Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Studi Aktivitas Reaksi Fotokatalisis Berbasis Katalis TiO2-Karbon Aktif Terhadap Mutu Air Limbah Power Plant Ade Sonya Suryandari; Asalil Mustain; Dana Wahyu Pratama; Inayatul Maula
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 3, No 2 (2019): October 2019
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.821 KB) | DOI: 10.33795/jtkl.v3i2.124

Abstract

Pengolahan air limbah merupakan proses mengolah air buangan yang sudah tidak terpakai untuk dapat dikembalikan ke siklus air di lingkungan. Unit Waste Water Treatment Plant (WWTP) PT. Indonesia Power digunakan untuk mengolah air limbah yang berasal dari berbagai sumber salah satunya yaitu HRSG Sump Pit. Buangan air limbah yang berasal dari HRSG Sump Pit memiliki kandungan fosfat dikarenakan adanya penambahan fosfat pada unit sebelumnya yang bertujuan sebagai inhibitor proses korosi. Karakteristik limbah cair dapat ditentukan dari beberapa parameter diantaranya nilai pH, optical density (OD), dan kadar fosfat. Pengolahan air limbah dilakukan agar limbah cair yang dihasilkan dapat memenuhi baku mutu yang dipersyaratkan sebelum dibuang ke lingkungan. Penelitian ini dilakukan dengan mengaplikasikan reaksi fotokatalisis berbasis katalis TiO2/karbon aktif pada berbagai komposisi katalis dan durasi penyinaran. Proses fotokatalisis dilakukan dengan penambahan katalis pada perbandingan komposisi TiO2/karbon aktif 10:1, 5:1, 3:1 dan 2:1. Sedangkan lama waktu penyinaran 3, 4, 5, dan 6 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pH terendah sesuai baku mutu yaitu 8,13 dan penurunan kadar fosfat sebesar 70,12% mampu dicapai pada komposisi katalis TiO2/karbon aktif 3:1 dengan durasi penyinaran 5 jam. Penurunan OD tertinggi dicapai pada kondisi perbandingan komposisi katalis TiO2/karbon aktif 10:1 dan durasi penyinaran 6 jam yaitu sebesar 98,86%.Water treatment is the process of treating water discharges that are not used to be discarded into the environment. Wastewater Treatment Unit Plant (WWTP) of PT. Indonesia Power is used to treat wastewater coming from several sources, one of which is HRSG Sump Pit. Wastewater from the HRSG Pit contains phosphate which is related to the phosphate addition in the previous unit which is needed as an inhibitor of corrosion process. The characteristics of liquid waste can be determined from several parameters such as pH value, optical density (OD), and phosphate content. Wastewater treatment is carried out to obtain liquid waste which comply to the quality standards before being discarded into the environment. This research was carried out by applying the photocatalysis reaction based on catalyst TiO2-activated carbon with various catalyst compositions and irradiation duration. The process of photocatalysis was carried out by adding catalysts to the ratio of the composition of TiO2 / activated carbon 10:1, 5:1, 3:1 and 2:1. While the irradiation time is 3, 4, 5 and 6 hours. The results show that the lowest pH according to quality standards was 8.13 and a reduction in phosphate content of 70.12% was achieved in the 3: 1 TiO2/activated carbon catalyst composition with a 5-hour irradiation duration. The highest OD reduction was achieved under the condition ratio of catalyst composition of TiO2/activated carbon 10:1 and the irradiation duration of 6 hours that was equal to 98.86%.
PENENTUAN SUHU OPTIMUM BOTTOM COLUMN DALAM PEMURNIAN TRIASETIN MENGGUNAKAN SIMULASI CHEMCAD 7.1.5 Putri, Vemmy N.A.; Suryandari, Ade Sonya
DISTILAT: JURNAL TEKNOLOGI SEPARASI Vol 6, No 1 (2020): Distilat: Jurnal Teknologi Separasi
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v6i1.54

Abstract

Perkembangan biodiesel di Indonesia mengakibatkan kenaikan kebutuhan triasetin sebagai aditif bahan bakar. Manfaat triasetin selain untuk manaikkan nilai oktan juga dapat digunakan sebagai anti-knocking. Kemurnian produk triasetin sebagai bahan aditif minimal sebesar 99,8% ditetapkan dalam perancangan ini. Maka dari itu pemurnian triasetin menjadi salah satu proses penting dalam produksi. Proses distilasi dipilih dalam pemurnian triasetin dari sisa reaktan maupun produk samping karena terdapat perbedaan volatilitas setiap komponennya. Maka dari itu untuk mengoptimumkan pemurnian triasetin melalui proses distilasi untuk mendapatkan kemurnian tinggi dengan mempertimbangkan jumlah produk dilakukan simulasi proses produksi triasetin menggunakan CHEMCAD 7.1.5. Simulasi difokuskan pada penentuan suhu optimum pada bottom product kolom distilasi dengan melakukan trial mulai dari suhu 258°C. Hasil yang didapatkan semakin tinggi suhu bottom product maka semakin tinggi kemurnian triasetin namun produk yang dihasilkan semakin sedikit. Sehingga dari simulasi yang talah dilakukan suhu optimum bottom product dalam proses pemurnian triasetin sebesar 273°C dengan kemurnian 99,84% dan jumlah produk sebanyak 2402,65 kg/jam.
Produksi Biodiesel dari Minyak Jelantah dengan Katalis Heterogen CaO dari Limbah Cangkang Telur Suryandari, Ade Sonya; Ardiansyah, Zainur Risky; Putri, Vemmy Nurmala Andhani; Arfiansyah, Ilham; Mustain, Asalil; Dewajani, Heny; Mufid, Mufid
Jurnal Rekayasa Bahan Alam dan Energi Berkelanjutan Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nowadays, the substitute for biofuel diesel fuel is biodiesel. Waste cooking oil has the potential as a biodiesel feedstock due to its environmentally friendly, inexpensive, reduces household waste and does not compete with food needs. One effort that can be done is to use CaO catalyst from eggshell waste. Eggshells contain 95,28% CaCO3 which can be calcined to produce CaO. In this research, production of biodiesel is done by using waste cooking oil and CaO catalyst from eggshells with various variables to determine the best calcination conditions in the preparation of the catalyst. The eggshells were calcined at variable temperatures (600,700,800 and 900°C) during the time variables (2,3,4 and 5 hours). The operating conditions in the transesterification reaction were at 60°C for 2hours with a stirring speed of 700rpm and a mole ratio of oil and methanol of 1:12. The results obtained, the best calcination conditions in producing CaO catalysts were at a temperature of 800°C for 2 hours with 78,31% mass recovery. In addition, the transesterification reaction using the best catalyst produced 97,2% FAME with a density of 0,8549 gr/mL and a viscosity of 9,58 cSt.
Studi Kinetika Reaksi Metanolisis Pembuatan Metil Ester Sulfonat (MES) Menggunakan Reaktor Batch Berpengaduk Abdul Chalim; Agung Ari Wibowo; Ade Sonya Suryandari; Muhammad Muhajjir Syarifuddin; Moh. Tohir
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 1, No 1 (2017): October 2017
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1021.599 KB) | DOI: 10.33795/jtkl.v1i1.23

Abstract

Surfaktan merupakan surface active agent yang banyak diaplikasikan dalam bidang industri kimia berkaitan dengan kemampuannya menstabilkan emulsi antara fasa minyak dan fasa air. Surfaktan berbasis minyak nabati merupakan pengembangan teknologi di bidang surfaktan yang selama ini didominasi oleh surfaktan berbahan baku minyak bumi. Metil ester sulfonat (MES) adalah surfaktan anionik yang dihasilkan melalui reaksi antara metil ester asam lemak dengan agen pensulfonasi atau yang lebih dikenal dengan reaksi sulfonasi. MES mengalami proses lanjutan yang disebut dengan reaksi metanolisis dan netralisasi. Penelitian ini mempelajari pengaruh rasio mol reaktan, waktu reaksi dan suhu reaksi terhadap yield MES pada reaksi metanolisis. Yield MES tertinggi yaitu 49,71% dicapai pada suhu reaksi 120°C, waktu reaksi 120 menit dan rasio mol MES terhadap metanol 1:3. Konstanta laju reaksi metanolisis ditentukan dengan mereaksikan reaktan di dalam reaktor batch berpengaduk pada kondisi operasi tersebut.Surfactant is a surface active agent which is widely applied in chemical industry related to its ability to stabilize the emulsion between the oil phase and the water phase. Surfactant-based on vegetable oil is a technology developed in the field of surfactant which has been dominated by surfactants made from petroleum. Methyl ester sulfonate (MES) is an anionic surfactant produced by the reaction between fatty acid methyl ester with a sulfonating agent or called as sulfonation reaction. MES undergoes an advanced process called methanolysis and neutralization reactions. This study investigated the effect of reactant molar ratio, reaction time and reaction temperature on MES yield on methanolysis reaction. The highest MES yield of 49.71% was achieved at a reaction temperature of 120°C, the reaction time of 120 minutes and the molar ratio between MES and methanol of 1:3. The rate constants of methanolysis reactions are determined by reacting the reactants in the stirred batch reactor under those operating conditions.
Characterization and Preparation of Ni/γAl2O3 Catalyst for Acetylation of Glycerol in a Fixed Bed Reactor Applied as an Octane Booster for Commercial Fuels Dewajani, Heny; Chumaidi, Achmad; Suryandari, Ade Sonya; Dewi, Ernia Novika; Ahsan, Muhammad Hafizh
Jurnal Bahan Alam Terbarukan Vol 10, No 2 (2021): December 2021 [Nationally Accredited - Sinta 2]
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jbat.v10i2.32196

Abstract

Glycerol is a by-product of biodiesel production with the amount of 10% of the total biodiesel product. To increase the utility and economic value of glycerol, it can be processed into several derivative products. One of the glycerol derivative products is currently being developed through the acetylation process. Glycerol acetylation product has been investigated as a component that can be used to increase the octane number of commercial fuels, otherwise known as bio-additives or octane boosters. This study aims to convert glycerol from the by-product of biodiesel production through the acetylation process using a modified solid catalyst Ni/γ-Al2O3 in a fixed bed reactor. The focus of this research is to study the effect of reactant flow rate and the mole ratio of glycerol to acetic acid on glycerol conversion. The variations used were flow rates of feed from 40, 60, 80 and 100 ml/minute, and the mole ratio of glycerol to acetic acid was 1:3, 1:5, 1:7, and 1:9. The experiment was carried out in several stages, namely: preparation and modification of the catalyst, the acetylation process and product application into commercial fuels. The acetylation reaction took place at a temperature of 100 °C and the mass of the catalyst used was 5% of the mass of glycerol. The results showed that the highest conversion of 74.24% was achieved under operating conditions with a reactant flow rate of 40 ml/min and glycerol to acetic acid mole ratio of 1:9. The utilization of acetylation products as bio-additives is carried out by adding reaction products to Pertamax fuel. The highest increase in octane number of Pertamax fuel at the addition of 8% volume of acetylation product from the initial octane number of 93 increased to 102 (increased by 10%).
Encapsulation of Clove Oil within Ca-Alginate-Gelatine Complex: Effect of Process Variables on Encapsulation Efficiency Agung Ari Wibowo; Ade Sonya Suryandari; Eko Naryono; Vania Mitha Pratiwi; Muhammad Suharto; Naila Adiba
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 5, No 1 (2021): April 2021
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/jtkl.v5i1.214

Abstract

Karena memiliki khasiat seperti analgesik, minyak cengkeh biasa digunakan sebagai obat, antibakteri, antioksidan, dan antimikroba. Kemungkinan enkapsulasi minyak cengkeh sebagai makrokapsul padat dipelajari dengan pembuatan makrokapsul Ca-Alginate-Gelatine. Variabel proses yang digunakan adalah variasi konsentrasi alginat 1% dan 1,5% b / v, dan perbandingan massa antara alginat-gelatin divariasikan antara 1: 4, 1: 6, dan 1: 8 w /w. Selain itu, variasi konsentrasi CaCl2 (10%, 20% dan 30% w / v) sebagai cross-linking agent pembentukan kompleks Ca-Alginate juga digunakan sebagai variabel proses. Peningkatan konsentrasi alginat, gelatin dan CaCl2 nampaknya menurunkan efisiensi enkapsulasi karena terbatasnya volume ruang bebas yang terbentuk pada matriks Ca-Alginat-Gelatin. Efisiensi enkapsulasi tertinggi (93,08%) diperoleh pada penggunaan Alginat 1% w / v, dengan perbandingan alginat dengan gelatin 1: 4 dan ikatan silang dalam larutan CaCl2 10% w / v selama 15 menit.Owing to the properties such as analgesic, clove oil is commonly used as medicine, antibacterial, antioxidant, and antimicrobial drugs. The possibility of clove oil encapsulation as a solid macrocapsule was studied by making Ca-Alginate-Gelatine macrocapsules. The process variables used were variations in Alginate concentration of 1% and 1.5% w/v, and the mass ratio between alginate-gelatine was varied between 1: 4, 1: 6, and 1: 8 w/w. In addition, variations in the concentration of CaCl2 (10%, 20% and 30% w/v) as a cross-linking agent for the formation of Ca-Alginate complexes were also used as process variables. The increase of alginate, gelatine and CaCl2 concentration seems to decreased the encapsulation efficiency because of the limitation of the free space volume formed in the Ca-Alginate-Gelatine matrix. The highest encapsulation efficiency (93.08%) was obtained in the use of Alginate 1% w/v, with a ratio of alginate to gelatine 1: 4 and cross-linking in a 10% w/v CaCl2 solution for 15 minutes.
Review: Potensi Tandan Kosong Kelapa Sawit sebagai Bahan Baku Pembuatan Bioetanol dengan Metode Fed Batch pada Proses Hidrolisis Christyfani Sindhuwati; Asalil Mustain; Yasinta Octaliya Rosly; Andika Soharmat Aprijaya; Mufid Mufid; Ade Sonya Suryandari; Hardjono Hardjono; Sri Rulianah
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 5, No 2 (2021): October 2021
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/jtkl.v5i2.224

Abstract

Peningkatan kebutuhan energi terutama bahan bakar minyak yang tidak diimbangi dengan ketersediaan sumber energi tak terbarukan akan mengakibatkan kelangkaan energi. Pembuatan bahan bakar terbarukan merupakan solusi untuk mengatasi kelangkaan tersebut, salah satunya bioetanol. Biomassa Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) merupakan bahan baku yang cocok untuk pembuatan bioetanol karena jumlahnya yang melimpah dan mengandung lignoselulosa. Bioetanol dapat diperoleh melalui proses fermentasi dengan metode yang digunakan adalah Fed Batch Simultaneous Saccharification Fermentation. Pretreatment berupa size reduction dan delignifikasi direkomendasikan sebelum proses hidrolisis enzimatik dan fermentasi secara serentak. Metode pengumpanan Fed Batch pada High Total Solid Loading (HTSL) direkomendasikan sebagai strategi pengumpanan pada proses hidrolisis enzimatik dengan jumlah frekuensi yang tinggi memberikan hasil kadar etanol lebih tinggi.The enhancement of energy needs, especially fuel, that is not complemented by the availability of non-renewable energy sources, would affect the deficient of energy. The production of renewable fuel such as bioethanol is a solution to overcome that deficiency. One of the substrates that are appropriate to be processed into bioethanol is Oil Palm Empty Fruit Bunch (OPEFB) because of abundant and lignocellulosic biomass. Bioethanol can be produced through the fermentation process by Fed-Batch Simultaneous Saccharification Fermentation method. Size reduction and delignification for pretreatment are recommended before the simultaneous enzymatic hydrolysis process and fermentation. Using the fed-batch as a feeding method of High Total Solid Loading (HTSL) is recommended for feeding strategy in hydrolysis enzymatic process with high frequency that can produce a higher yield of ethanol.
Sintesis Asam Oksalat Dari Limbah Serbuk Kayu Jati (Tectona Grandis L.F.) Dengan Proses Hidrolisis Alkali Mufid Mufid; Agung Ari Wibowo; Ade Sonya Suryandari; An Nisaa’ Fithriasari; Pravianti Anindita Nastiti
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 2, No 1 (2018): April 2018
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1111.331 KB) | DOI: 10.33795/jtkl.v2i1.57

Abstract

Selulosa adalah polisakarida rantai panjang penyusun serat pada tumbuhan. Hidrolisis selulosa dengan alkali kuat menghasilkan asam oksalat, asam asetat dan asam formiat. Limbah serbuk kayu jati berpotensi untuk dijadikan bahan baku pembuatan asam oksalat karena kandungan selulosa yang cukup tinggi. Hidrolisis yang dilakukan pada penelitian ini menggunakan natrium hidroksida (NaOH) sebagai zat penghidrolisis. Purifikasi asam oksalat dilakukan dengan penambahan kalsium klorida dan asam sulfat. Penelitian ini mempelajari pengaruh konsentrasi natrium hidroksida dan waktu reaksi terhadap yield asam oksalat. Produk tertinggi dengan yield 20% dicapai pada penggunaan serbuk kayu jati kasar dengan waktu hidrolisis 60 menit dan konsentrasi NaOH 1 N.Cellulose is a long chain fiber polysaccharide contained in plants. Hydrolysis of cellulose with strong alkali produces oxalic acid, acetic acid and formic acid. Waste from teak wood in powder formhas the potential to be used as raw material for the manufacture of oxalic acid because the content of cellulose is high enough. Sodium hydroxide (NaOH) as a hydrolysis agent was used in this study. Purification of formed oxalic acid was carried out by addition of calcium chloride and sulfuric acid. Our research studied the effect of sodium hydroxide concentration and reaction time on oxalic acid yield. The highest product with a yield of 20% was achieved on the use of coarse powder of teak wood waste with a hydrolysis time of 60 minutes and the concentration of NaOH 1 N.
STUDI PENGARUH KONSENTRASI UMPAN GLISEROL PADA PROSES PEMURNIAN TRIASETIN BERBASIS CHEMCAD Nurhaning Ilmika Nugraheny; Ade Sonya Suryandari
Jurnal Chemurgy Vol 4, No 1 (2020): Jurnal Chemurgy-Juni 2020
Publisher : Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (215.611 KB) | DOI: 10.30872/cmg.v4i1.4076

Abstract

Gliserol merupakan produk samping dari biodiesel yang dihasilkan dari proses transesterifikasi. Melalui reaksi esterifikasi gliserol dengan asam asetat akan membentuk triasetin. Triasetin merupakan bahan baku terbarukan serta ramah lingkungan yang dapat meningkatkan nilai oktan dan anti-knocking pada mesin mobil. Gliserol merupakan bahan baku utama yang dapat mempengaruhi kemurnian produk triasetin. Pengaruh konsetrasi umpan gliserol dalam penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemurnian triasetin. Kemurnian produk triasetin minimal 99,8% di tetapkan dalam penelitian ini. Untuk mendapatkan triasetin dengan kemurnian dan jumlah yang tinggi dapat dilakukan dengan mempertimbangkan konsentrasi umpan gliserol pada simulasi ChemCAD. Simulasi dilakukan dengan mengutamakan penentuan konsentrasi gliserol pada aliran feed tank dengan melakukan trial mulai konsentrasi 90%. Hasil yang di dapatkan semakin tinggi konsentrasi gliserol akan dihasilkan jumlah produk triasetin yang semakin banyak, namun semakin tinggi konsentrasi gliserol akan di dapatkan produk triasetin dengan kemurnian rendah. Sehingga dari simulasi yang telah dilakukan konsentrasi gliserol optimum adalah 99% dan jumlah produk triasetin sebesar 2339 kg/jam dengan kemurnian 99,94%. Kata Kunci : ChemCAD, Feed Tank, Gliserol, Triasetin 
STUDI PENGARUH PRESSURE DROP TERHADAP EFISIENSI HEAT RECOVERY STEAM GENERATOR#1.2 BERBASIS SIMULASI CHEMCAD Inayatul Maula; Asalil Mustain; Ade Sonya Suryandari; Akhmad Hariadi
DISTILAT: JURNAL TEKNOLOGI SEPARASI Vol 7, No 1 (2021): Februari 2021
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v7i1.184

Abstract

PLTGU (Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap) adalah instalasi pembangkit listrik yang menggunakan tenaga gas dan uap untuk menghasilkan listrik. Bahan bakar yang digunakan pada PLTG berupa gas alam yang dibakar pada ruang bakar dengan udara dari atmosfer yang telah dikompres. Hasil dari pembakaran gas alam menghasilkan gas yang memiliki tekanan dan temperatur tinggi yang akan memutar turbin gas. Gas buang dari Gas Turbine (GT) masih memiliki tekanan dan temperature yang tinggi sehingga dimanfaatkan kembali sebagai media pemanas dari Heat Recovery Steam Generator (HRSG). Fungsi HRSG adalah untuk memanaskan air menjadi steam yang memiliki tekanan dan temperatur tinggi. Steam hasil dari HRSG akan memutar sudu-sudu turbin yang nantinya akan menghasilkan listrik. Adanya peranan penting HRSG, maka perlu dilakukan perhitungan efisiensi panas HRSG blok 1.2. Tujuan penelitian adalah mempelajari pengaruh variasi pressure drop terhadap efisiensi HRSG. Jumlah energi yang dibutuhkan untuk mengubah air menjadi uap dan juga energi yang disuplai dari gas buang turbin dapat diketahui dengan simulasi software ChemCAD. Jumlah energi yang hilang juga dapat diketahui dengan simulasi software ChemCAD 7.1.2. Hasil simulasi software ChemCAD dengan melakukan case study yang memvariasikan pressure drop pada alat LNG Exchanger didapatkan efisiensi panas HRSG 1.2 sebesar 51,296% dan heat losses sebesar 176852833,33 kJ/jam.