dari semua jenis di banyak wilayah di dunia untuk mempertimbangkan memberikan perhatian lebih pada aktivitas kehumasan pemerintah. Peran yang akan mencakup kontribusi bagi pemerintahan yang baik dan menghormati hak asasi manusia. Itu akan berarti hubungan masyarakat di Indonesia, seperti di tempat lain di Asia, akan terlibat dalam upaya pengembangan diplomasi publik.Sadar akan persoalan sekaligus tuntutan optimalisasi serta revitalisasi peran humas pemerintah di era reformasi, demokratisasi dan transparansi informasi publik, Kementerian Dalam Negeri Indonesia (Kemendagri) mengeluarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 13 tahun 2011, yang di dalamnya mengatur Pedoman Pelaksanaan Tugas Kehumasan di Lingkungan Kementerian Dalam Negeri dan Pemerintah Daerah. Permendagri 13/2011 merepresentasikan keinginan Kementerian Dalam NegePertanyaan penelitian ini adalah bagaimana pemahaman para pejabat kehumasan di lingkungan Kemendagri terhadap Permendagri No.13 Tahun 2011 dan bagaimana implementasi Permendagri No.13 Tahun 2011 oleh pejabat kehumasan Kemendagri.Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan menggunakan teori kostruksi sosial atas realitas dan interaksi simbolik.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pejabat humas Kemendagri memahami Permendagri 13/2011 sebagai regulasi yang mendorong Humas Kemendagri untuk meningkatkan profesionalismenya dan merupakan upaya untuk mendorong partisipasi aktif publik. Sementara dalam implementasi Permendagri 13/2011 ditemukan beberapa latar belakang lahirnya Permendagri 13/2011, terdapat upaya sosialisasi Permendagri 13/2011, dampak, kendala serta solusi terkait implementasi Permendagri 13/2011 dan 4 aktivitas kehumasan utama Kemendagri yaitu layanan public information, public affairs, analisis isi media dan manajemen krisis.Kata Kunci : government public relations, humas pemerintahan, indonesia, permendagri 13/2011
EVALUATING THE SCHOOL TEXTBOOKS FROM THE PERSPECTIVE OF STUDENTS Rahmayani; Sani, Anwar; Selle, Amzah
Inspiring: English Education Journal Vol 1 No 1 (2018): Inspiring: English Education Journal
Publisher : Prodi Tadris Bahasa Inggris STAIN Parepare (IAIN Parepare)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.025 KB) | DOI: 10.35905/inspiring.v1i1.832

Abstract

This research examined about the students? need on the textbook and whether it is fulfilled their needs. The purpose was to find out the textbook acceptablity by analyzing the students? needs on their textbook according to the students opinion on it. This research used triangulation method such as interview, questionnaire, and observation. The primary data was taken from the interview, while the questionnaire and observation used as supporter or secondary data. The reseacher used wants analysis to find the students? need. The questions of the interview and questionnaire were designed and developed according to the evaluation domains. As the findings showed that the textbooks that are used in several senior high school in Parepare can be considered acceptable.
THE EFFECTIVENESS OF USING NATURAL APPROACH TO IMPROVE STUDENTS’ INTERACTION ABILITY AT THE SECOND GRADE OF SMAN 4 PINRANG Desy Lestary; Anwar Sani
Inspiring: English Education Journal Vol 1 No 2 (2018): Inspiring: English Education Journal
Publisher : Prodi Tadris Bahasa Inggris STAIN Parepare (IAIN Parepare)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (88.542 KB) | DOI: 10.35905/inspiring.v1i2.842

Abstract

This research aimed to know-how is the effectiveness of using Natural Approach to improve students? interaction ability. Students should have an ability to build interaction in order to actualize the function of language as device communication which occurs within classroom activity and create an interactive teaching and learning process so it must be considered to be improved. This study employed a collaborative classroom action research design where the writer and collaborator work together in conducting this study. The subject of this research was the 25 students of XI IPA 1 at SMAN 4 Pinrang in the academic year 2018-2019. This study was carried out in two cycles which conducted in three meetings for each cycle by taking classroom action research phases i.e. planning, action, observation, and reflection. This study was descriptive qualitative research which used observation checklist, interview, and questionnaire as instruments of collecting data. The result after analyzing data qualitatively showed that (1) by using Natural Approach, students could participate in performing instructions and conveying responses during teaching and learning process. (2) They were active in giving feedback, answering questions, moreover, doing interaction within classroom activity. (3) Every class activity of each Comprehension (Pre-production), Early Production, and Speech Emergence stages in the two cycles encouraged them to involve actively in the teaching and learning process. Those descriptions indicate the effectiveness of using Natural Approach to improve students? interaction ability.
AKTIVITAS SOS CHILDREN’S VILLAGES INDONESIA DALAM PENGELOLAAN EVENT THE UNPLUGGED FAMILY DAY Rahmi Wellina Putri; Hanny Hafiar; Anwar Sani
Jurnal Riset Komunikasi Vol 9, No 1 (2018)
Publisher : Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31506/jrk.v9i1.5903

Abstract

Penelitian ini berusaha untuk menggambarkan tahapan penelitian, desain, perencanaan, koordinasi, dan evaluasi yang dilakukan oleh SOS Desa Anak Indonesia yang diselenggarakan pada event The Unplugged Family Day 2016. Konsep dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah Special Event Management oleh Joe Goldblatt. Penelitian ini memperlihatkan bahwa penelitian yang dilakukan oleh tim management merupakan penelitian informal, yang dilaksanakan melaluui focus group discussion. Tahapan desain dilaksanakan melalui brainstorming untuk memutuskan ide utama event dengan memperhatikan pergerakan peserta, suara, dan warna, serta publikasi. Tahap perencanaan dilaksanakan dengan mempersiapkan komite, material untuk event, rundown acara, menentukan pengisi acara, undangan untuk media, dan hal-hal teknis lainnya yang terkait dengan persiapan event. Koordinasi internal dilaksanakan melalui pertemuan dan rapat yang dilakukan sebelumnya, serta diskusi dengan pihak eksternal seperti, pengisi acara, sponsor, dan media. Pada tahap evaluasi, tim mengevaluasi bagaimana jalannya event, media, dan respon peserta event. Kesimpulan penelitian memperlihatkan bahwa, tim management telah berhasil melaksanakan tahapan dalam special event management walaupun terdapat beberapa tahapan yang tidak terlaksana dengan baik. Kata kunci: evaluasi, event, management, perencanaan, special event.
Blind Code pada Uang Kertas Rupiah Pesan Komunikasi dan Komunikasi Pesan kepada Publik Disabilitas Netra Hanny Hafiar; Yanti Setianti; Priyo Subekti; Anwar Sani
Jurnal Kawistara Vol 10, No 3 (2020)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/kawistara.48865

Abstract

Mengenali nominal pada uang kertas merupakan salah satu kompetensi dasar yang harus dimiliki masyarakat. Walaupun uang kertas rupiah sudah dilengkapi dengan blind code (penanda khusus bagi disabilitas netra), namun, bagi sebagian penyandang disabilitas netra, terutama anak-anak yang mengalami hambatan penglihatan, mengenali nominal uang kertas menjadi tantangan unik dan kendala tersendiri. Oleh karena itu tujuan dari riset ini adalah untuk melakukan pemetaan kendala yang dihadapi disabilitas netra saat mengenali nominal uang kertas rupiah. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode studi kasus deskriptif, dengan kasus tunggal yang bersifat intrinsik. Pengumpulan data dilakukan, antara lain, dengan cara observasi, focus group discussion, dan studi dokumentasi. Teknik penentuan sampel dilakukan secara purposif terhadap populasi yang menjadi peserta pada pelaksanaan kegiatan sosialisasi blind code bagi penyandang disabilitas netra. Kegiatan ini menghadirkan pembicara dari pihak Bank Indonesia, dan berlokasi di SLBN A Kota Bandung. Adapun hasil pemetaan kendala menunjukkan bahwa perbedaan ukuran kertas untuk berbagai nominal pada uang kertas rupiah memberikan tantangan tersendiri bagi penyandang disabilitas netra. Selain itu, jenis kertas yang mudah lusuh, penggunaan blind code yang bervariasi pada beberapa emisi, keberadaan Blind code yang kurang tegas saat dilakukan perabaan, intaglio penanda lain acap kali mengaburkan konsentrasi penyandang disabilitas netra dalam mencari blind code. Warna dan gambar yang relatif mirip juga dianggap kurang memudahkan upaya penyandang disabilitas netra dalam mengenali uang kertas pada konteks transaksi yang membutuhkan waktu singkat.