cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Syifa al-Qulub
ISSN : 25406445     EISSN : 25406453     DOI : -
Core Subject : Health,
Syifa al-Qulub adalah Jurnal Prodi Tasawuf Psikoterapi Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Terbit enam bulan sekali (Januari dan Juli). Materi yang dipublikasikan merupakan hasil kajian dan penelitian. Jurnal Syifa al-Qulub memiliki tujuan memperluas wawasan, paradigma, konsep dan teori dibidang Tasawuf, Psikoterapi dan Konseling perspektif Islami dan Sufi.
Arjuna Subject : -
Articles 96 Documents
SPIRITUALITAS DAN KERESAHAN MANUSIA MODERN Hasan Mud'is
Syifa al-Qulub Vol 1, No 1 (2016): Juli, Syifa al-Qulub
Publisher : Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/saq.v1i1.3147

Abstract

In the life of modern society, a man underwent a spiritual downfall. Rationalism, empiricism, and pragmatism have become a significant thought for every man. God, paradise, and hell is no longer a frightening problem because it is considered obsolete and irrational. Man becomes master for himself. Man is driven to think about this worldly life. Because of neglecting spiritual needs, a modern man did not find a peaceful spiritual life. It means there is no balance in himself. Modernism is not able to fulfill spiritual needs of man. It is no surprised if now man makes serious efforts together to fulfill his spiritual needs by filling spiritual emptiness and searching the meaning of life.
PENGARUH AGAMA TERHADAP KESEHATAN MENTAL Rifki Rosyad
Syifa al-Qulub Vol 1, No 1 (2016): Juli, Syifa al-Qulub
Publisher : Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/saq.v1i1.3149

Abstract

Sejak awal abad ke-19 ahli kedokteran mulai menyadari adanya hubungan antara penyakit fisik dengan kondisi psikis manusia. Manusia bisa menderita gangguan fisik karena gangguan mental (somapsikotis) dan sebaliknya gangguan mental dapat menyebabkan penyakit fisik (psikosomatis). Di antara berbagai faktor mental yang diidentifikasi memiliki potensi menimbulkan gejala tersebut adalah keyakinan agama. Hal ini antara lain disebabkan sebagian dokter beranggapan bahwa penyakit mental  (mental illness) tidak ada hubungannya dengan penyem-buhan medis. Di samping itu banyak para penderita penyakit mental dapat disembuhkan melalui pendekatan keagamaan. Berdasarkan banyaknya kasus yang ditangani di kliniknya, para psikolog sampai pada satu keyakinan tentang pentingnya peran yang dimainkan agama dalam menyembuhkan kesehatan mental. Di antara para psikolog besar tersebut adalah Carl Gustav Jung, Alphonse Maeder, Victor E. Frankl, William James, Koenig dll. Kepercayaan, keimanan dan pengalaman keagamaan diyakini memiliki pengaruh yang terhadap kesehatan fisik maupun kesehatan mental. Secara umum dapat dikatakan bahwa orang beragama hidup lebih sehat dibanding mereka yang tidak beragama. Mengingat agama sangat berpengaruh dalam membentuk dan meme-lihara kesehatan jiwa, maka menjadi satu kemestian untuk memberikan pendidikan agama kepada peserta didik pada umumnya dan khususnya kepada anak-anak. Permasalahan adalah apa yang diajarkan dan bagai-mana mengajarkan pendidikan agama tersebut agar tercapai tujuan yang diharapkan. Pendidikan agama yang keliru baik dari sisi materi maupun caranya akan menumbuhkan sikap dan cara beragama yang salah, seperti fanatisme, eksklusif, wawasan sempit, dan prejudice. Sikap dan cara beragama seperti adalah ciri orang beragama tetapi dengan tingkat kecerdasan spiritual (SQ) yang rendah.
MUKASYAFAH: PERSPEKTIF SUFISTIK Cucu Setiawan
Syifa al-Qulub Vol 1, No 1 (2016): Juli, Syifa al-Qulub
Publisher : Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/saq.v1i1.3150

Abstract

Mukasyafah is an individual state of people, to person is given by God (Allah Swt) and the function is abstract things and its only known by founder and God. The Spreading of massage it’s large founded, maybe it can cause fitna or negatives adjustment or can cause bad emotion like ujub (think perpect of self) and the effect can destroyed values of research.  
PSIKOLOGI ISLAMI (Sebuah Pendekatan Alternatif Terhadap Teori-teori Psikologi) muhtar Gojali
Syifa al-Qulub Vol 1, No 1 (2016): Juli, Syifa al-Qulub
Publisher : Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/saq.v1i1.3157

Abstract

Secular psychology has undergone an out of ideas in understanding the attitude and the uniqueness of human being. According to this psychology, all of human attitudes stand on physical-psychological, educational, and social-cultural dimentions, so that it is not able to answer the deepest aspect of transcendent human attitudes. Islamic psychology offers an integral concept based on revelation on the uniqueness of human being by studying the structure of man, namely what we called latha’if consist of nafs, qalb, aql, and ruh. These four components moved various potentials of man. Therefore, without abolishing the discoveries of seculer psychology, the perception of Islamic psychology was built based on Quranic verses, painted in the universe (afaq) and written in the human itself (nafsani). Islamic psychology has to be seen as an effort to open the sacret of divine laws (sunnatullah) in the human being itself (nafsani verses), to study and to discover various pillars, elements, processes, functions and laws on the psychological aspects of human being.
SPIRITUALITAS DALAM MUHAMMADIYAH Iu Rusliana
Syifa al-Qulub Vol 1, No 1 (2016): Juli, Syifa al-Qulub
Publisher : Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/saq.v1i1.3158

Abstract

Actually, Muhammadiyah is not anti-spirituality and sufism. However, its founder, KH Ahmad Dahlan like to use the term akhlaq despite sufism. It is caused that for him, sufism did not originate from the Quran and the Prophetic Tradition. Beside that, sufism is also identical with the implementation of religious teaching based on the guides of sufis and mursyids that are nearer to the superstitions, heresies and myths. Essencially, according to Mukti Ali, Muhammadiyah has implemented what is called sufism in the form of high social akhlaq. Theoritically, the spirituality of Muhammadiyah is nearer to modern sufism of Buya Hamka.
MEMBACA PIKIRAN MANUSIA: ANALISIS SISI NEGATIF PIKIRAN MANUSIA KAITANNYA DENGAN PENYAKIT TUBUH mulyana mulyana
Syifa al-Qulub Vol 1, No 1 (2016): Juli, Syifa al-Qulub
Publisher : Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/saq.v1i1.3159

Abstract

Human mind is the first source for health, and the sickness of body is originated from his own mind. What is mean by this mind? Thinking positively will cause human body to be health, and thinking negatively will cause human body to be sick.
ILUSI DAN DUA KALIMAT SYAHADAT DALAM PEMIKIRAN MAHMUD MUHAMMAD THAHA Bambang Qomaruzzaman
Syifa al-Qulub Vol 1, No 1 (2016): Juli, Syifa al-Qulub
Publisher : Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/saq.v1i1.3160

Abstract

Inti penting dari kehadiran agama adalah bahwa ia dapat menyuguhkan suatu formula yang dapat menyelematkan manusia untuk menempuh proses hidup di dunia. Syaratnya, hanya jika manusia tidak terjebak pada “jalan kesementaraan” dan “jalan kebutaan” yang sering jadi jembatan bagi munculnya ilusi. Ilusi adalah kepercayaan yang lahir dari ketiadaan daya fikir manusia dan kemudian menganggap agama atau pun kebenaran selalu telah ajeg dan selesai sekali dirumuskan. Ilusi jugalah yang telah menyebabkan manusia teralienasi. “Keimanan” terhadap agama atau pun kebenaran yang selesai sekali dirumuskan mengakibatkan  manusia terasing dari kekinian karena ia  tidak memiliki identitas. Bagi Thaha, seperti ditelisik oleh penulis artikel ini, prinsip dasar yang dapat membangkitkan identitas dan harga diri manusia adalah kepercayaan dan pensikapan yang aktif atas kalimat syahadatain. Kalimat syahadatain adalah sejenis inisiasi yang mampu mengalirkan energi tauhid ke dalam kepribadian seorang manusia dan masyarakat sekaligus sebagai pembebas dari ilusi. Dalam rumusan yang singkat dapat dikatakan bahwa, kalimat syahadatain adalah suatu scientia sacra yang bisa mengantarkan manusia pada “pertemuan antara Allah sebagaimana adanya dengan manusia sebagaimana adanya.
TASAWUF NABAWI: (Membaca Maqom Rido Dalam Hadis Nabi) Agus Suyadi Raharusun
Syifa al-Qulub Vol 1, No 1 (2016): Juli, Syifa al-Qulub
Publisher : Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/saq.v1i1.3161

Abstract

Wacana hadis dan tasawuf sering menampilkan perbedaan konseptual dalam perbandingan syari’at versus hakekat yang berujung pada pertentangan konseptual. Hadis sering dipotret sebagai amal sunnah yang disandar kepada Rasulullah sering dipertentangkan dengan tasawuf yang disimbolkan sebagai potret amalan yang disandarkan kepada riyadhoh seorang sufi.Artikel ini akan menelusuri salah satu amalan sufistik yakni rido dalam kitab-kitab hadis. Secara  detail,  maqom rido sebagai salah satu amalan tasawuf akan ditelusuri dalam alur periwayatan  hadis yang bermuara kepada praktek sunnah qouliyah dan fi’liyah Rasulullah pada masanya. Proses ini akan mengantarkan kepada kesimpulan bahwa tidak ada pertentangan antara tasawuf dan hadis. Justru keselarasan keduanya akan tampak semakin jelas. Karena misi tasawuf melalui konsep dan amalan para mursyid-nya tak pernah bisa dilepaskan dari misi mulia sang ‘mursyid agung’, Rasulullah Saw. sebagai  penyempurna akhlaq  manusia. Dari sinilah konsep tasawuf nabawi bisa dimulai.
SIGNIFIKANSI TASAWUF: SOLUSI PENCARIAN MAKNA HIDUP Muhtar Sholihin
Syifa al-Qulub Vol 1, No 1 (2016): Juli, Syifa al-Qulub
Publisher : Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/saq.v1i1.871

Abstract

Manusia di abad modern sosok mahluk yang tidak tergantung lagi pada otoritas yang berada di luar dirinya (Tuhan). Karena itu, masa modern adalah masa di mana manusia tidak lagi berterima-kasih kepada Tuhannya, tetapi berterima-kasih kepada kemampuan dan otonominya sendiri. Namun, karena kepercayaan yang berlebihan terhadap status dan kemampuan yang dimilikinya, manusia modern—dalam pemahaman para perennialis—telah menyebabkan dirinya terpelanting  dari “lingkar-an eksistensi”. Akibatnya, manusia modern dihadapkan pada persoalan baru tentang bagaimana menemukan dunia dan memaknainya. Rasio (pengetahuan) yang pada awalnya dipercayai dapat menjadi arah bagi penemuan dunia dan makna hidup, pada kenyataannya tak mampu memberikan jaminan yang memuaskan. Rasio (pengetahuan) telah menyebabkan manusia teralienasi dari dirinya sendiri. Dalam pemahaman tradisi spiritual (tasawuf), derita manusia modern ini sebenarnya dapat “diselesaikan”, yaitu dengan melakukan “transendensi”. Sebuah kesadaran yang mengimani bahwa kehidupan ini tidak hanya berhenti pada realitas profan tapi berpuncak pada realitas yang mutlak (ultimate reality). Lebih dari itu, transendensi adalah proses dan upaya menemukan The Great Chain Being (Rangkaian Besar Keberadaan).
Konsep Mahabbah Imam Al-Tustari (200-283 H) Yayan Mulyana
Syifa al-Qulub Vol 1, No 2 (2017): Januari, Syifa al-Qulub
Publisher : Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/saq.v1i2.1427

Abstract

Cinta (mahabbah) merupakan tujuan paling agung seorang ‘abid, dan, maksud yang paling mulia seorang yang ta’at kepada Allah. Banyak orang yang mengaku sebagai pecinta tetapi sungguh mereka bukan pecinta sejati. Allah menjelaskan siapa pecinta sejati (Q.S. Ali- Imran [3]:31), cinta bagi, untuk dan dari Allah senantiasa bertambah seiring bertambahnya iman (Q.S. Al-Baqarah [2]:165), cinta menyelamatkan orang mukmin dari ‘adzab Allah di dunia dan akhirat (Q.S. Al-Maidah [5]:18), merupakan anugerah dan pemberian Allah, dan pecinta sejati adalah mujāhid fῑ sabῑlillah Q.S. Al-Maidah [5]:54), dan pecinta selalu bersama kekasihnya (H.R. Bukhori Muslim). Alquran dan Hadis merupakan sumber ajaran tasawuf dan di tangan para sufi konsep mahabbah dikembangkan melalui proses internalisasi dan penajaman spiritual. Sudah banyak pembahasan tentang mahabbah dari para tokoh sufi ternama, namun untuk tokoh yang satu ini luput dari perhatian, padahal ia merupakan tokoh sufi generasi awal yang ajarannya banyak dibicarakan, dikutip dan mempengaruhi para ulama tasawuf sesudahnya. Sudah barang tentu banyak terdapat persamaan dan perbedaan antara dia dengan tokoh sufi lainnya. Tokoh sufi yang dimaksud penulis adalah Sahl bin Abdillah al-Tustarῑ. Selain sebagai ulama tasawuf beliau juga seorang mufasir, Tafsῑr al-Qur’ān al-‘Aẓῑm merupakan karya tafsirnya yang diakui oleh para mufasir sebagai icon tafsir sufi isyari. Diantara karyanya di bidang tasawuf yaitu Daqāiq al-Muhibbῑn, Mawā’iẓ al-‘Arifῑn, Jawābāt Ahl al-Yaqῑn, dan Al-Ghāyah li Ahl al-Nihāyah. Baginya mahabbah merupakan anugerah, pemberian dan karunia dari Allah dan bukan hasil amaliah dan usaha (kasb), ia merupakan pancaran atau limpahan dari Allah tanpa menunggu (intiẓār) atau permintaan dari seorang hamba.

Page 1 of 10 | Total Record : 96