Irawaty Irawaty
Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara Jl. Tridarma Ujung No.1 Kampus USU, Medan 20155

Published : 15 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

PENYEBAB PERBEDAAN JUMLAH MAHAR DALAM KAWIN PINANG (PIKA BHEKA-BHEKA) PADA MASYARAKAT ETNIS CIA CIA (STUDI DI DESA WABULA KECAMATAN WABULA KABUPATEN BUTON PROVINSI SULAWESI TENGGARA) Santi, Santi; A, Salimin; Irawaty, Irawaty
SELAMI IPS Vol 12, No 2 (2019): JURNAL JURUSAN PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/selami.v12i2.10846

Abstract

Abstrak: Tujuan dari  penelitian ini yaitu: a. untuk mengetahui alasan terjadinya perbedaan Jumlah mahar dalam kawin pinang (pika bheka-bheka) pada masyarakat etnis Cia Cia di Desa Wabula Kecamatan Wabula Kabupaten Buton; b. untuk mengetahui proses penyelesaian perbedaan jumlah mahar dalam kawin pinang (pika bheka-bheka). penelitian ini dilaksanakan di Desa Wabula Kecamatan Wabula Kabupaten Buton Provinsi Sulawesi Tenggara. Jenis peneltian yang digunakan adalah jenis penelitian berdasarkan taraf penelitian yaitu penelitian deskriptif yang hanya menggambarkan keadaan objek dengan analisis kualitatif . Subyek penelitian ini terdiri dari 5 (lima) orang yang terdiri dari 2 (dua) orang tokoh ada Wabula sebagai orang yang mengatur tata cara adat dalam pelaksanaan perkawinan pinang (pika bheka-bheka), Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Wabula, 1 (satu) orang Imam/Khatib dan 1 (satu) orang Pegawai Pencatat Nikah (PPN). Teknik pengumpulan data yaitu: wawancara dan dokumenter. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa perkawinan adat etnis Cia Cia menurut praktek hukum adat Wabula yang  didasarkan pada stratifikasi sosial masyarakat etnis Cia Cia terdiri dari golongan Kaomu, Awalaka, dan Maradika. Adapun jumlah mahar dalam setiap golongan tersebut sangatlah berbeda-beda. Keturunan Sultan dan Sapati akan masuk dalam Kaomu (bangsawan) yang memiliki mahar 150 bhoka untuk jabatan Sultani dan 125 bhoka untuk jabatan Sapati. Golongan Awalaka merupakan golongan yang berasal dari keturunan Bontotoa (jabatan untuk kepala kampung) yang memiliki mahar sebanyak 100 bhoka.  Sementara golongan maradika memiliki mahar 12 bhoka 4 kupa. Cara penyelesaian jumlah mahar untuk perkawinan berbeda golongan dapat diselesaikan dengan cara maradika manadikana (kesepakatan adat berdasarkan yang ditetapkan oleh tokoh adat) berdasarkan hukum adat yang berlaku. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah bahwa perbedaan jumlah mahar yang terjadi pada masyarakat etnis Cia Cia menurut praktek hukum adat yang tidak tertulis disebabkan oleh stratifikasi yang terjadi di dalam suatau masyarakat tersebut yakni golongan Kaomu, golongan Awalaka, dan golongan maradika. Perbedaan jumlah mahar pada masyarakat etnis Cia Cia dapat diselesaikan dengan cara mardika manadikana.Kata Kunci: Perbedaan Jumlah Mahar, Penyelesaian Jumlah Mahar, dan  Perkawinan Pinang
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN CTL DALAM PEMBELAJARAN SOSIOLOGI UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS XI IPS-3 SMA NEGERI 1 WANGI-WANGI Femi, Femi; Irawaty, Irawaty
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 4, No 1 (2019): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (271.759 KB) | DOI: 10.36709/jpps.v4i1.7335

Abstract

ABSTRAK: Tujuan penelitian adalah untuk:  1) Meningkatkan aktivitas belajar sosiologi pada siswa kelas XI IPS-3 SMA Negeri I Wangi-Wangi melalui penerapan model pembelajaran CTL 2) Meningkatkan efektivitas mengajar sosiologi pada guru kelas XI IPS-3 SMA Negeri I Wangi-Wangi melalui penerapan model pembelajaran CTL 3) Meningkatkan hasil belajar sosiologi pada siswa kelas XI IPS-3 SMA Negeri I Wangi-Wangi melalui penerapan model pembelajaran CTL. Subjek penelitian ini adalah guru dan seluruh siswa kelas XI IPS-3 SMA Negeri I Wangi-Wangi sebanyak 29 siswa.Data yang diperoleh dari penelitian ini adalah aktivitas yang diperoleh dari lembar observasi dan hasil belajar siswa yang diukur melalui tes siklus. Analisis data yang dilakukan dengan statistik deskriptif. Dari hasil analisis data diproleh kesimpulan bahwa: 1) Aktivitas belajar siswa pada siklus I mencapai 70% yang belum mencapai indikator kinerja, pada siklus II meningkat menjadi 100%. Telah mencapai indikator kinerja 2) Efektivitas mengajar guru pada siklus I mencapai 83%belum mencapai indikator kinerja yang telah ditetapkan, pada siklus II meningkat menjadi 100% telah mencapai indikator kinerja. 3) Hasil belajar sosiologi siswa pada siklus I nilai rata-rata mencapai 69 sedangkan pada siklus II nilai rata-rata mencapai 88. Peningkatan hasil belajar siswa pada siklus I mencapai 66% atau 19 orang dari 29 siswa yang tuntas secara klasikal dan 34% atau 10 orang yang tidak tuntas secara klasikal dan pada siklus II hasil belajar sosiologi siswa mencapai 93% atau 27 orang dari 29 siswa yang tuntas secara klasikal dan 7% atau 2 orang yang tidak tuntas secara klasikal . Kata Kunci: Aktivitas, Efektivitas, Hasil Belajar
ANALISIS PENERAPAN KETERAMPILAN MEMBUKA DAN MENUTUP PELAJARAN PADA PEMBELAJARAN PKn DI KELAS VIIIA SMP NEGERI 1 SIOMPU Indrawan, Adi; Hamuni, Hamuni; Irawaty, Irawaty
SELAMI IPS Vol 1, No 45 (2017): JURNAL SELAMI UHO 2017
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/selami.v1i45.8667

Abstract

Abstrak: Dewasa ini banyak guru yang menerapkan keterampilan membuka dan menutup pelajaran belum optimal. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, pelaaksanaan keterampilan membuka dan menutup pelajaran ada beberapa indikator yang tidak diterapkan oleh guru PKn yaitu memperhatikan minat siswa, menimbulkan rasa ingin tahu, mengemukakan konsep yang bertentangan, mendemonstrasikan keterampilan, aplikasi konsep pada konteks lain, mengekspresikan pendapat sendiri, percobaan dan kunjungan lapangan. Hambatan yang dihadapai guru PKn yaitu masalah perbedaan minat siswa, keterbatasan waktu, ketidakberanian siswa untuk mengemukakan pendapat, dan keterbatasan media informasi, sehingga upaya untuk mengatasinya yaitu variasi media, penambahan jumlah jam pelajaran PKn, memberikan hadiah bagi siswa yang berani mengemukakan pendapat, memperbanyak literatur atau bahan ajar, serta pengadaan jaringan internet. Jadi penampilan guru PKn kelas VIIIA SMP Negeri 1 Siompu dalam mempraktikkan keterampilan membuka pelajaran menunjukkan kualitas sangat baik, sedangkan pada penerapan keterampilan menutup pelajaran menunjukkan kualitas cukup. Kata kunci: Keterampilan, Membuka dan Menutup, dan Pembelajaran PKn
TRADISI KAMOMOOSE PADA MASYARAKAT GU DI KECAMATAN LAKUDO KABUPATEN BUTON TENGAH Riska, Riska; Irawaty, Irawaty; Asuru, Arsidik
SELAMI IPS Vol 2, No 46 (2017): JURNAL SELAMI UHO
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/selami.v2i46.8519

Abstract

Abstrak: Manusia dalam kehidupannya selalu membutuhkan orang lain, begitupun antara laki-laki dan perempuan yang telah memasuki usia dewasa dan telah memenuhi ketentuan hukumnya, lazimnya ini disebut pernikahan, namun sebelum pada tahap pernikahan pada masyarakat lokal terdapat tahapan yang unik yaitu tahapan pemilihan pasangan atau jodoh. Realitas tersebut terdapat pada masyarakat Gu di Kecamatan Lakudo Kabupaten Buton Tengah yang disebut dengan istilah kamomoose, namun dengan seiring perkembangan kehidupan manusia yang selalu dipengaruhi oleh perkembangan zaman menyebabkan tradisi ini mengalami pergeseran tujuan dan alat pelaksanaannya. Namun demikian tradisi ini masih tetap hidup dan dilestarikan dikalangan masyarakat lokal, denganberbagai upaya yang dilakuakan agar tetap eksis ditengah perkembangan zaman.Kata Kunci: Tradisi Kamomoose, dan pencarian jodoh pada Masyarakat Gu Lakudo
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SOSIOLOGI PADA SISWA KELAS XI IPS 2 SMA NEGERI 1 BOMBANA Wulandari, Wulandari; Irawaty, Irawaty
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 4, No 2 (2019): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (356.883 KB) | DOI: 10.36709/jpps.v4i2.9898

Abstract

ABSTRAK: Permasalahan pokok dalam penelitian ini adalah: (1) Apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan aktivitas mengajar guru sosiologi kelas XI IPS 2 SMA Negeri 1 Bombana? (2) Apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa pada Mata Pelajaran Sosiologi kelas XI IPS 2 SMA Negeri 1 Bombana? (3) Apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada Mata Pelajaran Sosiologi di kelas XI  IPS 2 SMA Negeri 1 Bombana?.Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Dalam prosedur pelaksanaannya, penelitian dilaksanakan 2 siklus. Teknik pengumpulan data menggunakan tes dan observasi. Teknik analisis data menggunakan persentase dengan KKM sebesar 85% siswa memperoleh skor minimal 75.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Aktivitas mengajar guru sosiologi dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw pada siklus I hanya mencapai 83,33%, hal ini menunjukkan belum tecapainya indikator kinerja yang telah diterapkan yakni 90% dan pada siklus II mengalami peningkatan menjadi 96%. Dengan demikian, telah mencapai indikator kinerja yaitu 90%. (2) Aktivitas belajar sosiologi siswa pada siklus I hanya 79,16% dan pada siklus II mengalami peningkatan menjadi 92% dengan demikian telah mencapai indikator kinerja yaitu 85%. (3) Hasil belajar sosiologi siswa melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw meningkat dengan persentase awal pada pada siklus I hanya 45%, hal ini menunjukkan belum tercapainya indikator kinerja yang telah ditetapkan yakni 85%. Pada siklius II mengalami peningkatan menjadi 90%; demikian telah mencapai indikator kinerja yaitu 85%. Berdasarkan hasil penelitian ini, disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan aktivitas mengajar guru, meningkatkan aktivitas belajar siswa, dan meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran sosiologi siswa kelas XI IPS 2 SMA Negeri 1 Bombana. Kata Kunci: Model, Penarapan, Kooperatif Jigsaw
KEPEMIMPINAN LURAH DALAM MENINGKATKAN KERJA PEGAWAI DI KANTOR LURAH KOLAKAASI KECAMATAN LATAMBAGA KABUPATEN KOLAKA Sadir, Desy H; Irawaty, Irawaty; Momo, Abdul Halim
SELAMI IPS Vol 3, No 47 (2018): JURNAL SELAMI UHO
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/selami.v3i47.8496

Abstract

Abstrak: Kepemimpinan Lurah dalam meningkatkan Kerja Pegawai di Kantor Lurah Kolakaasi, Kecamatan Latambaga Kabupaten Kolaka antara lain sikap tegas dalam memberikan sanksi kepada para stafnya yang melakukan pelanggaran, serta kurangnya pengetahuan dikarenakan jarangnya Lurah mengikuti seminar-seminar maupun pelatihan-pelatihan tentang jiwa ketegasan yang diadakan oleh lembaga-lembaga terkait. Hasil penelitian juga menyatakan bahwa inisiatif dengan cara melakukan peningkatan pelayanan kepada masyarakat. Kepemimpinan Lurah Kolakaasi Kecamatan Latambaga Kabupaten Kolaka dalam tanggung jawab sudah dilaksanakan dengan baik, dalam meningkatkan kerja pegawai, Lurah mempertanggungjawabkan semua yang dilakukan sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya sebagai lurah di Kelurahan yang dibantu oleh para pegawai dan staf. Kata Kunci :Kepemimpinan Lurah, Kerja Pegawai 
KOMPETENSI SOSIAL GURU PKn DI SMA NEGERI 5 WANGI-WANGI Juhardin, La Ode; Irawaty, Irawaty; Momo, Abdul Halim
SELAMI IPS Vol 4, No 48 (2018): JURNAL JURUSAN PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/selami.v4i48.8507

Abstract

Abstrak: Kompetensi sosial adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, sesama guru,  dan orang tua/wali peserta didik. Kompetensi sosial adalah salah satu kompetensi guru yang menuntut guru dalam menjalankan tugas profesionalnya agar dapat berinteraksi dan berkomunikasi dengan berbagai pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan tidak terkecuali di SMA Negeri 5 Wangi-wangi. Indikator kompetensi sosial guru antara lain adalah mampu berinteraksi dengan peserta didik, mampu berinteraksi dengan sesama guru, dan mampu berinteraksi dengan orang tua/wali peserta didik. Agar tercipta suasana pembelajaran yang harmonis, efektif dan efisien di sekolah. Kata kunci : Kompetensi Sosial Guru PKn
FAKTOR PENYEBAB ANAK PUTUS SEKOLAH (Studi di Desa Mapila Kecamatan Kabaena Utara Kabupaten Bombana) Ridwan, Ridwan; Irawaty, Irawaty; Momo, Abdul Halim
SELAMI IPS Vol 12, No 1 (2019): JURNAL JURUSAN PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/selami.v12i1.10838

Abstract

Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah: 1) Untuk mengetahui faktor yang menjadi penyebab anak putus sekolah di desa mapila kecamatan kabaena utara kabupaten bombana, 2) Untuk mengetahui upaya orang tua dan sekolah dalam mengatasi anak putus sekolah studi di desa mapila kecamatan kabaena utara kabupaten bombana. Jenis Penelitian ini adalah deskriptif dengan menggunakan campuran (Mix Method). Responden penelitian ini sebanyak 14 orang anak yang putus sekolah, dan informan penelitian yaitu berjumlah 10 orang.Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah angket, observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan faktor penyebab anak putus sekolah terbagi dua yaitu faktor internal yaitu rendahnya minat atau kemauan anak untuk bersekolah, sekolah dianggap tidak menarik dan ketidakmampuan dalam mengikuti pelajaran sedangkan faktor eksternal yaitu ekonomi keluarga, kurangnya perhatian orang tua, lingkungan bermain anak dan jauhnya jarak antara rumah dan sekolah. Upaya untuk mengatasi anak putus sekolah dilakukan dengan cara: 1) Upaya orang tua adanya perhatian akan pentingnya pendidikan formal dengan memberikan dukungan dan  motivasi baik dari segi moral maupun material, rasa peduli, menjalin kedekatan dengan anak, mendampingi anak ketika berada di rumah  dan mengontrol pergaulan anak, 2) Upaya sekolah dengan menjalin kedekatan dengan siswa dan orang tua siswa, pemanggilan orang tua siswa,  untuk kemudian mencari solusi agar anak tetap melanjutkan pendidikan formal. Kesimpulan penelitian ini yaitu: faktor penyebab anak putus sekolah di desa Mapila terdiri dari dua faktor yaitu faktor internal yang mendominasi yaitu rendahnya minat dan kemauan anak untuk bersekolah dan faktor eksternal yang mendominasi yaitu adalah kurangnya perhatian orang tua sedangkan upaya orang tua dalam mengatasi anak putus sekolah di desa mapila yaitu:sadar akan pentingnya pendidikan anak, memberikan dukungan dan motivasi baik dari segi moral maupun material serta mengontrol pergaulan anak. Upaya pihak sekolah dengan menjalin kedekatan dengan siswa dan orang tua siswa, pemanggilan serta mengunjungi orang tua siswa untuk bersama mencari solusi agar anak tetap melanjutkan pendidikan formal. Kata Kunci: Putus Sekolah, Faktor Penyebab, Upaya Orang Tua Dan Sekolah
PARTISIPASI POLITIK MASYARAKAT PADA PEMILIHAN PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN TAHUN 2019 (Studi Pada Kelurahan Anggoeya Kecamatan Poasia) Anggraeni, Anggraeni; Samiruddin T, Samiruddin T; Irawaty, Irawaty
SELAMI IPS Vol 13, No 1 (2020): JURNAL JURUSAN PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/selami.v13i1.13617

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Tahap Partisipasi Politik Masyarakat Pada Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden.Jenis penelitian yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif, teknik pengumpulan data yakni wawancara mendalam (indepth interviews), dokumentasi. Responden pada penelitian ini berjumlah 16 orang masyarakat di Kelurahan Anggoeya dan 3 orang informan yaitu, anggota KPU, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data kualitatif.Hasil penelitian menunjukan bahwa tingkat Partisipasi Politik Pada Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2019, di Kelurahan Anggoeya Kecamatan Poasia sangat rendah ini tergambar dari aktivitas mereka mengikuti tahapan pemilihian calon presiden dan wakil presiden yakni tahap Sosialisasi, tahap Kampanye, tahap Pemilihan di TPS, tahap perhitungan suara di TPS. Simpulan penelitian yaitu Partisipasi Politik Masyarakat pada Pemilihan Presiden dan Wakil presiden Tahun 2019 di Kelurahan Anggoeya Kecamatan Poasia sangat rendah, indikasi rendahnya partisipasi ini ditujukan oleh rendahnya keikutsertaan mereka dalam kegiatan sosialisasi, kegiatan kampanye, tahap pemilihan di TPS , tahap perhitungan suara di TPS, kegiatan-kegiatan tersebut sebagian besar tidak di ikuti oleh masyarakat di Kelurahan Anggoeya. Kata Kunci: Partisipasi Politik Masyarakat, Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden
PERAN PELATIHAN PENGUATAN TOLERANSI SOSIAL DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA Japar, Muhammad; Irawaty, Irawaty; Fadhillah, Dini Nur
Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial Vol 29, No 2 (2019): JURNAL PENDIDIKAN ILMU SOSIAL
Publisher : Department of Accounting Education, Faculty of Teacher Training and Education Universitas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/jpis.v29i2.8204

Abstract

The results of observations in several junior high schools in Jakarta showed that in the current global era the presence of millennial generation cultural values, a person needs a strong controller to be able to choose and sort out the values freely offered. That is necessary to strengthen social tolerance, especially for teachers in Junior High School. The activity was carried out in order to establish a tolerant attitude, especially in instilling multicultural values such as democracy, justice, equality, tolerance and respect for diversity. As well as improving the ability of teachers to provide reinforcement of social tolerance in the learning of Civic Education in junior high school. The method used to strengthen social tolerance of Civic Education learning is through training that is guided by experienced instructors. The evaluation used to measure the success of this training can be seen through the training activity evaluation questionnaire that was filled in by all the training participants. The target audience for this training activity are Civic Education teachers in Junior High School at Jakarta. The results of this training show that in the cultivation of social tolerance there are several attitudes that must be taken, namely: Harmonious interaction, Instilling brotherhood, instilling caring attitude, Collaborative attitude. It is expected that the planting of social tolerance provided by Civic Education teacher to students can achieve Civic Education vision of building smart and good citizens. Furthermore, by cultivating sustainable tolerance it will build tolerant citizens. Because citizens who are intellectually intelligent, both emotionally and actively building a country for a better Indonesia.