Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

PEMBUATAN KARBON AKTIF DARI KULIT JERUK KEPROK (Citrus reticulata) UNTUK ADSORBSI PEWARNA REMAZOL BRILLIANT BLUE Erprihana, Asriningtyas Ajeng; Hartanto, Dhoni
Jurnal Bahan Alam Terbarukan Vol 3, No 2 (2014): December 2014
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jbat.v3i2.3699

Abstract

Limbah kulit jeruk keprok (Citrus reticulata) sering dijumpai di industri pembuatan berbagai macam minuman seperti jus, sirup, dan sari buah. Limbah kulit jeruk ini hanya akan dibuang begitu saja dengan jumlah banyak, dan pada akhirnya limbah ini akan mencemari lingkungan. Salah satu upaya peningkatan nilai ekonomis limbah kulit jeruk dapat dilakukan dengan mengolahnya menjadi karbon aktif. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan karbon aktif dari kulit jeruk keprok dengan aktivasi kimia, luas permukaan, serta mengetahui kemampuannya dalam mengadsorpsi zat warna Remazol Brilliant Blue. Kulit jeruk yang telah dibersihkan dari kotoran, dikeringkan menggunakan oven pada suhu 120oC selama 3 jam. Aktivator yang digunakan dalam penelitian ini adalah H3PO4 dengan rasio massa aktivator : massa karbon 1:1. Aktivasi dilakukan pada temperatur 600oC selama 1 jam, kulit jeruk kemudian dicuci dengan aquades dan dikeringkan menggunakan oven pada suhu 150oC selama 6 jam. Setelah itu, dilakukan uji bilangan iodin terhadap sampel hasil penelitian. Adsorpsi zat warna Remazol Brilliant Blue oleh karbon aktif kulit jeruk dilakukan dengan variasi waktu kontak dan massa karbon aktif untuk mencari kondisi adsorpsi optimum. Kondisi optimum adsorpsi zat warna Remazol Brilliant Blue oleh karbon aktif pada kulit jeruk keprok pada waktu kontak 30 menit dengan massa karbon aktif 1 gram. Karbon aktif dari kulit jeruk keprok memiliki luas permukaan karbon aktif sebesar 529,17 mg/g berdasarkan daya serapnya terhadap larutan iodin. Orange peel (Citrus reticulate) waste is often found in industrial manufacturing various kinds of beverages such as juice, syrup, fruit juice. Orange peel waste is just be thrown away with the lot number, and in the end of this waste will pollute the environment. One of the efforts to increase the economic value of orange peel waste by using the process which convert waste into activated carbon. This research aims are to produce activated carbon from orange peel with chemical activation, to determine the surface area, and its ability to adsorb Remazol Brilliant Blue dyes. Orangel peel that have washed, dried in oven at 120oC for 3 hours. H3PO4 is activating agent that used in this research with mass ratio activating agent : mass carbon 1:1. Activation is conduct at 600oC for 1 hour, orange peel then washed with bidistiled water, and dried in oven at 150oC for 6 hours. Iodine number was used to analysis the results. Adsorption of Remazol Brilliant Blue dyes by orange peel activated carbon conduct at variation contact time and mass activated carbon to find optimum condition. Optimum condition adsorption of Remazol Brilliant Blue dyes by orange peel actvated carbon isreached at 30 minutes contact time with mass activated carbon 1 gram. Activated carbon from orange peel has surface area 529,17 m g/gr based aqueous iodine adsorption.
METODE ESTIMASI PROPERTI KRITIS UAP-CAIR KOMPONEN MURNI ESTER Hartantoa, Dhoni; Rahayu, Ibnu Eka; Wibowo, Bayu Tri
Jurnal Bahan Alam Terbarukan Vol 2, No 2 (2013): December 2013
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jbat.v2i2.2796

Abstract

Biodiesel become eco-friendly renewable energy resources which is consisted of monoalkyl ester or long chain fatty acid from plants or animal. Biodiesel has more advantage than petrodiesel. Property of pure compound such as critical properties are the important thing to determine chemical mixtures behavior and also as base of equation of state. Joback method can show good results in estimating critical properties of monoalkyl ester.
PEMBUATAN PUPUK ORGANO-MINERAL FERTILIZER (OMF) PADAT DARI LIMBAH INDUSTRI BIOETANOL (VINASSE) Kusumaningtyas, Ratna Dewi; Oktafiani, Oktafiani; Hartanto, Dhoni; Handayani, Prima Astuti; Muhammad, Dimas Rahadian Aji
Jurnal Bahan Alam Terbarukan Vol 4, No 2 (2015): December 2015
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jbat.v4i2.4189

Abstract

Organo-mineral fertilizer solid was generated from liquid-waste vinasse with the addition of other materials as variations such as filter cake, boiler ash, urea, and NPK through the evaporation of water content in the material. Each solid OMF has a different mixture. OMF A made of evaporated vinasse or sticky vinasse, OMF B made of vinasse and urea, OMF C made from vinasse and filter cake, omf D made of vinasse and boiler ash 2 : 2, OMF E made of vinasse and boiler ash 2 : 4, OMF F made of vinasse, filter cake, and boiler ash, OMF A3 made of vinasse and 3% NPK, OMF made of A6 vinasse and 6% NPK, OMF A9 made of vinasse and 9% NPK. OMF analysis includes NPK and C/N ratio. Solid OMF which meet the SNI (Indonesian National Standard) are OMF A3, OMF A6, OMF A9 based on the quantity of NPK and C/N ratio where NPK is a source of primer macro nutrients on the plant while the C/N ratio equilibrium will determine the equilibrium of the vegetative and generative stage. NPK content and C/N ratio of OMF A3 are 0,63%, 0,45% ,0,38%, and 10,30, respectively.OMF A6 was 0,59%, 0,52% ,0,41%, and 13,66, respectively as well as OMF A9 are 0,68%, 0,52% ,0,45% and 14,16, respectively. OMF that meet SNI applied to the watermelon plants. OMF that gives the best results in plants is OMF A9 compossed from vinasse and NPK 9% because the plants growth faster shown based on plant height and stem diameter, leaf shape, flower and fruit appearance time. 
KATALIS HETEROGEN DARI ABU VULKANIK UNTUK PEMBUATAN BIODIESEL DARI MINYAK MIKROALGA 1,2 CHLORELLA Sp Widyastuti, Catur Rini; Hartanto, Dhoni
Sainteknol : Jurnal Sains dan Teknologi Vol 13, No 1 (2015): June 2015
Publisher : Unnes Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sainteknol.v13i1.5330

Abstract

Proses produksi biodiesel secara konvensional menggunakan bahan baku yang terbatas jumlahnya, proses yang rumit, dan banyaknya limbah yang dihasilkan menyebabkan produksi biodiesel dalam skala besar tidak dapat direalisasikan dengan mudah. Mikroalga merupakan sumber bahan alam terbarukan yang sangat potensial untuk produksi biodiesel karena kandungan minyaknya yang tinggi, kecepatannya tumbuh pada lahan yang terbatas, serta merupakan produk non-pangan. Salah satu jenis mikroalga dengan kandungan minyak yang relatif besar (28-32% berat kering) adalah mikroalga Chlorella sp. Selain bahan baku, pemilihan proses yang lebih sederhana dan ekonomis perlu dikembangkan. Selama ini, proses produksi biodiesel konvensioanal banyak menghasilkan air limbah pada tahap pemisahan produk dari katalis yang larut dan produk samping yang dihasilkan. Oleh karena itu, untuk mengurangi limbah yang dihasilkan selama proses pemisahan tersebut, jenis katalis heterogen dapat digunakan untuk menggantikan katalis homogen alkali yang biasa digunakan. Katalis padat tersebut dapat disintesis dari abu vulkanik yang mengandung unsur-unsur seperti SiO2, Al2O3, Fe2O3, TiO2, MnO, CaO, MgO, Na2O, K2O, P2O5, serta beberapa elemen minor seperti Zr, Sr, dan V. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji jenis katalis dan aktivitasnya dalam reaksi transesterifikasi minyak mikroalga Chlorella sp menjadi biodiesel. Tahap awal penelitian yang dilakukan adalah preparasi minyak mikroalga yang akan digunakan untuk uji aktivitas katalis. Minyak mikroalga diperoleh dengan ekstraksi menggunakan metode maserasi menggunakan pelarut n-heksana. Rendemen minyak yang diperoleh sebesar 12,26%. Dari hasil uji GC-MS diketahui dua kandungan asam lemak terbesar dalam minyak mikroalga, yaitu Dodecanoic acid sebesar 59.52% dan n-Decanoic acid sebesar 12.64%. Selanjutnya minyak mikroalga direaksikan dengan metanol dengan rasio molar 1:6 menggunakan jenis katalis yang disintesis dari abu vulkanik. Preparasi katalis dilakukan dengan dua metode yang berbeda, yaitu refluks dengan larutan H2SO4 2M dan secara alkali hidrotermal menggunakan larutan NaOH 2M. Reaksi transesterifikasi berlangsung pada suhu 60 oC dengan penambahan katalis padat sebanyak 5% selama 60 menit. Yield biodiesel yang diperoleh dari reaksi menggunakan katalis yang dipreparasi dengan larutan H2SO4 adalah 28,27% dengan densitas 0,684 g/mL. Sedangkan reaksi dengan katalis yang dipreparasi secara alkali hidrotermal menghasilkan biodiesel sebanyak 23% dengan densitas 0,69 g/mL.
KATALIS HETEROGEN DARI ABU VULKANIK UNTUK PEMBUATAN BIODIESEL DARI MINYAK MIKROALGA CHLORELLA SP Widyastuti, Catur Rini; Hartanto, Dhoni
Sainteknol : Jurnal Sains dan Teknologi Vol 12, No 2 (2014): December 2014
Publisher : Unnes Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sainteknol.v12i2.5430

Abstract

Selama ini, proses produksi biodiesel konvensioanal banyak menghasilkan air limbah pada tahap pemisahan produk dari katalis yang larut dan produk samping yang dihasilkan. Oleh karena itu, untuk mengurangi limbah yang dihasilkan selama proses pemisahan tersebut, jenis katalis heterogen dapat digunakan untuk menggantikan katalis homogen alkali yang biasa digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji jenis katalis dan aktivitasnya dalam reaksi transesterifikasi minyak mikroalga Chlorella sp menjadi biodiesel. Tahap awal penelitian yang dilakukan adalah preparasi minyak mikroalga yang akan digunakan untuk uji aktivitas katalis. Minyak mikroalga diperoleh dengan ekstraksi menggunakan metode maserasi menggunakan pelarut n-heksana. Rendemen minyak yang diperoleh sebesar 12,26%. Dari hasil uji GC-MS diketahui dua kandungan asam lemak terbesar dalam minyak mikroalga, yaitu Dodecanoic acid sebesar 59.52% dan n-Decanoic acid sebesar 12.64%. Selanjutnya minyak mikroalga direaksikan dengan metanol dengan rasio molar 1:6 menggunakan katalis yang disintesis dari abu vulkanik. Preparasi katalis dilakukan dengan dua metode yang berbeda, yaitu refluks dengan larutan H 2 SO 2 M dan secara alkali hidrotermal menggunakan larutan NaOH 2M. Reaksi transesterifikasi berlangsung pada suhu 60 o 4 C dengan penambahan katalis padat sebanyak 5% selama 60 menit. Yield biodiesel yang diperoleh dari reaksi menggunakan katalis yang dipreparasi dengan larutan H 2 SO adalah 28,27% dengan densitas 0,684 g/ mL. Sedangkan reaksi dengan katalis yang dipreparasi secara alkali hidrotermal menghasilkan biodiesel sebanyak 23% dengan densitas 0,69 g/mL.
PARAMETER INTERAKSI BINER KESETIMBANGAN UAP-CAIR CAMPURAN ALKOHOL UNTUK OPTIMASI PROSES PEMURNIAN BIOETANOL Mustain, Asalil; Takwanto, Anang; Hartanto, Dhoni
Jurnal Bahan Alam Terbarukan Vol 5, No 2 (2016): December 2016 [Nationally Accredited]
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jbat.v4i2.5126

Abstract

In this work, the binary interaction parameters of vapor-liquid equilibrium for the mixtures of primary alcohols (methanol, ethanol, 1-propanol or 1-butanol) with C5 alcohols were obtained. A total of 15 systems that consisted of isobaric vapor-liquid equilibrium data at atmospheric pressure were selected. The binary interaction parameters were determined as temperature function by correlating the selected vapor-liquid equilibrium data using the Wilson, Non-Random Two-Liquid (NRTL) and Universal Quasi-Chemical (UNIQUAC) activity coeffi­cient models. The binary interaction parameters were described as the temperature-dependent to increase the capability of the parameters for the application in wide range of temperature. The correlation showed good results because the root mean square devia­tion (RMSD) between the calculation values and experimental data were relatively low. The obtained parameters were very useful for optimizing the distillation column in the bio-ethanol purification process.
PEMBUATAN PUPUK ORGANO-MINERAL FERTILIZER (OMF) PADAT DARI LIMBAH INDUSTRI BIOETANOL (VINASSE) Kusumaningtyas, Ratna Dewi; Oktafiani, Oktafiani; Hartanto, Dhoni; Handayani, Prima Astuti; Muhammad, Dimas Rahadian Aji
Jurnal Bahan Alam Terbarukan Vol 4, No 2 (2015): December 2015
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jbat.v4i2.4189

Abstract

Organo-mineral fertilizer solid was generated from liquid-waste vinasse with the addition of other materials as variations such as filter cake, boiler ash, urea, and NPK through the evaporation of water content in the material. Each solid OMF has a different mixture. OMF A made of evaporated vinasse or sticky vinasse, OMF B made of vinasse and urea, OMF C made from vinasse and filter cake, omf D made of vinasse and boiler ash 2 : 2, OMF E made of vinasse and boiler ash 2 : 4, OMF F made of vinasse, filter cake, and boiler ash, OMF A3 made of vinasse and 3% NPK, OMF made of A6 vinasse and 6% NPK, OMF A9 made of vinasse and 9% NPK. OMF analysis includes NPK and C/N ratio. Solid OMF which meet the SNI (Indonesian National Standard) are OMF A3, OMF A6, OMF A9 based on the quantity of NPK and C/N ratio where NPK is a source of primer macro nutrients on the plant while the C/N ratio equilibrium will determine the equilibrium of the vegetative and generative stage. NPK content and C/N ratio of OMF A3 are 0,63%, 0,45% ,0,38%, and 10,30, respectively.OMF A6 was 0,59%, 0,52% ,0,41%, and 13,66, respectively as well as OMF A9 are 0,68%, 0,52% ,0,45% and 14,16, respectively. OMF that meet SNI applied to the watermelon plants. OMF that gives the best results in plants is OMF A9 compossed from vinasse and NPK 9% because the plants growth faster shown based on plant height and stem diameter, leaf shape, flower and fruit appearance time. 
PEMBUATAN KARBON AKTIF DARI KULIT JERUK KEPROK (Citrus reticulata) UNTUK ADSORBSI PEWARNA REMAZOL BRILLIANT BLUE Erprihana, Asriningtyas Ajeng; Hartanto, Dhoni
Jurnal Bahan Alam Terbarukan Vol 3, No 2 (2014): December 2014
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jbat.v3i2.3699

Abstract

Limbah kulit jeruk keprok (Citrus reticulata) sering dijumpai di industri pembuatan berbagai macam minuman seperti jus, sirup, dan sari buah. Limbah kulit jeruk ini hanya akan dibuang begitu saja dengan jumlah banyak, dan pada akhirnya limbah ini akan mencemari lingkungan. Salah satu upaya peningkatan nilai ekonomis limbah kulit jeruk dapat dilakukan dengan mengolahnya menjadi karbon aktif. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan karbon aktif dari kulit jeruk keprok dengan aktivasi kimia, luas permukaan, serta mengetahui kemampuannya dalam mengadsorpsi zat warna Remazol Brilliant Blue. Kulit jeruk yang telah dibersihkan dari kotoran, dikeringkan menggunakan oven pada suhu 120oC selama 3 jam. Aktivator yang digunakan dalam penelitian ini adalah H3PO4 dengan rasio massa aktivator : massa karbon 1:1. Aktivasi dilakukan pada temperatur 600oC selama 1 jam, kulit jeruk kemudian dicuci dengan aquades dan dikeringkan menggunakan oven pada suhu 150oC selama 6 jam. Setelah itu, dilakukan uji bilangan iodin terhadap sampel hasil penelitian. Adsorpsi zat warna Remazol Brilliant Blue oleh karbon aktif kulit jeruk dilakukan dengan variasi waktu kontak dan massa karbon aktif untuk mencari kondisi adsorpsi optimum. Kondisi optimum adsorpsi zat warna Remazol Brilliant Blue oleh karbon aktif pada kulit jeruk keprok pada waktu kontak 30 menit dengan massa karbon aktif 1 gram. Karbon aktif dari kulit jeruk keprok memiliki luas permukaan karbon aktif sebesar 529,17 mg/g berdasarkan daya serapnya terhadap larutan iodin. Orange peel (Citrus reticulate) waste is often found in industrial manufacturing various kinds of beverages such as juice, syrup, fruit juice. Orange peel waste is just be thrown away with the lot number, and in the end of this waste will pollute the environment. One of the efforts to increase the economic value of orange peel waste by using the process which convert waste into activated carbon. This research aims are to produce activated carbon from orange peel with chemical activation, to determine the surface area, and its ability to adsorb Remazol Brilliant Blue dyes. Orangel peel that have washed, dried in oven at 120oC for 3 hours. H3PO4 is activating agent that used in this research with mass ratio activating agent : mass carbon 1:1. Activation is conduct at 600oC for 1 hour, orange peel then washed with bidistiled water, and dried in oven at 150oC for 6 hours. Iodine number was used to analysis the results. Adsorption of Remazol Brilliant Blue dyes by orange peel activated carbon conduct at variation contact time and mass activated carbon to find optimum condition. Optimum condition adsorption of Remazol Brilliant Blue dyes by orange peel actvated carbon isreached at 30 minutes contact time with mass activated carbon 1 gram. Activated carbon from orange peel has surface area 529,17 m g/gr based aqueous iodine adsorption.
PARAMETER INTERAKSI BINER KESETIMBANGAN UAP-CAIR CAMPURAN ALKOHOL UNTUK OPTIMASI PROSES PEMURNIAN BIOETANOL Mustain, Asalil; Takwanto, Anang; Hartanto, Dhoni
Jurnal Bahan Alam Terbarukan Vol 5, No 2 (2016): December 2016 [Nationally Accredited]
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jbat.v4i2.5126

Abstract

In this work, the binary interaction parameters of vapor-liquid equilibrium for the mixtures of primary alcohols (methanol, ethanol, 1-propanol or 1-butanol) with C5 alcohols were obtained. A total of 15 systems that consisted of isobaric vapor-liquid equilibrium data at atmospheric pressure were selected. The binary interaction parameters were determined as temperature function by correlating the selected vapor-liquid equilibrium data using the Wilson, Non-Random Two-Liquid (NRTL) and Universal Quasi-Chemical (UNIQUAC) activity coeffi­cient models. The binary interaction parameters were described as the temperature-dependent to increase the capability of the parameters for the application in wide range of temperature. The correlation showed good results because the root mean square devia­tion (RMSD) between the calculation values and experimental data were relatively low. The obtained parameters were very useful for optimizing the distillation column in the bio-ethanol purification process.
METODE ESTIMASI PROPERTI KRITIS UAP-CAIR KOMPONEN MURNI ESTER Hartantoa, Dhoni; Rahayu, Ibnu Eka; Wibowo, Bayu Tri
Jurnal Bahan Alam Terbarukan Vol 2, No 2 (2013): December 2013
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jbat.v2i2.2796

Abstract

Biodiesel become eco-friendly renewable energy resources which is consisted of monoalkyl ester or long chain fatty acid from plants or animal. Biodiesel has more advantage than petrodiesel. Property of pure compound such as critical properties are the important thing to determine chemical mixtures behavior and also as base of equation of state. Joback method can show good results in estimating critical properties of monoalkyl ester.
Co-Authors Agung Ari Wibowo Agung Ari Wibowo Agung Ari Wibowo Akhmad Sutrisno Andri Cahyo Kumoro Anugrahani, Viona Widya Asalil Mustain Asalil Mustain Asalil Mustain Asalil Mustain Asriningtyas Ajeng Erprihana, Asriningtyas Ajeng Bahlawan, Zuhriyan Ash Shiddieqy Bayu Tri Wibowo Bayu Triwibowo Catur Rini Widyastuti, Catur Rini Cucuk Evi Lusiani Cucuk Evi Lusiani Dewi Selvia Fardhyanti Dimas Rahadian Aji Muhammad, Dimas Rahadian Aji Diyah Saras Wati Eny Nurhayati Erprihana, Asriningtyas Ajeng Fazlena Hamzah Fazlena Hamzah Fidyawati, F Harumi Veny Harumi Veny Ibnu Eka Rahayu Irene Nindita Pradnya Khalimatus Sa'diyah Khalimatus Sa'diyah Khoiroh, Ianatul Khoiroh, Ianatul Kuntoro Kuntoro Kusuma, Andre Dianata Hogi Loveyanto, Rendy Okta Maksiola, Masni Megawati - Megawati Megawati Megawati Megawati Mezaki, Naufal Mudrik Miradatul Najwa Muhd Rodhi Miradatul Najwa Muhd Rodhi Mufid Mufid Mufid Mufid Muhammad Fikri Al Ghifari Muhammad Zarin Amin Zainal Muhammad, Dimas Rahadian Aji Mutaqin, Afrizal Mai Nugroho, Febry Dwi Nur Qudus Oktafiani Oktafiani, Oktafiani Oktafiani, Oktafiani Oktafiani, Oktafiani Prasetiawan, Haniif Prima Astuti Handayani Radenrara Dewi Artanti Putri, Radenrara Dewi Artanti Rahayu, Ibnu Eka Rakhmawati, Fatih Ratna Dewi Kusumaningtyas Ratna Dewi Kusumaningtyas Ria Wulansarie, Ria Rizqy Romadhona Ginting Rizqy Romadhona Ginting Rizqy Romadhona Ginting Rizqy Romadhona Ginting Santi Wijayanti, Dwi Gansar Satya Budi Nugraha Sutrisno, Akhmad Suwito, Slamet Syamrizal, Zakky Syifa Karimah Takwanto, Anang W.D.P Rengga Wahid Akhsin Budi Nur Sidiq, Wahid Akhsin Budi Nur Waliyuddin Sammadikun Wibowo, Bayu Tri Zakaria, Zainul Akmar