Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Peta Kesadaran Politik Para Santri di Pesantren Kabupaten Bandung Menjelang Pemilu 2004 Atie Rachmiatie; Asep Ahmad Sidik; Farihat Kamil
MIMBAR (Jurnal Sosial dan Pembangunan) Volume 21, No. 2, Tahun 2005 (Terakreditasi)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.888 KB) | DOI: 10.29313/mimbar.v21i2.173

Abstract

Penelitian ini berjudul: ”Peta Kesadaran dan Pemahaman Politik para Santri di Kabupaten Bandung menjelang Pemilu Tahun 2004”. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh beberapa kali penyelenggaraan Pemilihan Umum mulai tahun 1971, 1977, sampai dengan pemilu tahun 2004, umat Islam di Indonesia terutama dari kalangan non elit (grass root) umumnya hanya menjadi obyek atau sasaran kampanye partai-partai politik untuk meraih dukungan. Namun setelah pemilu berlangsung dan partai yang dipilih umat Islam menang; mereka diabaikan kepentingan dan aspirasi-aspirasinya. Hal ini dilatarbelakangi oleh faktor internal umat Islam sendiri atau faktor-faktor eksternal yang relatif merugikan umat Islam dalam kehidupan bernegara. TAP MPR RI nomor XVII/MPR/1998 mengemukakan bahwa sebagai warga negara di antaranya memperoleh hak keadilan, hak kemerdekaan, hak mengemukakan pendapat dan memperoleh informasi (right to know), hak kesejahteraan dan pelayan publik dari pemerintah. Aturan dan perundangan bahkan kebijakan pemerintah tentang kehidupan politik dan kewarganegaraan (Civic Society) memang sudah sering disosialisasikan melalui media massa atau komunikasi tatap muka. Namun apakah pesan-pesan politik ini telah sampai dan dipahami juga oleh para kalangan pesantren? Pemahaman ini penting dimiliki para santri, agar tidak terjebak dalam arus permainan politik yang merugikan. Penelitian dengan menggunakan metode survey ini menghimpun data dari 2 pesantren besar di Kabupaten Bandung dan melibatkan 88 santri sebagai responden. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa:  Pengetahuan para santri tentang peraturan, perundang-undangan, dan kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan politik ada pada kategori sedang dan rendah, dalam arti mereka memahami sebatas aturan dan kebijakan pemerintah yang aplikatif berkaitan dengan dirinya sebagai anggota masyarakat dan umat Islam. Pengetahuan dan pemahaman tentang per-politik-an yang dimiliki para santri ternyata informasi politik yang sering dimunculkan oleh media massa. Pemahaman para santri tentang statusnya sebagai umat Islam dan sekaligus sebagai warga negara Indonesia yang bukan negara Islam; cukup mantap dan tidak menganggap ada hal yang kontroversial; artinya pemahaman ajaran agama Islam digabungkan dengan pemahaman tentang peraturan negara; yang keduanya bersifat ‘terbuka’ dalam penafsiran dan pelaksanaan.  Kepercayaan, nilai, dan harapan para santri tentang politik (kekuasaan) negara dan pemerintah, umumnya bermuara pada adanya bukti atau fakta bahwa, penyelenggaraan negara berjalan dengan tertib, aman, sejahtera, dan yang penting tidak ada KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme). Walaupun mereka meragukan akan kualitas kepemimpinan umat Islam saat ini; namun santri berharap agar negara dapat menegakkan hukum Islam secara konsisten. Dalam penyelenggaraan pemilu yang akan datang para santri memiliki kepercayaan pada personil-personil yang jujur dan profesional, yang diharapkan datang dari muslim-muslim yang berkualitas. Selama ini terjadi krisis kepercayaan pada umat Islam sendiri, karena realitas bicara, bahwa, belum tentu panitia pemilu yang muslim, menjadi jaminan pemilu tahun 2004 berjalan tertib, aman, dan sukses.  Sumber dan media yang digunakan para santri untuk memperoleh informasi tentang pemilu, pertama saluran televisi, kedua surat kabar, ketiga radio. Adapun saluran komunikasi langsung diperoleh dari guru dan terakhir dari orang tua. Adapun materi (content) informasi yang dibutuhkan santri adalah tentang hak dan Kewajiban sebagai warga negara, termasuk isu hak azasi manusia; kemudian kewajiban pemerintah/pemimpin kepada rakyat dan tentang hukum & demokrasi. Untuk itu media massa merupakan sumber utama dan penting dalam sosialisasi tentang pemilu.
Sistem Komunikasi dan Informasi di Indonesia Rachmiatie, Atie
Mediator Vol 1, No 1 (2000)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Suatu Perubahan dan Tantangan Masa Depan Terdapat perubahan pola komunikasi dan informasi pada masyarakat. terutama perubahan dari segi perangkat keras, perangkat lunak. dan sumber daya manusia, yang berpengaruh terhadap sistem komunikasi dan informasi nasional, baik yang terjadi pada individu maupunpada lembaga/institusi yang berkaitan. Perubahan menyangkut pulapada kondisi organisasi pemerintah yang terkait dengan pengelolaan informasi. yaitu dengan ditata kembalinya sistem administrasi dan manajemen, baik secara intern, maupun ekstern berkaitan dengan organisasi luar. Apresiasi masyarakat terhadap materi informasi. pada kenyataannya. belum tersosialisasikan secara optimal. karena hal ini tergantung pada kebutuhan dan prioritas kebijakan institusi pemerintahan setempat. Dengan demikian. tidak semuajenis isi/materi informasi mendapatkan porsi yang sama dalam pemasyarakatannya.
Profil Jurnalis di Era Reformasi: Studi Kualitatif dengan Pendekatan Sense Making tentang Profil Sumber Daya Manusia di Media Cetak, Radio, dan Televisi Rachmiatie, Atie
Mediator Vol 2, No 1 (2001)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu bentuk kinerja profesi dapat diukur dari produktivitas, yakni bentuk dan target produksi informasi serta waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan suatu produk. Selain itu, kinerja mencerminkan pula prestasi kerja yang diukur dari prioritas kerja, penghargaan atau sanksi yang pernah diperoleh. Berdasarkan penemuan penelitian di lapangan, bentuk produk informasi yang dihasilkan wartawan media cetak relatif hampir sama, yakni berupa berita, artikel, kolom opini, atau depth reporting. Untuk wartawan televisi dan radio, terdapat nuansa yang berbeda, yakni bahwa bentuk acara yang dihasilkannya lebih berupa bentuk-bentuk semacam talkshow, siaran reguler, filler /opini, spot iklan, ulasan berita, atau bentuk publikasi lainnya. Waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan karya jurnalistik, ternyata cukup beragam, sedangkan target produksi yang harus dicapai pada dasarnya ditentukan oleh motivasi kerja pribadi atau keinginan “atasan”. 
Paradigma Baru Dakwah Islam: Perspektif Komunikasi Massa Rachmiatie, Atie
Mediator Vol 3, No 1 (2002)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Terdapat pergeseran atau perubahan karakteristik media massa dan khalayak sasaran sejalan dengan perubahan secara internal suatu bangsa/negara dalam tatanan dunia internasional yang perlu diantisipasi oleh umat Islam, termasuk dalam kegiatan dakwah Islam. Kini, karakteristik komunikasi massa telah bergeser dari linier ke konvergensi. Di sini lain, khalayak pun cenderung bersifat akti[. kritis, dan selekti[. sehingga untuk mengembangkan dakwah yang professional, diperlukan tahapan-tahapan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi dakwah secara professional pula.
"Feedback" terhadap Layanan dan Aturan Pemerintah : Sebuah Studi Kasus Rachmiatie, Atie
Mediator Vol 3, No 2 (2002)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dari beragam unsur komponen komunikasi, umpan balik atau feedback merupakan unsur yang agaknya tidak banyak mendapatkan perhatian para peneliti komunikasi, yang umumnya lebih tertarik untuk mengungkap kedigjayaan komunikator atau memfokuskan perhatian pada penafsiran pesan komunikasi. Padahal, umpan balik memiliki peran yang tidak kalah menentukan dalam proses komunikasi, karena dapat membantu perencana komunikasi mengetahui tanggapan khalayak terhadap proses komunikasi yang tengah berlangsung. Studi kualitatif ini merupakan satu dari sedikit riset yang berusaha mengungkap peranan feedback. Mengambil objek penelitian berupa UU No. 22 dan UU No. 25 tentang Otonomi Daerah dan Perimbangan Keuangan Pusat-Daerah. diperoleh kesimpulan bahwa umpan balik ternyata lebih banyak yang bersifat positif,dalam arti mendukung objek penelitian. Kendatidemikian, dalam konteks teori Sibernetika yang dirumuskan Norbert Wiener, fenomena ini perlu diwaspadai karena umpan balik positif justru memiliki potensi meneguhkan atau memperbesar penyimpangan yang ada dalam strategi komunikasi, dan bukannya menetralisir penyimpangan tersebut.
Keberadaan Radio Komunitas sebagai Eskalasi Demokratisasi Komunikasi pada Komunitas Pedesaan di Jawa Barat Rachmiatie, Atie
Mediator Vol 6, No 2 (2005): Bagaimana Kita Menjelaskan Penerapan Teknologi?
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The main problem researched in this thesis was the existence of community radios in villages, that was about the roles of function of them correlated with the escalation of democratization in communication. The research was conducted in two Kecamatans that had different characteristics, that was Kecamatan Cisewu which was minim in any information exposure and geographically closed (blank spot) and Kecamatan Wanayasa which was relatively open to access any information. The theory used to study the problem were Habermas Communicative society theory and Uses and Dependency theory. The theory explained the correlation between social system and communication media system at a community. The democratization of communication was explained by Communitarianism Democracy Theory – Tehranian. The research method used was qualitative method with etnography communication. Data were collected through depth interview and focus group discussion. The key informan woman were formal and informal social leaders and the person who managed community radios. Focus group discussion was conducted to group of women, men, youths, and others ot both of kecamatans. Analysis of etnography of communication try to explore the native language, that was sundanese, used by the member of community, wether with or without community media. The result of the research is accordance with research question.The availability contribute awwarness about communication and information right for the community members. The public community process through radio community is the implementation of the daily public behaviour pattern of the community. The process of democratization communication run slower in the closed area, yet it is more dynamic in the opened area.
Konsistensi Penyelenggaraan RRI dan TVRI sebagai Lembaga Penyiaran Publik Rachmiatie, Atie
Mediator Vol 7, No 2 (2006): Bagaimana Kita Menafsirkan Komunikasi Pembangunan?
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Broadcasting Act No. 32/2002 has transformed Radio Republik Indonesia (RRI) and Televisi Republik Indonesia (TVRI) from a state-owned-body to public-broadcasting-service. This research aimed to investigate the impacts experienced by those two organizations concerning their philosophies, role, functions, and its implementation on operational levels. Utilizing case studies in West Java and South Sulawesi (Makasar), it is found that broadcasting dynamics in both area are highly dynamic. On the level of normative, both are consistent enough. But on the level of empirical implementation, there were still many obstacles. Although institutional structure relatively proportional, this research found that local autonomy spirit is rarely
Konvergensi Media dan Politik Pencitraan Bangsa Atie Rachmiatie
Observasi Vol 10, No 2 (2012): Digitalisasi dan Konvergensi Media
Publisher : Observasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2001.724 KB)

Abstract

Konvergensi telah menghasilkan berbagai media baru, dan digital telah membawa perubahan besar pada pola dan perilaku komunikasi masyarakat, terutama dalam konteks kehidupan individu, ekonomi dan bisnis, politik serta sosial budaya. Posisi media dalam konteks pencitraan bangsa berada ditengah-tengah antara organisasi politik dengan warga negara. Media akan menjadi jembatan interaksi antara organisasi politik dengan warga negara. Untuk membangun citra positif suatu bangsa akan sangat bergantung pada historis, kondisi, dan situasi riil serta permasalahan yang dihadapi oleh bangsa tersebut. Oleh karena itu perlu memperluas jangkauan penyebarluasan citra sebuah bangsa yang ingin dibentuk atau dibangun melalui pemanfaatan konvergensi media komunikasi dan informasi yang diatur oleh regulasi.
"Feedback" terhadap Layanan dan Aturan Pemerintah: Sebuah Studi Kasus Atie Rachmiatie
MediaTor (Jurnal Komunikasi) Vol 3, No 2 (2002): Memilih Pendekatan dalam Penelitian: Kuantitatif atau Kualitatif?
Publisher : Pusat Penerbitan Universitas (P2U) LPPM Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/mediator.v3i2.780

Abstract

Dari beragam unsur komponen komunikasi, umpan balik atau feedback merupakan unsur yang agaknya tidak banyak mendapatkan perhatian para peneliti komunikasi, yang umumnya lebih tertarik untuk mengungkap kedigjayaan komunikator atau memfokuskan perhatian pada penafsiran pesan komunikasi. Padahal, umpan balik memiliki peran yang tidak kalah menentukan dalam proses komunikasi, karena dapat membantu perencana komunikasi mengetahui tanggapan khalayak terhadap proses komunikasi yang tengah berlangsung. Studi kualitatif ini merupakan satu dari sedikit riset yang berusaha mengungkap peranan feedback. Mengambil objek penelitian berupa UU No. 22 dan UU No. 25 tentang Otonomi Daerah dan Perimbangan Keuangan Pusat-Daerah. diperoleh kesimpulan bahwa umpan balik ternyata lebih banyak yang bersifat positif,dalam arti mendukung objek penelitian. Kendatidemikian, dalam konteks teori Sibernetika yang dirumuskan Norbert Wiener, fenomena ini perlu diwaspadai karena umpan balik positif justru memiliki potensi meneguhkan atau memperbesar penyimpangan yang ada dalam strategi komunikasi, dan bukannya menetralisir penyimpangan tersebut.
Paradigma Baru Dakwah Islam: Perspektif Komunikasi Massa Atie Rachmiatie
MediaTor (Jurnal Komunikasi) Vol 3, No 1 (2002): Atas Dasar Apa: Mediator Kali ini
Publisher : Pusat Penerbitan Universitas (P2U) LPPM Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/mediator.v3i1.761

Abstract

Terdapat pergeseran atau perubahan karakteristik media massa dan khalayak sasaran sejalan dengan perubahan secara internal suatu bangsa/negara dalam tatanan dunia internasional yang perlu diantisipasi oleh umat Islam, termasuk dalam kegiatan dakwah Islam. Kini, karakteristik komunikasi massa telah bergeser dari linier ke konvergensi. Di sini lain, khalayak pun cenderung bersifat akti[. kritis, dan selekti[. sehingga untuk mengembangkan dakwah yang professional, diperlukan tahapan-tahapan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi dakwah secara professional pula.