Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Pembinaan Mahasiswa Mengantisipasi Krisis Identitas Diri di STT Real Batam Fredy Simanjuntak; Delfi Delfi; David Martinus Gulo; Messy Causa Primay; Yosepin Koreanti Hutabarat; Debora Agustina Ratu
Real Coster : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 4, No 1: Maret 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (451.064 KB) | DOI: 10.53547/rcj.v4i1.96

Abstract

Self-identity in a Christian perspective is very vital, especially in student life. A good self-identity is a process that is continuously formed through correct self-understanding. Individuals who do not have a good understanding of themselves will have the potential to experience an identity crisis which leads to being unable to accept themselves, difficult to realize the advantages and disadvantages that exist in themselves. Students are often a group that is quite vulnerable to experiencing a character crisis caused by a mistaken recognition of self-identity. This journal was compiled using descriptive qualitative methods. This paper aims to provide moral and psychological encouragement through fostering students so that they can understand their identity as followers of Christ. The results of this activity can be felt by students of STT Real Batam reaching 75%. This can be seen in the activities and behaviour of students both in the campus environment, dormitories and churches where they minister.Crisis, Self-Identity, STT Real BatamAbstrakIdentitas diri dalam perspektif kekristenan sangatlah vital, terutama pada kehidupan mahasiswa. Identitas diri yang baik adalah proses yang dibentuk terus melalui pemahaman diri yang benar. Individu yang tidak memiliki pemahaman yang baik mengenai dirinya, akan berpotensi mengalami krisis identitas yang berujung pada tidak mampu menerima diri sendiri, sulit menyadari keunggulan maupun kekurangan yang ada pada dirinya. Mahasiswa kerap menjadi kelompok yang cukup rentan mengalami krisis karakter yang disebabkan oleh pengenalan yang keliru akan identitas diri. Penelitian ini disusun dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif. Paper ini bertujuan untuk memberi dorongan secara moral dan psikologi lewat pembinaan mahasiswa supaya dapat memahami identitas dirinya sebagai pengikut Kristus. Hasil dari kegiatan ini dapat dirasakan oleh mahasiswa STT Real batam mencapai 75%. Hal ini nampak pada aktifitas dan perilaku mahasiswa baik di lingkungan kampus, asrama maupun gereja di mana mereka melayani
Amanat Penggembalaan dalam Ruang Virtual Fredy Simanjuntak; Dewi Lidya Sidabutar; Yudhy Sanjaya
THRONOS: Jurnal Teologi Kristen Vol 1, No 2 (2020): Juni 2020
Publisher : Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (467.782 KB) | DOI: 10.55884/thron.v1i2.6

Abstract

The outbreak of the covid-19 outbreak made religious affiliation and the practice of church organizations transition to present stewardship and herding ministry virtually. The enactment of Social and Psychological distancing as well as the temporary closure of houses of worship have opened new patterns in online interaction. This has become a phenomenon in the process of church communication on online media called the internet. It is undeniable that humans with any religious background are still sociological creatures. This is consistent with Martin Heidegger's term that humans as Dasein, where Dasein's behavior is active involvement with everyday objects. Like relationships with other people, objects, and with himself (reflective). The purpose of this paper is to find out the relevance of the Pastoral mandate in the current pandemic and is it effective in the future? This study is a critical analysis to try to understand the meaning of a situation or event from a holistic perspective.Abstrak: Merebaknya wabah covid-19 membuat afiliasi agama dan praktik organisasi gereja bertransisi untuk menyajikan penatalayanan serta pelayanan penggembalaan secara virtual. Pemberlakuan Social dan pshyscal distancing serta penutupan sementara rumah ibadah secara public telah membuka pola baru dalam interaksi secara daring. Hal ini telah menjadi fenomena tersendiri dalam proses komunikasi gereja pada media online yang disebut internet. Tidak dapat dipungkiri bahwa manusia dengan latar belakang agama apapun masih menjadi makluk sosiologis. Hal ini sesuai dengan sebutan Martin Heidegger bahwa manusia sebagai Dasein, dimana perilaku Dasein adalah keterlibatan secara aktif dengan objek keseharian. Seperti hubungan dengan orang lain, benda, maupun dengan dirinya sendiri (reflektif). Tujuan dari paper ini adalah untuk menemukan relevansi amanat penggembalaan pada masa pandemic sekarang dan efektifkah secara berkelanjutan untuk waktu yang akan datang? Penelitian ini bersifat Analisis kritis untuk mencoba memahami pemaknaan situasi atau peristiwa dari sudut pandang yang utuh. 
Pengaruh Sikap Kerendahan Hati dan Keteladanan Pemimpin Berdasarkan Yohanes 13:4-5 terhadap Pertumbuhan Gereja di Kota Batam Lydia Caesera Saragi; Yudhy Sanjaya; Fredy Simanjuntak
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 4, No 2: Pebruari 2022
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v4i2.79

Abstract

This study aimed to determine the effect of humility and exemplary of a leader based on John 13:4-5 on church growth in Batam. The respondents of this study were church members who had been active for more than one year. The data analysis technique used is multiple linear regression analysis. It used a quantitative method with primary data sources obtained directly by using a questionnaire. The results showed that partially the leader’s humility based on John 13:4-5 had a positive effect but not significant on church growth in Batam. Meanwhile, the exemplary of a leader based on John 13:4-5 had a positive and significant effect on church growth in Batam. Simultaneously, it was found that the humility and exemplary of a leader based on John 13:4-5 had a significant positive effect on church growth in Batam.
Pembinaan Psikoedukasi Bagi Warga Binaan Di Lembaga Permasyarkatan Perempuan Kelas II Batam Fredy Simanjuntak; Rita Evimalinda; Ester Lina Situmorang; Lidya Dewi S; Yefta Arisma; Ceria Ceria; Susilo Susanto
Real Coster : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 3, No 1: Maret 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (383.575 KB) | DOI: 10.53547/rcj.v3i1.119

Abstract

This service aims to provide psycho-educational guidance to Christian female inmates at the Class II B Women's Prison in Batam so that the inmates return to fully understand themselves as noblewomen. This study involved 35 Christian female inmates in the Class II B Women's Prison in Batam. The methods used are self-compassion therapy, psychoeducation and woman discussion, as well as games for participants. Based on the results of the study, it can be concluded that there is an increase in the inmates' understanding of Self-Compassion so that after this therapy the inmates understand the recovery of their image and are able to accept themselves with their current conditions in prison. Furthermore, for psychoeducation of the role of women in ideals, participants have the tools to evaluate themselves with their roles so far and desire to experience transformation in themselves to become noblewomen in society.AbstrakPengabdian ini bertujuan untuk memberikan pembinaan psiko-edukasi pada warga binaan wanita kristen di Lapas Perempuan Kelas II B Batam, agar warga binaan kembali memahami dirinya secara utuh sebagai perempuan yang mulia. Penelitian ini melibatkan 35 warga binaan wanita beragama Kristen yang ada di Lapas Perempuan Kelas II B Batam. Metode yang digunakan adalah self-compassion therapy, psikoedukasi dan woman discussion, serta games bagi peserta. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa ada peningkatan pemahaman peserta warga binaan tentang Self-Compassion agar setelah terapi ini warga binaan memahami pemulihan akan gambar dirinya serta mampu menerima dirinya dengan kondisi saat ini di Lapas. Selanjutnya untuk psikoedukasi peran perempuan dalam cita-cita , peserta memiliki alat untuk mengevaluasi diri dengan perannya selama ini dan berkeinginan untuk mengalami transformasi pada diri sendiri untuk menjadi perempuan yang mulia di masyarakat.
Studi Analek Konfusius Tentang Allah berdasarkan Konsep Wahyu Umum Herman; Fredy Simanjuntak; Fransiskus Irwan Widjaja; Noh Ibrahim Boiliu
APOSTOLOS Vol 1 No 2 (2021): November
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.835 KB) | DOI: 10.52960/a.v1i2.21

Abstract

The fall of man has damaged the intimate relationship between man and God. Despite in the sinfulness, man still bear strong desire (semen religionis) to return to God, but that desire is limited due to the damaged ability. The sin-tainted ability only allows man to know God wholly through God's complete revelation (in general and specific). The purpose of this paper is to review Confucius' ability and efforts to know God through general revelation. The method used is descriptive research with qualitative approach, namely by describing Confucius’ complete understanding about God recorded in the Holy Word (Confucius Analect). This study concludes that Confucius understands God from the attributes of God which is expressed in general revelation in accordance with the maximum function of general revelation. Keywords:
Merengkuh Spiritualitas Persahabatan Ekumenis: Sebuah Refleksi Paradigma Misi Gereja Posmodern Fredy Simanjuntak; Jammes Juneidy Takaliuang; Budin Nurung
JURNAL TEOLOGI GRACIA DEO Vol 4, No 2: Januari 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v4i2.101

Abstract

The narrative about God's Mission always manifests in the space of friendship with the world even after the fall until today's Postmodern era. In today's world, the world is largely globalized and urbanized. The church no longer lives in a closed community with limited interaction. Cultural Networks are interconnected into a system. Yet most churches still grapple with theologically and dogmatically fragmented paradigms. The church needs a friendly spiritual restoration as the body of Christ to meet God's mission with ecumenical energy. This study aims to adapt the relevant mission paradigm through the spirituality of ecumenical friendship in postmodern reality. This study uses a descriptive method with critical and socio-theological discourse analysis. It is hoped that through this research the Church can make more serious observations and position itself as an integralist to become a bridge of friendship in carrying out God's mission in a relevant way. AbstrakNarasi mengenai Misi Allah senantiasa mewujud dalam ruang persahabatan dengan dunia sekalipun pasca kejatuhan hingga di masa Postmodern sekarang ini. Di masa kini dunia sebagian besar terglobalisasi dan terurbanisasi. Gereja tidak lagi hidup dalam komunitas tertutup dengan interaksi terbatas. Jaringan Budaya saling berhubungan ke dalam suatu system. Namun sebagian besar gereja-gereja masih bergulat dalam paradigma yang terfragmentasi secara teologis dan dogmatis. Gereja memerlukan restorasi spiritual yang bersahabat sebagai tubuh Kristus untuk menyongsong misi Allah dengan energi ekumenis. Penelitian ini bertujuan untuk mengadaptasikan paradigma misi yang relevan melalui spiritualitas persahabatan ekumenis dalam realitas postmodern.Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan analisis wacana kritis dan sosio-teologis. Diharapkan melalui penelitian ini Gereja dapat melakukan pengamatan yang lebih serius serta menempatkan dirinya sebagai integralis untuk menjadi jembatan persahabatan dalam mengemban misi Allah secara relevan.
Dari Spiritualitas Kepada Moralitas: Pelajaran Kepemimpinan Dari Kehidupan Yusuf Fredy Simanjuntak; Irfan Feriando Simanjuntak; Fransiskus Irwan Widjaja; Yudhy Sanjaya; Johannes Tarigan
EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership Vol 2, No 2 (2021): Pendidikan Agama Kristen dan Kepemimpinan Kristen
Publisher : Sekolah Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47530/edulead.v2i2.79

Abstract

In the History of Ancient leadership, the Old Testament is a collection of books containing narratives with the largest collection of leadership case studies ever written. The author observes the significance of biblical leadership found throughout scripture because it is rooted in the way God chose to work with mankind. However, the role of leadership is undeniably determining the welfare and glory of those they lead. In this study, the author tries to specifically examine Yusuf's leadership. A leadership pattern that is widely discussed because it is full of spiritual and moral dimensions. The purpose of this study is to provide a historical analysis of (1) Spirituality and morality in Yusuf's leadership. (2) Application of Joseph's Leadership Experience to the Church Today? The method used is descriptive analysis in the book of Genesis 37-50. The result of this research is that Yusuf's leadership can be a model as a good lesson not only for individuals in leadership positions but for all those who want to improve their character.AbstrakDalam Sejarah kepemimpinan Kuno, kitab Perjanjian Lama merupakan kumpulan kitab yang berisi narasi dengan berbagai kumpulan studi kasus kepemimpinan terbesar yang pernah ditulis. Penulis mengamati signifikansi kepemimpinan alkitabiah ditemukan di seluruh kitab suci karena berakar pada cara Allah memilih untuk bekerja dengan umat manusia. Bagaimanapun peranan kepemimpinan tidak terbantahkan menentukan perihal kesejahteraan maupun kejayaan mereka yang dipimpin. Dalam Penelitian ini penulis mencoba untuk mengkaji secara khusus kepemimpinan Yusuf. Suatu pola kepemimpinan yang banyak dibicarakan karena sarat akan dimensi spiritual dan moralnya. Tujuan penelitian ini untuk memberikan analisis historis mengenai (1) Spiritualitas dan moralitas dalam kepemimpinan Yusuf. (2) Aplikasi dari Pengalaman Kepemimpinan Yusuf Bagi Gereja Di Masa Kini. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif pada kitab Kejadian 37-50. Hasil penelitian ini adalah kepemimpinan Yusuf menjadi model berharga sebagai pelajaran yang baik bukan hanya bagi individu dalam posisi kepemimpinan tetapi semua orang yang ingin meningkatkan karakter mereka.
Refleksi konseptual misi Yesus melalui keramahan gereja di Indonesia Simanjuntak, Fredy; Papay, Alexander Djuang; Lahagu, Ardianto; Evimalinda, Rita; Ferry, Yusak Hentrias
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 7, No 2: Teologi Menstimulasi Nilai-nilai Kemanusiaan dan Kehidupan Bersama dalam Bingkai Kebang
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v7i2.329

Abstract

Jesus, reflecting on the context of the mission in the Gospels, often touches on various dimensions, both physical, emotional, intellectual, social, and spiritual for each person and his environment. Many Gospel narratives show the face of friendliness as well as the social responsibility of Jesus in public spaces. Jesus didn't just stop at the gracious nature of God in His mission of ministry but also inspired his listeners to bring out the same kind of hospitality that Jesus did. This needs to reflect the portrait of church life in Indonesian society, which in general tends to focus on religious formalism. This paper aims to explore the concept of Jesus' mission and to realize it practically in the context of Indonesian society today. The method used is descriptive analysis and a hermeneutic approach to the narratives in the Gospels. This study seeks to offer a contextual concept and model of Jesus' ministry to the community served not only as an object of God's hospitality but also as a subject who actively participates in presenting hospitality in public spaces. In conclusion, the mission that Jesus intended to be carried forward by the church was God's mission which Jesus himself had accomplished during his earthly ministry, namely manifesting God's hospitality for humans through the preaching of the gospel and social care.AbstrakYesus, dalam konteks misi di Injil, kerap menyentuh berbagai dimensi, baik secara fisik, emosi, intelektual, sosial, dan spiritual, setiap orang dengan lingkungannya. Narasi Injil banyak menunjukkan wajah keramahan sekaligus tanggung jawab sosial Yesus di ruang publik. Yesus tidak hanya berhenti pada sifat keramahan Allah dalam misi pelayanan-Nya, namun juga menginspirasi para pendengarnya untuk menghadirkan keramahan yang sama, seperti yang Yesus lakukan. Hal ini perlu menjadi refleksi potret kehidupan bergereja pada masyarakat Indonesia, yang umumnya cenderung terfokus kepada formalisme agawami. Artikel ini bertujuan untuk menggali konsep misi Yesus serta merealisasikan secara praktis dalam konteks masyarakat Indonesia di masa ini. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif serta pendekatan yang hermeneutis pada narasi kitab-kitab Injil. Penelitian ini berupaya menawarkan konsep dan model pelayanan Yesus yang kontekstual kepada komunitas yang dilayani, bukan hanya sebagai objek keramahan Allah, namun sekaligus sebagai subjek yang aktif berpartisipasi menghadirkan keramahan pada ruang publik. Kesimpulannya, jelas terlihat bahwa misi yang dimaksudkan Yesus untuk diteruskan oleh gereja adalah misi Allah yang telah dikerjakan Yesus sendiri selama pelayanan-Nya di dunia, yaitu memanifestasikan keramahan Allah bagi manusia melalui pemberitaan Injil dan kepedulian sosial.
Menumbuhkan Jiwa Enterpreneurship Mahasiswa STT Real Batam Melalui Kegiatan PKM Tahu Tempe Sebagai Jembatan Pewartaaan Injil Fredy Simanjuntak; Mangiring Tua Togatorop; Ardianto Lahagu; Roy Martin Simanjuntak; Stefanus Meo Nekin
Real Coster : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 3, No 2: September 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (462.112 KB) | DOI: 10.53547/rcj.v3i2.123

Abstract

This article discusses the Creativity Program initiated by the Theology Study Program with STT Real Batam students to take advantage of their free time to cultivate the entrepreneurial spirit of students through the skills of making tofu and tempeh. This was initially motivated by daily needs in the dormitory so that students could also eat simple, everyday foods that are no less healthy and beneficial for the body. The implementation method for this PkM program is by visiting one of the tofu-tempe production centres in Batu Aji. The purpose of the activity is to provide skills to students so as to foster an entrepreneurial spirit for STT Real Batam students. From the results of the evaluation, it was noted that he had attended several pieces of training from theory to practice. Students are motivated to develop such training in the campus environment. The implementation of this PKM is very useful to increase student creativity so that the production of tofu and tempeh can be used as a medium for Micro, small and medium enterprises and at the same time to complement the daily food needs of the hostel.AbstrakArtikel ini membahas tentang Program Kreativitas yang digagas oleh Prodi Teologi dengan mahasiswa STT Real Batam untuk memanfaatkan masa luang untuk menumbuhkan jiwa enterpreneuship mahasiswa melalui keterampilan pembuatan tahu dan tempe. Hal ini awalnya dimotivasi kebutuhan sehari-hari di asrama supaya mahasiswa pun dapat mengkomsi makanan sederhana sehari-hari yang tak kalah sehat dan bermanfaat bagi tubuh. Metode pelaksanaan pada program PkM ini yaitu dengan mengunjungi salah satu pusat produksi tahu-tempe di Batu Aji. Tujuan kegiatan adalah untuk memberikan meningkatkan keterampilan kepada mahasiswa sehingga menumbuhkan jiwa enterpreneurship bagi mahasiswa STT Real Batam. Dari hasil evaluasi, tercatat selama mengikuti beberapa kali pelatihan dari teori sampai praktek. Mahasiswa termotivasi untuk mengembangkan pelatihan pembuatan tersebut di lingkungan kampus. Pelaksanaan PKM ini sangat berguna untuk meningkatkan kreativitas mahasiswa untuk ditambah hasil produksi tahu dan tempe dapat dijadikan sarana UMKM dan sekaligus untu melengkapi keperluan makanan asrama sehari-hari.
Menuju Prinsip Teologi Keseimbangan Di Era Digital: Refleksi Gereja dalam Transisi Pandemi Covid-19 Fredy Simanjuntak; Fransiskus Irwan Widjaja; Irfan Feriando Simanjuntak; Sabar Manahan Hutagalung; Mangiring Tua Togatorop
Integritas: Jurnal Teologi Vol 3 No 2 (2021): Integritas: Jurnal Teologi
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Jaffray Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47628/ijt.v3i2.70

Abstract

Pandemi Covid-19 telah menantang gereja untuk bermigrasi ke ruang virtual. Hal ini tentu mempengaruhi spiritualitas gereja dalam ruang ganda. Melalui artikel ini akan dikaji 1) Bagaimana gereja dapat menghubungkan spiritualitas dengan teknologi tanpa tersesat dalam pusaran kehampaan teknologi modern itu sendiri, 2) Bagaimana gereja dapat menavigasi lanskap baru ini tanpa kehilangan fokus pada misi yang diberikan Tuhan? Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Tulisan ini bertujuan untuk membingkai paradigma baru bagi gereja menuju prinsip keseimbangan antara kehidupan material dan spiritualitas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sistem teologi dalam agama Kristen merupakan kerangka konseptual transformasional yang selalu segar, fleksibel dan seimbang dari berbagai dimensi kehidupan dan konteks. Situasi yang berubah membutuhkan perspektif dan praktik transformatif agar gereja tidak kehilangan spiritualitas dan misi Tuhan dalam konteks bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.