Claim Missing Document
Check
Articles

Analisis Faktor Faktor yang Mempengaruhi Nilai Tukar Petani Tanaman Pangan di Kabupaten Jombang Hanani, Nuhfil; Nirmala, Arlia Renaswari; Muhaimin, Abdul Wahib
HABITAT Vol 27, No 2 (2016)
Publisher : Department of Social Economy, Faculty of Agriculture , University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (350.576 KB) | DOI: 10.21776/ub.habitat.2016.027.2.8

Abstract

Nilai Tukar Petani (NTP) merupakan salah satu ukuran dalam penentuan kesejahteraan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan posisi NTP Padi dan Nilai Tukar Petani komoditas pangan lain di Indonesia, mengetahui penghitungan NTP Padi dan menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap NTP Padi. Penelitian dilakukan di Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Metode analisis yang digunakan yaitu ratio harga laspeyres antara harga yang diterima terhadap yang dibayar petani. Untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap NTP menggunakan Regresi Linier Berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai tukar petani dari tahun dasar mengalami kenaikan dan penurunan pada tahun berikutnya. Pada Tahun 2015 nilai tukar petani berada pada kondisi yang cukup sejahtera.
Kelayakan dan Strategi Pengembangan Sapi Potong untuk Pengentasan Kemiskinan di Aceh Nuhfil Hanani; Jamilah -
Jurnal Aplikasi Manajemen Vol 9, No 2 (2011)
Publisher : Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1332.214 KB)

Abstract

Potential development of beef cattle for Aceh region sufficient large, because supported by market potential enough milt, in other one are development region of beef cattle who enough potential. Because of that suitable and development strategy of beef cattle as superior commodity must be examine who purposed for raise poverty in Aceh.This research as examined of suitable with analyzed approach of project evaluation with entered suitable substance for purposed raise poverty. Infiltration of strategy use SWOT analyzed who completed with step development of agribusiness. The based of business scale, only at 5 beef scale who suitable developed because personal income at poverty line, whereas development of 2 beef scale only suitable if be stall and beef seed aid. On 3 beef scale only suitable developed if be one beef seed aid or stall aid from stakeholder. Development beef cattle must be do with aggressive strategy, mean not again secunder business, but true commecial business. Direct of development must be AUDS-NAD system (Region supperior agribusiness based beef cattle in Aceh) are integrited of development of beef, organic agriculture, raising agroindustry and development of beef cattle business.Keywords: beef cattle, SWOT analyzed, poverty, agribusiness
Model Polikultur Udang Windu (Penaeus monodon Fab), Ikan Bandeng (Chanos-chanos Forskal) dan Rumput Laut (Gracillaria Sp.) Secara Tradisional Murachman - -; Nuhfil - Hanani; Soemarno - -; Sahri - Muhammad
Indonesian Journal of Environment and Sustainable Development Vol 1, No 1 (2010)
Publisher : Graduate Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1036.813 KB)

Abstract

Abstrak Polikultur merupakan salah satu alternatif untuk mengatasi permasalahan air yang mengakibatkan penurunan produksi ikan di kolam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui menyusun pola manajemen polikultur udang windu (Penaeus monodon Fab.), ikan bandeng (Chanos-chanos Forskal) dan rumput laut (Gracillaria sp.). Penelitian dilakukan dengan metode studi kasus di Dusun Tanjung Sari, Desa Kupang, Kecamatan Jabon, Kabupaten Sidoarjo. Sampel penelitian diambil pada 18 lokasi polikultur dari tiga komoditas tersebut (udang windu, ikan bandeng dan rumput laut) dan 20 lokasi polikultur dari dua komunitas (udang windu dan ikan bandeng). Variabel yang dipergunakan pada penelitian ini adalah Variabel penelitian meliputi lingkungan makro tambak, karakteristik pembudidaya, cara pengelolaan tambak dan perlakuan–perlakuan yang diberikan, padat tebar, kualitas air, kesuburan air, produksi tambak, keuntungan pembudidaya polikultur dan model budidaya polikultur tiga komoditas. Model budidaya polikultur terdiri dari enam komponen yaitu penentuan lokasi tambak, persiapan tambak, pemeliharaan, panen, kelembagaan sosial dan kelembagaan ekonomi. Masing-masing komponne tersebut saling berhubungan. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa terdapat tiga faktor yang mendukung penentuan lokasi kolam, yaitu jenis tanah di atas kolam, sumber air tawar, sumber air laut, dan keberadaan hutan mangrove. Kualitas dan kesuburan air cukup baik dan berada pada kisaran standard kualitas air untuk tambak. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara padat tebar untuk udang windu dan ikan bandeng pada tipe polikultur tiga komoditas dan polikultur dua komoditas. Padat tebar rumput laut pada polikultur tiga komoditas adalah 975 kgha-1. Keberadaan rumput laut pada polikultur tiga komoditas dapat meningkatkan kualitas air menjadi lebih baik dibandingkan pada polikultur dua komoditas. Kandungan oksigen terlarut pada tambak adalah 165 mgl-1, tingkat kejernihan air 50.875 cm, NH3 0,157 mgl-1, H2S 0,025 mgl-1, NO2 0,109 mgl-1, PO4-3 0,461 mgl-1, pH 8,05, TOM 38.635 mgl-1, TSS 176,418 mgl-1, alkalinitas 4,665 mgl-1, suhu 32.96 °C, kadar garam 32,5, BOD 2,88 mgl-1 dan kandungan Pb 0,245 mgl-1. Secara kualitatif dan kuantitatif tingkat produksi udang windu adalah (201.11 kgha-1m-1) dan ikan bandeng (1180,56 kgha-1m-1) pada sistem polikultur tiga komoditas lebih tinggi daripada tingkat produksi di sistem polikultur dua komoditas. Secara kuantitatif diketahui bahwa untuk budidaya udang windu kelimpahan plankton adalah 11,466 ekor tiap liter, pertumbuhan absolut 23,93 g, lemak 0,604, tingkat kelangsungan hidup 53% dan rata-rata ukuran tubuh adalah  34 ekor tiap kg. Parameter untuk budidaya ikan bandeng adalah  kelimpahan plankton adalah 69,845 ekor tiap liter, pertumbuhan absolut 354,99 g, lemak 0,604, tingkat kelangsungan hidup 95% dan rata-rata ukuran tubuh adalah 4,25 ekor tiap kg. Keuntungan finansial pada polikultur tiga komoditas adalah Rp. 20.717.628 dan Rp. 11.924.115 pada polikultur dua komoditas untuk tiap hektar tambak pada satu musim tanam.   Katakunci: polikultur, ikan bandeng, komoditas, udang windu     Abstract Polyculture is an alternative to solving water quality problems leading to decrease of fish production in the ponds. The present research is aimed at establishing the management of polyculture of black tiger prawn, milkfish, and seaweed. This study employs method of case study in Dusun Tanjung Sari, Desa Kupang, sub-district of Jabon, Regency of Sidoarjo. Samples were collected from 18 polyculturers of three commodities (black tiger prawn, milkfish, and seaweed) and 20 polyculturers of two commodities (black tiger prawn and milkfish) by means of proportional sampling. Variables to be investigated were type of commodity, treatment in the polyculture processes, stocking density, water quality, mangrove forest, social and economic institutions, investment and operational funds, production, quality and fertility of water, and financial gain. Results of the present study show that the three-commodity model of polyculture consists of capability to determine pond sites, pond preparation, maintenance, harvesting, and social and economic institutions. There are three supporting factors in determining pond sites, namely pond bottom soils, sources of freshwater and seawater and the presence of mangrove forest. Water quality is in agreement with standards of water quality for ponds with relatively high fertility. Stocking densities for black tiger prawns and milkfish are not significantly different between two- and three-commodity polyculture. The stocking density for seaweed is 975 kgha-1 for three-commodity ponds. The presence of seaweed in the three-commodity polyculture ponds results in better water quality compared to the two-commodity polyculture ponds. Dissolved oxygen content is of 165 mgl-1, water clarity of 50,875 cm, NH3 of 0.157 mgl-1, H2S of 0.025 mgl-1, NO2 of 0.109 mgl-1, PO4-3 of 0.461 mgl-1, pH of 8.05, TOM of 38,635 mg-1l, TSS of 176,418 mgl-1, alkalinity of 4.665 mgl-1, temperature of 32.965°C, salinity of 32.5, BOD of 2.88 mgl-1 and Pb of 0.245 mgl-1. Production of black tiger prawns of 201.11 kgha-1m-1 and milkfish of 1180,56 kgha-1m-1 are higher than production of two-commodity polyculture ponds, both quantitatively and qualitatively. Quantitatively, it is shown that, for black tiger prawns, abundance of plankton within intestines are of 11,466 individuals for each liter, absolute growth is 23.93 g, fatness is 0.604114, survival of 53%, and average size of 34 animals for each kilogram. meanwhile, for milkfish, it is shown that abundance of plankton within intestines are of 69,845 individuals for each liter, absolute growth is 354.99 g, fatness is 0.814, survival rate of 95%, and average size of 4.25 animals for each kilogram. Financial profit of three-commodity polyculture amounts to Rp 20,717,628 per ha per culture season and two-commodity polyculture amounts to Rp 11,924,115 ha for each culture season. Keywords: Black Tiger Prawn, commodities, Milk Fish, polyculture
Buffering capacity of paddy field as the reservoir of rainwater and surface runoff in the Lowokwaru subdistrict, Malang, East Java Rina Suprihati; Nuhfil Hanani; S Gatot Irianto; S Soemarno
Journal of Degraded and Mining Lands Management Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (258.121 KB) | DOI: 10.15243/jdmlm.2018.052.1065

Abstract

Paddy fields produce ecological services that improve environmental quality in urban areas, one of them was flood control through retaining rainwater and surface runoff within the embankment of paddy field. The ability to retain water is known as the buffering capacity (BC), which is the function of soil moisture, embankment height, water inundation and rice-plant interception during the growing periode. The intermitten system of water inundation applied by farmers resulted in changes of the BC on daily basis. The calculation of BC was divided into five categories for accuracy, which were : (1) BC during the Harvest; (2) BC with inundation at vegetative and generative phase (VGG); (3) BC with inundation during Land Preparation and Planting phase (OTTG); (4) BC without inundation during the vegetative and generative phase (VGTG); and (5) BC without inundation during the land preparation and planting phase (OTTTG). The purpose of this research was to measure potential buffering capacity of paddy field in Lowokwaru Subdistrictand to estimate amount of rainwater and surface runoff which could be accommodated within the buffering capacity. The average of daily BC in seven different villages were 1,650.81– 3,961.81 m3/ha and the total BC for 241 paddy field was about 823,156.36 m3.It was only a small percentage of average daily BC filled by rainwater (14.07-33.31%) and left the rest to be filled by surface runoff water. The paddy field of 241 ha in Lowokwaru Subdistrictis was capable to receive surface runoff from surrounding areas up to 1,698.66 ha. 
INDIKATOR DAN PENILAIAN TINGKAT KERAWANAN PANGAN KELURAHAN UNTUK DAERAH PERKOTAAN Nuhfil Hanani; Sujarwo Sujarwo; Rosihan Asmara
Agricultural Socio-Economics Journal Vol 15, No 2 (2015)
Publisher : Socio-Economics/Agribusiness Department

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.665 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menyusun indikator kerawanan pangan tingkat kelurahan. Kegiatan penelitian terdiri dari 2 tahap, yaitu: (1) menyusun indikator kerawanan pangan daerah perkotaan tingkat kelurahan, dan (2) menilai tingkat kerawanan pangan kelurahan. Penelitian dilakukan di Jawa Timur dengan mengambil sampel kota Malang, Pasuruan dan Batu. Seleksi indikator kerawanan pangan tingkat kelurahan dilakukan menggunaan Analisis Faktor dengan metode ekstraksi Principal Components Analysis (PCA). Analisis kerawanan pangan menggunakan indeks komposit  dari seluruh indikator  dengan menggunakan References Based Analysis (RBA). Indikator kerawanan pangan yang sesuai dan tersedia untuk menganalisis kerawanan  pangan kelurahan adalah: konsumsi dan ketersediaan  pangan domestik  (%), keberadaan toko-toko pracangan/klontong, rata-rata ukuran rumah tangga (%), penduduk tidak bekerja/pengangguran (%), penduduk miskin (%), kematian bayi (IMR)  (perseribu), penduduk tidak akses air bersih (%), balita gizi kurang (%), penduduk dengan pendidikan kurang dari SD (%). Tidak ada kota yang memiliki kelurahan dengan kategori rawan atau sangat rawan, yang ada adalah agak rawan. Indikator yang menjadi penyebab rendahnya status ketahanan pangan tingkat kelurahan adalah jumlah pengangguran, kemiskinan dan IMR.
Estimasi Fungsi Biaya Pada Usaha Pembuatan Chip Ubi Kayu Sebagai Bahan Baku Mocaf (Modified Cassava Flour) Nuhfil Hanani; Anita Rahmi
Agricultural Socio-Economics Journal Vol 11, No 2 (2011)
Publisher : Socio-Economics/Agribusiness Department

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (310.134 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengestimasi fungsi biaya jangka pendek untuk menemukan bentuk dan penempatan kurva biaya dari usaha pembuatan chip ubi kayu sebagai bahan baku pembuatan MOCAF,  (2) menganalisis besarnya volume produksi pada tingkat penggunaan biaya produksi rata-rata terendah, (3) menganalisis besarnya volume produksi yang menghasilkan keuntungan maksimum. Pendugaan fungsi biaya menggunakan analisis regresi antara biaya total yang dikeluarkan produsen chip sebagai variabel terikat (dependent) dan besarnya output yang diperoleh sebagai variabel bebas (independent) dengan menggunakan data cross section. Pengolahan data menggunakan SPSS (Statistical Program for Social Science). Dari fungsi biaya yang terbentuk berdasarkan estimasi akan diketahui besarnya biaya variabel rata-rata terendah (AVC) pada saat nilainya sama dengan biaya marjinal (MC). Selanjutnya menggunakan analisis keuntungan maksimum sehingga diketahui besarnya produksi yang menghasilkan keuntungan maksimum. Hasil pendugaan fungsi biaya dengan analisis regresi kuadrat terkecil menunjukkan bahwa biaya dalam usaha pembuatan chip ubi kayu sebagai bahan baku MOCAF membentuk fungsi biaya kubik dimana TC= 34942,053 + 2983,603Q − 1,190Q2 + 0,001Q3 dengan R2 99,30%. Produksi chip dengan biaya rata-rata (AVC) terendah per kilogram tercapai pada saat volume output 595 kg chip. Keuntungan maksimum yang dapat diperoleh produsen chip per proses produksi berdasarkan  fungsi biaya hasil estimasi sebesar Rp 309.791,70 pada volume output sebesar 839,548 kg.Kata kunci: estimasi fungsi biaya,biaya variabel rata-rata, keuntungan maksimum, mocaf
PENGARUH PROGRAM KAWASAN RUMAH PANGAN LESTARI (KRPL) DALAM MENDUKUNG KEMANDIRIAN PANGAN DAN KESEJAHTERAAN RUMAH TANGGA (Studi Kasus di Kelurahan Rejomulyo, Kecamatan Kota, Kota Kediri) Annisahaq, Amelia; Syafrial, Syafrial; Hanani, Nuhfil
Habitat Vol 25, No 1 (2014)
Publisher : Department of Social Economy, Faculty of Agriculture , University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian bertujuan untuk : (1) menganalisis sejauh mana program KRPL mempengaruhi tingkat pendapatan rumah tangga di Kelurahan Rejomulyo, (2) menganalisis seberapa besar perubahan pola konsumsi pangan rumah tangga kawasan KRPL berdasarkan Pola Pangan Harapan (PPH), (3) menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi diversifikasi pangan (skor PPH). Hasil penelitian menunjukkan bahwa uji beda pendapatan usahatani pekarangan peserta KRPL berbeda nyata dengan pendapatan usahatani di pekarangan non peserta KRPL. Untuk skor PPH rata-rata peserta KRPL baru mencapai 80,53 dan non anggota KRPL sebesar 62,32. Skor ini masih berada di bawah skor PPH ideal, yaitu 100. Dari ke 8 kelompok bahan pangan yang dikonsumsi oleh masyarakat peserta KRPL, umbi-umbian berhasil memenuhi skor ideal PPH, dan kelompok padi-padian dan buah dan sayuran hampir mendekati skor ideal PPH. Sedangkan pada kelompok non Peserta KRPL, hanya kelompok padi-padian yang berhasil memenuhi skor ideal PPH. Terdapat tiga parameter yang berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat yaitu variabel Dummy Peserta/Non Peserta KRPL (D1), Jumlah Anggota Keluarga (X2), dan Luas Pekarangan (X3), Sedangkan variabel Usia Kepala Keluarga (X4) tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat yaitu Skor PPH. Kata Kunci : Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL), Kemandirian pangan,   Kesejahteraan rumah tangga, diversifikasi pangan
DAMPAK KEBIJAKAN PERKEDELAIAN TERHADAP KINERJA EKONOMI KEDELAI DI INDONESIA Fitrianto, Zakki Faizin; Hanani, Nuhfil; Syafrial, Syafrial
HABITAT Vol 25, No 2 (2014)
Publisher : Department of Social Economy, Faculty of Agriculture , University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kedelai merupakan komoditas pangan yang utama di Indonesia setelah padi dan jagung. Sejalan dengan bertambahnya jumlah penduduk, kebutuhan kedelai terus meningkat dari tahun ke tahun. Di sisi lain, produksi kedelai di dalam negeri memiliki tren yang menurun setiap tahun. Kesenjangan antara jumlah permintaan dan penawaran kedelai di dalam negeri, selama ini dipenuhi dengan cara impor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran umum perekonomian kedelai di Indonesia, menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap ekonomi kedelai dan mensimulasi alternatif kebijakan yang dapat memperbaiki kinerja ekonomi kedelai di Indonesia. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dalam bentuk tahunan dari tahun 1990-2013. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif, model persamaan simultan (2SLS) dan simulasi alternatif kebijakan. Hasil penelitian menunjukkan produksi kedelai dan luas areal tanam kedelai memiliki tren menurun, sedangkan produktivitas kedelai, permintaan kedelai, impor kedelai dan harga kedelai domestik memiliki tren positif/meningkat setiap tahunnya. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perekonomian kedelai di Indonesia yaitu luas areal tanam kedelai, produktivitas kedelai, permintaan kedelai, impor kedelai dan harga kedelai domestik serta terdapat variabel-variabel yang berpengaruh pada masing-masing faktor. Terdapat beberapa skenario alternatif kebijakan guna memperbaiki kinerja perekonomian kedelai di Indonesia, diantaranya adalah perluasan areal tanam kedelai, pemberian subsidi pupuk, peningkatan produktivitas, pemberlakuan tarif impor kedelai, dan kuota impor kedelai. Kata kunci : kedelai, permintaan, penawaran, kebijakan produksi dan impor
PERILAKU EKONOMI KAKAO INDONESIA Istiqomah, Syarifatul; Dwiastuti, Rini; Hanani, Nuhfil
Habitat Vol 25, No 3 (2014)
Publisher : Department of Social Economy, Faculty of Agriculture , University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di pasar domestik, kakao menjadi bahan baku industri pengolahan. Di sisi lain, kakao menjadi komoditi ekspor di pasar dunia. Keterkaitan pasar domestik dan dunia komoditi kakao dapat dirumuskan membentuk perilaku ekonomi kakao, meliputi produksi, permintaan, ekspor, dan harga domestik. Di pasar domestik, perilaku ekonomi kakao tidak lepas dari kebijakan domestik. Selain itu, sebagai komoditi ekspor, perilaku ekonomi kakao juga terkait dengan goncangan eksternal baik dari ekspotir maupun importir. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat perilaku ekonomi kakao serta dampak kebijakan domestik dan goncangan eksternal terhadap perilaku ekonomi kakao Indonesia. Metode analisis yang digunakan yaitu dengan menggunakan model persamaan simultan dengan metode 2SLS (Two Stage Least Square) dan membuat simulasi kebijakan domestik dan goncangan eksternal. Hasil analisis menunjukkan bahwa perilaku ekonomi kakao meliputi produksi, permintaan, ekspor, dan harga domestik saling memiliki keterkaitan satu sama lain. Kebijakan domestik berupa peningkatan jumlah industri kakao, penerapan kuota ekspor, pemberian subsidi suku bunga berdampak lebih baik terhadap perekonomian kakao Indonesia. Kata kunci: kakao, perilaku ekonomi, kebijakan domestik, goncangan eksternal
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EFISIENSI TEKNIS USAHATANI KENTANG ( Solanum Tuberosum L ) DENGAN PENDEKATAN STOCHASTIC PRODUCTION FRONTIER (Studi Kasus Desa Sumber Brantas Kecamatan Bumiaji Kota Batu) Rizkiyah, Noor; Hanani, Nuhfil; Syafrial, Syafrial
Habitat Vol 25, No 1 (2014)
Publisher : Department of Social Economy, Faculty of Agriculture , University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kentang adalah tanaman hortikultura jenis sayuran  yang mengandung gizi  dan sumber pangan, karena kandungan karbohidratnya yang tinggi. Kentang dibudidayakan di dataran tinggi  sekitar 1300 – 1700 mdpl. Desa Sumber Brantas di Kecamatan Bumiaji penduduknya mayoritas bermata pencaharian sebagai petani dan salah satu hasil produksi pertaniannya adalah kentang dengan produksi kentang mencapai 7332 ton dan produktivitas 17,93 ton/ha. Tanaman kentang yang ditanam di Desa Sumber Brantas adalah varietas granola jika dibudidayakan dengan baik maka produktivitas tanaman kentang varietas granola bisa mencapai  26,5 ton/ha. Adanya kesenjangan produktivitas antara kondisi aktual dan potensial ini diduga disebabkan  penggunaan input produksi yang tidak sesuai dengan dosis anjuran dan standar sistem budidaya kentang. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah stochastic production frontier  dengan pendekatan Maximum Likelihood Estimation (MLE).Pengambilan sampel secara simple random sampling didapatkan 72 petani responden. Hasil analisis stochastic production frontier menunjukkan rata-rata efisiensi teknis di daerah penelitian sebesar 0,73. Artinya petani masih memilki peluang 27 persen  untuk meningkatkan produksinya jika dilakukan secara efisien. Kata kunci : Stochastic Production,Efisiensi Teknis,Produktivitas
Co-Authors Abdul Aziz Hanafi Abdul Wahib Muhaimin Abdul Wahib Muhaimin Abdul Wahib Muhaimin Abdul Wahib Muhaimin Agil Narendar Agil Narendar Alfianti, Cahyatika Alia Fibrianingtyas Amelia Annisahaq Anfendita Azmi Rachmatika Anfendita Azmi Rachmatika Anita Rahmi Arief Joko Saputro Arifin Zainul Aris Sulistyono Asyarif, Muhammad Idris Bambang Ali Nugroho Condro Puspo Nugroho Condro Puspo Nugroho Djoko Koestiono Djoko Kustiono Dwi Retno Andriani Dyah Retnani Nurhidayati Elin Karlina Erlangga Esa Buana Fahriyah Fahriyah Fahriyah Fahriyah Fatoni, R.B.Moh Ibrahim Ghea Hapsari Anggraini Hana' Salsabila Hapsari, Triana Dewi Hermansyah, Dhany Hidayah, Rakhimatul Ika Ayu Purwaningsih Imron Fuadi Irma Audiah Fachrista Jamilah - Jihad, Baroroh Nur Joko Mariyanto, Joko Junnia Pramesthia Putri Ke-Chung Peng Luh Putu Ayu Ratnadi M Muslich Mustajab M. Muslich M. M. Muslich Mustadjab Mayang Adelia Puspita Moch. Muslich Mustadjab Mochammad Muslich Mustadjab Murachman - - nFN Bahari Niken Irawati Nikmatul Khoiriyah Nirmala, Arlia Renaswari Noor Rizkiyah Oktavia, Henita Fajar Peersis Dwi Pratiwi Pujiastuti Lestari Putri Daulika Rachman Hartono Ratya Anindita Ratya Anindita Reza Wibisono Rhinda Astitya Zubaidah Rina Suprihati Rini Dwi Astuti Rini Dwiastuti Rini Dwiastuti Rini Dwiastuti Rini Mutisari Rosihan Asmara Rosihan Asmara Rosihan Asmara Rosihan Asmara Rosihan Asmara Rosihan Asmara Rosihan Asmara Rosihan Asmara Rosihan Asmara S Gatot Irianto S Soemarno S Suhartini S Sujarwo S Syafrial S Syafrial S Syafrial S Syafrial Sahri - Muhammad Sari Perwita Rahmanti Setyono Yudo Tyasmoro Setyowati, Putri Budi Soemarno - - Suhartini Suhartini Sujarwo Sujarwo Sujarwo Sujarwo Sujarwo Sujarwo Sujarwo Sujarwo Sujarwo Sujarwo Sujarwo Sujarwo Syafrial Syafrial Syafrial Syafrial Syafrial Syafrial Syarifatul Istiqomah Wahib Muhaimin Wen-Chi Huang Wen-Chi Huang Wenny Mamilianti Wisynu Ari Gutama Yundari, Yundari Yustisianto Nugroho Zakki Faizin Fitrianto Zulkifli Mantau