cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Veteriner
ISSN : 25409492     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Veteriner merupakan media elektronik yang digunakan sebagai wadah penyebaran hasil-hasil penelitian dari skripsi/tugas akhir mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala yang ditulis bersama dengan dosen pembimbingnya. Naskah/artikel yang diterbitkan telah melewati proses review oleh 2 orang reviewer dan penyunting JIMVET. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Veteriner untuk saat ini menerbitkan naskah ilmiah mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Dokter Hewan. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Veteriner terbit dengan satu volume dan empat nomor dalam setahun (Fabruari, Mei, Agustus, dan November).
Arjuna Subject : -
Articles 269 Documents
IDENTIFIKASI ENDOPARASIT PADA IKAN LELE (Clarias batrachus) DI KECAMATAN LHOKNGA ACEH BESAR PASCA TSUNAMI Muttaqien Muttaqien; Muhammad Ridhan Akbar; Muhammad Hambal
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 1, No 1 (2017): NOVEMBER - JANUARI
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (418.265 KB) | DOI: 10.21157/jim vet..v1i1.1370

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi parasit dan mengetahui pengaruh tingkat prevalensi parasit yang ditemukan pada ikan lele (Clarias batrachus) di wilayah yang terkena dampak Tsunami dan wilayah yang tidak terkena dampak Tsunami. Sebanyak 80 ekor ikan lele yang diambil dari 4 lokasi di daerah Lhoknga, Aceh Besar yang terdiri dari 3 lokasi terkena dampak tsunami (Lambaro Seubun, Lamlhom dan Lampuuk) dan 1 desa tidak terkena dampak tsunami (Keudee Bieng) kemudian diperiksa di laboratorium Parasitologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala Banda Acehuntuk melihat keberadaan endoparasit. Pemeriksaan endoparasit dilakukan dengan cara pengamatan pada permukaan dalam dari tractus digestivus di bawah mikroskop. Dari hasil penelitian ditemukan empat jenis parasit yang menginfestasi ikan leleyaitu P. nagpurensis, Anisakis sp, Camallanus sp, Acanthostomum sp. Parasit Anisakis sp terdapat baik pada wilayah yang terkena Tsunami maupun yang tidak terkena Tsunami, Camallanus sp dan Acanthostomum sp hanya terdapat pada wilayah yang terkena dampak Tsunami sedangkan parasit P. Nagpurensis terdapat di wilayah yang tidak terkena dampak Tsunami. Tingkat prevalensi pada daerah yang terkena Tsunami yaitu 56,6% sedangkan tingkat prevalensi pada daerah yang tidak terkena dampak Tsunami lebih rendah, yaitu 45%. Dari hasil ini dapat dinyatakan bahwasannya parasit pada daerah yang terkena dampak Tsunami memiliki tingkat prevalensi yang lebih tinggi dibandingkan daerah yang tidak terkena dampak Tsunami.Kata kunci: endoparasit, ikan Lele (Clarias batrachus), lhoknga, tsunami.A study has been conducted to identify the parasite and the level of parasite prevalence rates in catfish (Clarias batrachus) living in the area that is affected or not by tsunami. A total of 80 catfishes taken from four locations in Lhoknga, Aceh Besar district and examined in the laboratory of parasitology, Faculty of Veterinary Medicine, University of Syiah Kuala, Banda Aceh. The observation of endoparasite was focused on the inner surface of the digestive tractus. The study revealed that four types of parasites that infest catfish; (Pallisentis nagpurensis, Anisakis sp, Camallanus sp, and Acanthostomum sp). Parasite Anisakis sp found in areas affected the tsunami and it also found in catfish living in non tsunami affected area, Camallanus sp and Acanthostomum sp are found only in the region affected by the tsunami while P. Nagpurensis parasites found in the areas that not affected by the tsunami. Prevalence rates at region that affected by tsunami was 56,6% and region that not affect by tsunami was 45%. The result showed that regions that affected by tsunami have higher prevalence rates than the region not affected by tsunami. This could indicated that tsunami affected to the environment of parasites.Keyword: endoparasites, cat fish (Clarias batrachus), lhoknga, tsunami
SURVEY PERILAKU PENJUAL IKAN ASIN DI WILAYAH PANTAI BARAT ACEH BESAR, ACEH JAYA DAN ACEH BARAT TERHADAP PENGGUNAAN FORMALIN PADA IKAN ASIN Indah Sari Melisa
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 1, No 1 (2017): NOVEMBER - JANUARI
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.174 KB) | DOI: 10.21157/jim vet..v1i1.1572

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku penjual ikan asin di wilayah pantai barat Aceh Besar, Aceh Jaya dan Aceh Barat terhadap penggunaan formalin serta keberadaan ikan asin yang mengandung formalin. Responden berjumlah 34 orang dari tiga wilayah yang berbeda. Penelitian ini menggunakan metode observasi, wawancara dan pembagian kuesioner. Metode observasi dilakukan dengan cara meninjau langsung lokasi penjual ikan asin dan metode wawancara mencakup cara pemilihan, pembersihan, penggaraman, pencucian dan penjemuran. Data hasil penelitian ini disajikan secara deskriptif dan disimpulkan setelah dilakukan tabulasi. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa hasil uji laboratorium tidak ditemukan ikan asin yang mengandung formalin serta berdasarkan hasil observasi dan wawancara mendukung hasil laboratorium yang diperoleh.
PENGARUH FREKUENSI PENAMPUNGAN SEMEN TERHADAP KUALITAS SPERMATOZOA PADA AYAM BANGKOK Muhammad Hijriyanto
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 1, No 1 (2017): NOVEMBER - JANUARI
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.537 KB) | DOI: 10.21157/jim vet..v1i1.1817

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh frekuensi penampungan semen terhadap kualitas spermatozoa ayam bangkok. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Reproduksi Fakultas Kedokteran Hewan Unsyiah pada bulan Desember 2015 sampai Januari 2016. Sembilan ekor ayam bangkok jantan berumur 10-12 bulan dibagi menjadi tiga kelompok perlakuan yaitu penampungan semen satu kali per minggu (A), dua kali per minggu (B), dan tiga kali per minggu (C). Pengamatan kualitas semen meliputi evaluasi makroskopis (warna, ph, volume, dan konsistensi semen), dan evaluasi mikroskopis (gerakan massa, motilitas, konsentrasi dan abnormalitas) menurut metode BIB Lembang. Data yang diperoleh dianalisis dengan Analysis of Variant (ANOVA). Hasil pengamatan kualitas semen ayam bangkok untuk seluruh peubah yang diamati tidak menunjukkan perbedaan nyata terhadap ketiga frekuensi penampungan (P0,05). Penampungan semen satu kali per minggu, dua kali per minggu, dan tiga kali per minggu menghasilkan kualitas semen ayam bangkok yang sama. Dapat disimpulkan bahwa frekuensi penampungan semen tidak berpengaruh terhadap kualitas spermatozoa ayam bangkok.Kata kunci: ayam bangkok, semen, frekuensi ejakulasiThe purpose of this research was to find out the effect ejaculation frequency on quality of Bangkok Rooster spermatozoa. This research was conducted at Reproduction Laboratory, University of Syiah Kuala from December 2015 to January 2016. Nine bangkok chickens were randomly divided into three treatments of semen collection interval. Semen was collected once a week (A), twice a week (B), and three times a week (C). Variables observed were macroscopic (color, pH, volume, and consistency) and microscopic (mass activity, motility, sperm concentration and abnormality) according to the BIB Lembang method. The data were analyzed by Analysis of Variance (ANOVA). The results showed that the frequency of semen collection in 1, 2 and 3 times a week had no influence on quality of semen (P0,05). Frequency of semen collection no had influence do on spermatozoa quality in bangkok chickens.Keyword: bangkok chicken, semen, ejaculation frequency 
ANGKA KONTAMINASI MIKROBA DAN FAKTOR-FAKTOR RISIKO PADA TAHAP AKHIR PROSES PRODUKSI IKAN KAYU (KEUMAMAH) DI KECAMATAN KUTA ALAM KOTA BANDA ACEH Roza Fitria
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 1, No 1 (2017): NOVEMBER - JANUARI
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.646 KB) | DOI: 10.21157/jim vet..v1i1.2022

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui angka kontaminasi mikroba dan faktor-faktor risiko yang berpengaruh terhadap produk  ikan kayu (keumamah) pada tahap akhir proses pengolahan di Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh. Kajian ini dilakukan dalam bentuk survei lapangan dengan melibatkan sejumlah tiga produsen. Pada tiap-tiap produsen diambil sebanyak tiga sampel produk ikan kayu untuk diuji cemaran mikroba di Laboratorium Kesehatan Masyarakat Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala. Pengujian dilakukan dengan menggunakan metode TPC (Total Plate Count). Selain itu terhadap produsen ikan kayu juga diwawancarai menggunakan kuisioner terstruktur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata tingkat cemaran mikroba yang terdapat pada produsen pertama  sebesar 1,2x106CFU/g  dan produsen kedua pada angka 9,7x105CFU/g. Hasil ini tergolong diatas nilai ambang SNI 7338:2009 (5,0x105CFU/g) dibandingkan dengan ikan kayu yang diproduksi oleh produsen ketiga (angka cemaran 6,7x104CFU/g). Dari hasil survey diketahui bahwa kemungkinan salah satu faktor yang mempengaruhi peningkatan cemaran mikroba tersebut dilakukannya penjemuran ikan kayu di tempat terbuka. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa 67 persen produk ikan kayu yang diproduksi di wilayah Kuta Alam memiliki angka kontaminasi mikroba diatas batas maksimun cemaran dan hal ini dapat disebabkan oleh proses pengolahan yang tidak higienis.This study was aimed to measure the rate of microbial contamination and risk factors at final process of wooden fish (keumamah) production in Kuta Alam Subdistrict of Banda Aceh. The study was performed using an approach of field survey. There were three producers involved in this study. A number of three sample were taken from each producer to be tested for microbe contamination. The test was conducted using a method of TPC (Total Plate Count) in the Laboratory of Veterinary Public Health of the Faculty of  Veterinary Medicine of Syiah Kuala University. Then, all of the producers were questioned with structured questioner. The result showed that the average rate of micobial contamination on the fish at the first producer  was at 1,2x106CFU/g  and the second producer  was at 9,7x105CFU/g. These results were classified as above SNI standard of 7338:2009 (5,0x105CFU/g). On the other hand, the rate of contamination on the fish produced by the third producer was lower than SNI standard (6,7x104CFU/g). Then, from the interview was found that most of the producers were drying their fish under open air.  Therefore, it can be concluded that a proportion of 67 percent of wooden fish produced in Kuta Alam were contaminated and, possibly, the result of drying them under open air.
PENGETAHUAN PETERNAK TENTANG PEMAHAMAN KETERKAITAN GEJALA BERAHI DENGAN KEBERHASILAN INSEMINASI BUATAN PADA SAPI DI KECAMATAN LENGAYANG KABUPATEN PESISIR SELATAN SUMATERA BARAT Nida Ulfa Dilla
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 1, No 1 (2017): NOVEMBER - JANUARI
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (460.932 KB) | DOI: 10.21157/jim vet..v1i1.2140

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana peternak sapi di Kecamatan Lengayang Kabupaten Pesisir Selatan Sumbar memahami keterkaitan gejala berahi dengan keberhasilan inseminasi buatan (IB) pada sapi. Responden penelitian ini adalah peternak sapi di Kecamatan Lengayang dan bersedia diwawancarai. Penelitian ini dilakukan dalam bentuk survei lapangan. Pengumpulan data dilakukan dengan mewawancarai peternak sapi menggunakan formulir dengan kuesioner terstruktur. Pengambilan data terdiri atas data sekunder dan primer. Data sekunder diambil dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Pesisir Selatan. Data dianalisis menggunakan metode deskriptif untuk keseluruhan data, uji regresi linear berganda dan uji korelasi Spearman untuk variabel pendidikan formal, pendidikan non formal dan pengalaman dengan variabel pengetahuan tentang keberhasilan IB. Hasil penelitian didapatkan dari 100 responden yang terdiri atas Desa Lakitan Utara 15 responden, Lakitan Timur 16 responden, Kambang Timur 14 responden, Kambang Barat 35 responden, Kambang 9 responden dan Kambang Utara 11 responden. Berdasarkan hasil penelitian tingkat pengetahuan peternak tentang pemahaman keterkaitan gejala berahi dengan keberhasilan IB pada sapi adalah sangat baik 2%, baik 33%, cukup baik 56% dan kurang baik 9%. 13,5% pengetahuan tentang berahi dan pengetahuan tentang keberhasilan IB dipengaruhi oleh faktor usia, pendidikan formal dan pendidikan non formal, pekerjaan, kedudukan dalam beternak, jumlah sapi, pengalaman beternak, sumber pengetahuan beternak dan cara pemeliharaan ternak.Kata kunci: inseminasi buatan, gejala berahi, sapi.This study aimed to find out the understanding of cattle farmer on Lengayang, Pesisir Selatan West Sumatera about the relation of symptoms of lust and the success rate of artificial insemination on cattle. The respondents of this study were the cattle farmer in Lengayang who agreed to be interviewed. Form of this study was field survey. The data were collected after interview the farmer using form of structural questioner. The data consist of secondary and primary data. Secondary data were obtained from Department of Animal Husbandry and Animal Health on Pesisir Selatan. Data analyzed using descriptive methods for all the data, multiple linear regression test and Spearman correlation test for the variable formal education, non-formal education and experience with knowledge of the variable success of artificial insemination. Results obtained from 100 respondents consisting of 15 respondents from Lakitan village, 16 respondents from East Lakitan, 14 from East Kambang, 35 from West Kambang, 9 respondents from Kambang and 11 respondents from North Kambang. Based on the research level farmers knowledge about understanding the symptoms lust relationship with the success of artificial insemination in cattle is 2% excellent, 33% good, 56% fairly good and less good 9%. 13,5 % knowledge of lust and knowledge about the success of artificial insemination is influenced by factors of age, formal education, non formal education, occupation, position in the breeding, amount of cow, breeding experience, source of knowledge and a way of cattle raising.Key words: artificial insemination, symptoms of lust, cattle.
FRAKSI METANOL DAUN SERNAI (Wedelia biflora) SEBAGAI ANALGESIK PADA MENCIT PUTIH (Mus musculus) YANG DIINDUKSI ASAM ASETAT GLASIAL Rinidar Rinidar; T Armansyah TR; Irsyad Arfi Putra
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 1, No 1 (2017): NOVEMBER - JANUARI
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (307.471 KB) | DOI: 10.21157/jim vet..v1i1.2235

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui potensi fraksi metanol daun sernai sebagai analgesik pada mencit putih (Mus musculus) yang diinduksi asam asetat glasial. Hewan coba dalam penelitian ini adalah 25 ekor mencit. Sampel penelitian yang digunakan adalah tumbuhan sernai yang berumur lebih dari 1 tahun setelah ditanam dan panjang tanaman telah lebih dari 0,3 meter. Pembuatan ekstrak metanol dilakukan secara maserasi dari serbuk daun sernai. Pembuatan fraksi metanol dilakukan dengan melarutkan ekstrak kental metanol menggunakan pelarut heksan. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) pola split plot terdiri atas 5 perlakuan dan 5 ulangan. Kontrol negatif diberi akuades (P0), kontrol positif diberi ibuprofen (P1), dan kelompok (P2, P3, P4) diberi fraksi metanol daun sernai dengan dosis 30, 45 dan 60 mg/kg bb. Uji efek analgesik dilakukan dengan metode abdominal writhing. Data dianalisis dengan analisis varian dan dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fraksi metanol daun sernai memiliki pengaruh yang nyata (P0,05) terhadap penurunan geliat mencit. Uji lanjut Duncan kelompok P2 dan P3 tidak berbeda nyata (P0,05) dengan kelompok P1, berbeda nyata (P0,05) dengan P0. Kelompok P4 berbeda nyata (P0,05) dibandingkan kelompok P0. Disimpulkan bahwa fraksi metanol daun sernai memiliki potensi sebagai analgesik.Kata kunci: ibuprofen, analgesik, daun sernai.The aim of this study was to understand the potential of methanol fraction of sernai leaves as an analgesic in mice (Mus musculus) experimentally induced by glacial acetic acid. Total of samples were 25 mice. Sample of research was sernai 1 year old and length more than 0.3 meters. Methanol extract made by maceration of sernai powder and dissolved using hexane. This study used a complete randomized design (CRD) with split plot pattern consist of 5 groups and 5 repetitions. Group (P0) as negative control was given aquadest, group (P1) as positive control was given ibuprofen, and group (P2, P3, P4) were given metanol fraction of beach sunflower leaves of 30 mg/kg bw, 45 mg/kg bw and 60 mg/kg bw doses. The analgesic effect used abdominal writhing method. The data was analyzed by analysis of variant and Duncan. The result of the experiment showed that methanol fraction of beach sunflower leaves had significant effect (P0,05) to reduce pain streching movements in mice. Duncan analysis showed that group P2 and P3 was not significantly different (P0,05) with group P1 but significantly different (P0,05) to group P0. Group P4 was significantly different (P0,05) with group P0. So that methanol fraction of beach sunflower leaves has potential as analgesic.Keyword: ibuprofen, analgesic, beach sunflower leaves.
FRAKSI ETIL ASETAT DAUN SERNAI (Wedelia biflora) SEBAGAI ANALGESIK DENGAN METODE WRITHING ABDOMINAL PADA MENCIT (Mus musculus) Indra Nofrianto
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 1, No 1 (2017): NOVEMBER - JANUARI
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (380.703 KB) | DOI: 10.21157/jim vet..v1i1.2267

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mengetahui khasiat fraksi etil asetat daun sernai sebagai analgesik yang diberikan secara oral pada mencit dan melihat perbandingan dengan ibuprofen. Penelitian ini menggunakan 25 ekor mencit yang berumur 2,0-4,0 bulan dengan berat badan 25-30 g. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) pola split plot, terdiri atas 5 kelompok, P0 diberi akuades (kontrol negatif), P1 diberikan  ibuprofen 0,25 mg/kg bb (kontrol positif), P2, P3, P4, masing-masing diberi fraksi etil asetat daun sernai dengan dosis 30, 45, dan 60 mg/kg bb. Uji analgesik dengan metode whriting abdominal test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok perlakuan dan waktu perlakuan fraksi etil asetat daun sernai sebagai analgesik pada mencit berpengaruh secara nyata (P0,05). Berdasarkan hasil uji Duncan memperlihatkan penurunan geliat mencit pada kelompok P1, P2, P3, dan P4 secara nyata (P0,05) dibandingkan kelompok P0. Sedangkan kelompok P2, P3, P4 tidak menunjukkan perbedaan nyata (P0,05)  dibandingkan dengan kelompok P1. Berdasarkan hasil penelitian rataan jumlah geliat mencit stiap 5 menit dalam 1 jam pada kelompok P3=6,8 kali/jam lebih baik dibandingkan dengan kelompok P2=7,7 kali/jam dan P4=10,3 kali/jam, sehingga dapat disimpulkan bahwa fraksi etil asetat daun  sernai dengan dosis 45, mg/kg bb memiliki aktivitas analgesik yang lebih baik dibandingakan dengan dosis 30 dan 60 mg/kg bb yang diinduksi secara kimiawi dan cenderung setara dengan ibuprofen.Kata kunci: Wedelia biflora, analgesik, ibuprofen. ABSTRACT                 The objective of this study was to determine the efficacy of ethyl acetate fraction of sernai leaf as an analgesic was given orally in mice and see comparisons with ibuprofen. This study used 25 mices aged 2.0 to 4.0 months with body weight of 25-30 g. Using a completely randomized design (CRD) pattern split plot, consists of 5 groups, P0 was given distilled water (negative control), P1 was given ibuprofen 0.25 mg / kg bw (positive control), P2, P3, P4, were given fraction sernai leaf ethyl acetate with dose  30, 45, and 60 mg / kg bw. Test analgesic with abdominal whriting test method. The results showed that the treatment group and the treatment time ethyl acetate fraction sernai leaf as an analgesic in mice affect significantly (P 0.05). Based on the results of Duncan test showed a decline in the movement of mice in group P1, P2, P3, and P4 significanyt (P 0.05) differences  than group P0. While groups of P2, P3, P4 was not showed the difference significant (P 0.05) compared with the group P1. Based on this study the avarege number of wrhiting in mice every 5 minutes in 1 hour at group of P3=6,8 times/hour is better then the group P2=7,7 times/hour and P4=10,3 times/hour, so it was concluded that fraction of ethyl acetate of sernai leaves  by doses of 45 mg/kg bw capable of showing analgesic activity better than doses of 30 and 60 mg/kg bw, those which induced chemically tend to be similar to ibuprofen. Keyword: Wedelia biflora, analgesic, ibuprofen.
ISOLASI DAN IDENTIFIKASI Pseudomonas sp PADA TELUR BURUNG PUYUH (Coturnix-coturnix japonica) YANG GAGAL MENETAS DI DESA GAROT KECAMATAN DARUL IMARAH ACEH BESAR Daratun Hayati Rapi
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 1, No 1 (2017): NOVEMBER - JANUARI
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (690.166 KB) | DOI: 10.21157/jim vet..v1i1.2288

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengisolasi dan megidentifikasi bakteri Pseudomonas sp pada telur puyuh yang gagal menetas. Penelitian ini menggunakan 30 butir telur puyuh yang gagal menetas diperiksa di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. Pseudomonas sp diisolasi dan diidentifikasi berdasarkan metode Carter yang dimodifikasi. Pada media TSA koloni bakteri berbentuk bulat, berukuran besar, membentuk pyocianin, mukoid dan licin, terbentuk warna pink pada pewarnaan Gram, hasil uji IMVIC dan gula-gula sesuai dengan karakteristik Pseudomonas sp. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 12 dari 30 butir telur yang diperiksa positif bakteri Pseudomonas sp. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa bakteri Pseudomonas sp merupakan salah satu penyebab kegagalan menetas pada telur burung puyuh.Kata kunci: telur burung puyuh, gagal menetas, Pseudomonas sp, peternakan, Aceh BesarThe study aimed to isolate and identify Pseudomonas sp from failed to hatch of quail’s eggs. This study used thirties failed to hatch of quail’s eggs which examined in microbiology laboratory, Faculty of Veterinary Medicine, Syiah Kuala University. Pseudomonas sp was isolated and identified according to modification of Carter’s method. Bacterial colonies on media TSA were circular, large, forming pyocianin, mucoid and slick, formed pink on Gram staining and biochemistry (IMVIC) test for its characteristics. The result of this research showed that 12 out of 30 quail’s eggs were positively infected by Pseudomonas sp. Therefore, it can concluded that Pseudomonas sp was the one of the cause of failed to hatch of quail’s eggs.Keyword: quail's eggs, fail to hatch, Pseudomonas sp, livestock, Aceh Besar
PERENDAMAN DAGING AYAM BROILER DENGAN INFUSA DAUN KARI (Murraya koenigii) TERHADAP AWAL PEMBUSUKAN Tri Marsidah
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 1, No 1 (2017): NOVEMBER - JANUARI
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (166.323 KB) | DOI: 10.21157/jim vet..v1i1.2290

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui awal pembusukan daging dada ayam broiler yang direndam dengan infusa daun kari (Murraya koenigii). Metode yang digunakan adalah metode infusa dan uji postma. Data hasil penelitian akan dianalisis secara deskriptif. Sebanyak 32 sampel daging ayam broiler dengan berat 5 gram direndam pada infusa daun kari dengan konsentrasi 0%, 10%, 20%, dan 30% pada selang waktu 0, 3, 6, dan 9 jam. Hasil uji pembusukan pada konsentrasi 0%, 10%, 20%, dan 30% pada selang waktu 0 jam dan 3 jam menunjukkan hasil negatif. Selanjutnya pada selang waktu 6 jam dan 9 jam dengan konsentrasi 0% dan 10% menunjukkan hasil positif mengalami awal pembusukan. Sedangkan pada konsentrasi 20% dan 30% menunjukkan hasil negatif. Hasil pemeriksaan dari keseluruhan sampel pada penelitian ini disimpulkan bahwa awal terjadi pembusukan pada jam 0 dan 3 jam dengan konsentrasi 0% dan 10%. Sedangkan pada selang waktu 6 jam dan 9 jam dengan konsentrasi 20% dan 30% mampu bertahan dan tidak mengalami awal pembusukan.Kata kunci: daging ayam broiler, daun kari, infusa, uji postmaThe aimed of this study was to determine the beginning of decay of broiler meat immersed with curry leaves (Murraya koenigii) extract. The research used infusion and Postma test as method. Data were analyzed by descriptive. A total of 32 samples, weighing 5 grams infused with curry leaves of 0%, 10%, 20%, and 30% in concentration at intervals of 0, 3, 6, and 9 hours. The result showed that in concentration of 0%, 10%, 20%, and 30% with the interval of 0 and 3 hours revealed negative result. Furthermore, at the interval of 6 hours and 9 hours with a concentration of 0% and 10% showed positive results on early decay, meanwhile at the concentration of 20% and 30% were negative. The results of the examination of the overall samples in this study concluded that the initial of decomposition time occurs at 0 and 3 hours with a concentration of 0% and 10%. While at an interval of 6 hours and 9 hours with a concentration of 20% and 30% showed no sign of decaying.Keywords: broiler meat, curry leaf, infusion, Postma test 
POTENSI EKSTRAK METANOL BATANG SERNAI (Wedelia biflora ) SEBAGAI ANALGESIK PADA MENCIT (Mus musculus) DENGAN METODE WRITHING ABDOMINAL Agnes Faula Bonix
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 1, No 1 (2017): NOVEMBER - JANUARI
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (282.907 KB) | DOI: 10.21157/jim vet..v1i1.2302

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui potensi ekstrak metanol batang sernai (Wedelia biflora) sebagai analgesik pada mencit (Mus musculus). Hewan uji yang digunakan adalah 25 ekor mencit yang dibagi dalam 5 kelompok, masing-masing terdiri atas 5 ekor mencit. Kelompok P0 sebagai kontrol negatif diberi akuades, kelompok P1 sebagai kontrol positif diberi ibuprofen, sedangkan kelompok P2, P3, dan P4 diberikan ekstrak metanol batang sernai masing-masing dengan dosis 30, 45, dan 60 mg/kg bb. Induksi nyeri pada mencit menggunakan asam asetat 0,5%. Aktivitas analgesik dihitung setiap 5 menit sekali dalam 1 jam dengan menggunakan metode Writhing abdominal. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa pemberian ekstrak metanol batang sernai memiliki pengaruh yang nyata (P0,05) terhadap penurunan jumlah geliat mencit. Uji lanjut Duncan menunjukkan bahwa kelompok P1, P2, P3, dan P4 berbeda nyata (P0,05) dengan P0. P1 dengan P2 tidak berbeda nyata (P0,05), P1 berbeda nyata dengan P3 dan P4, P3 dengan P4 tidak ada perbedaan yang nyata (P0,05). Dosis 45 dan 60 mg/kg bb berpotensi sebagai analgesik yang cenderung sama, dosis 30 mg/kg bb memiliki potensi analgesik yang sebanding dengan ibuprofen.Kata kunci: Wedelia biflora, analgesik, ibuprofen.The objective of this study was to examine the potential of methanol extract of sernai stalk (Wedelia biflora) as an analgesic in mice (Mus musculus). 25 mice were devided into 5 groups (P0, P1, P2, P3, P4) which consisted 5 mice per group. P0 and P1 were negative and positive control both given aquades and ibuprofen, while the others (P2, P3, P4) were methanol extract of sernai stalk by doses 30, 45, 60 mg/kg of weight. Acetic acid 0.5 % used as pain induction in mice. Analgesic activity was calculated every five minutes in one hour using abdominal writhing test. The results showed that the methanol extract of sernai stalk had a real effect (P0,05) to decrease wriggling mice. In addition, Duncan test showed that group P1 , P2 , P3 , and P4 were also significantly different (P0,05) to P0, while P1 and P2 were not. In other hand, P1 was significantly different to P3 and P4, but both P3 and P4 were not significantly different (P0,05). Dose of 45 and 60 mg/kg was potential as an analgesic, and dose 30 mg/kg had as potential as ibuprofen.Keyword: Wedelia biflora, analgesic, ibuprofen.

Page 1 of 27 | Total Record : 269