Claim Missing Document
Check
Articles

RESPON PADI BERAS HITAM KALIMANTAN BARAT TERHADAP CEKAMAN ALUMINIUM PADA FASE PEMBIBITAN YUNIARTI, YUNIARTI; PALUPI, TANTRI; WASIAN, WASIAN
Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian Vol 7, No 3 (2018): AGUSTUS 2018
Publisher : Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

RESPON PADI BERAS HITAM KALIMANTAN BARAT TERHADAP CEKAMAN ALUMINIUM PADA FASE PEMBIBITAN  Yuniarti (1) , Tantri Palupi(2), Wasi’an (2)1Jurusan Budidaya Pertanian; Universitas Tanjungpura2Jurusan; Universitase-mail: *1 ummuyuniarti@gmail.com ABSTRAK Umumnya lahan  marjinal merupakan lahan yang miskin unsur hara dan rendahnya reaksi tanah yang berdampak pada meningkatnya kandungan Aluminium yang bersifat toksik terhadap tanaman. Untuk mendapatkan jenis padi beras hitam yang cocok untuk dibudidayakan pada lahan marjinal dapat dilakukan dengan menggunakan seleksi pada media kultur air. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon berbagai padi beras hitam terhadap  cekaman Al pada fase pembibitan. Menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan pola faktor tunggal yang terdiri dari 9 perlakuan dengan masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali dan setiap unit perlakuan terdiri dari 10  sampel tanaman, sehingga total 270 tanaman. Perlakuan pada penelitian ini menggunakan konsentrasi Al 15 ppm. Hasil penelitian menunjukan bahwa jenis padi beras hitam Senakin, Gula, varietas Inpara 2, dan varietas Inpara 3 termasuk katagori agak tahan  dan jenis padi beras hitam Melawi, Beliah, Tabah, varietas Cibogo, dan varietas Ciherang termasuk katagori rentan berdasarkan cekaman Al 15 ppm. Maka disimpulkan bahwa padi lokal maupun padi unggul menpunyai respon  yang berbeda-beda terhadap cekaman Al, sehingga ada beberapa jenis bibit padi yang memberikan gejala kerusakan pada tanaman  dan ada pula yang  mampu untuk beradaptasi terhadap cekaman Al.Kata kunci : aluminium, cekaman, fase pembibitan, padi beras hitam                       
PENERAPAN MEDIA POP-UP BOOK UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BAHASA PADA ANAK USIA DINI KELOMPOK B 1 PAUD KASIH BUNDA PONTIANAK SELATAN Alsari, Desi; Sutrisno, Sutrisno; Yuniarti, Yuniarti
Jurnal Edukasi Pendidikan Anak Usia Dini Vol 7, No 2 (2019): Edukasi: Jurnal Ilmiah Pendidikan Anak Usia Dini
Publisher : Universitas Muhammadiyah Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (522.246 KB) | DOI: 10.29406/jepaud.v7i2.2005

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kurangnya kemampuan anak dalam menyampaikan informasi secara lisan kepada orang lain. Hal ini ditunjukkan  ketika anak diminta untuk menyebutkan kembali apa saja yang sudah dijelaskan guru pada saat proses pembelajaran, mereka belum dapat menyampaikan dengan baik secara lisan maupun tulisan.  Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan bahasa pada anak usia dini melalui penggunaan media Pop-Up Bookdi kelompok B1 PAUD Kasih Bunda Pontianak Selatan. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dan pendekatan kualitatif, yang meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi. Subjek penelitiannya adalah anak kelompok B1 PAUD Kasih Bunda sebanyak 20 anak, dengan 13 anak laki dan 7 anak perempuan. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukan peningkatan secara bertahap pada kemampuan bahasa anak usia dini melalui media Pop-Up Book di PAUD Kasih Bunda.Hasil penelitian diperoleh pada siklus II, kegiatan mengungkapkan bahasa kategori berkembang sangat baik sebanyak 88.25% atau 15 anak dari 17 anak,keaksaraan dikategorikan berkembang sangat baik sebanyak 82.35% atau 14 anak dari 17 anak, memahami bahasadikategorikan berkembang sangat baik sebanyak 82.35% atau 14 anak dari 17 anak, sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil yang diperoleh dalam  penelitian membuktikan dengan melalui Pop-Up book dapat meningkatkan kemampuan bahasa anak kelompok B1 PAUD Kasih Bunda Pontianak Selatan.
KAJIAN PEMANFAATAN EKSTRAK KULIT Acacia mangium Willd. SEBAGAI ANTIFUNGI DAN PENGUJIANNYA TERHADAP Fusarium sp. Dan Ganoderma sp. Yuniarti, Yuniarti
Jurnal Sains dan Terapan Kimia Vol 4, No 2 (2010)
Publisher : Jurnal Sains dan Terapan Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antifungi dari ekstrak kulit mangiumterhadap Fusarium sp. dan Ganoderma sp. secara in vitro. Kulit mangium dimaserasiberturut-turut dengan n-heksana dan metanol. Pada tahap awal, aktivitas antifungidiindikasikan melalui penghambatan perkecambahan dan panjang buluh kecambah sporaFusarium sp. pada konsentrasi 500 μg/ml sebanyak 50 μl. Uji aktivitas antifungi terhadapGanoderma sp. dilakukan menggunakan metode cylinder plate yang telah dimodifikasi.Ekstrak metanol dari kulit mangium menunjukkan aktivitas antifungi tertinggi, yangdiindikasikan oleh penghambatan perkecambahan (60,3%) dan panjang buluh kecambah(8.8 μm) spora Fusarium sp dibandingkan dengan kontrol (air steril (0; 17,5 μm), DMSO5% (23,7%, 15,3 μm)) dan ekstrak n-heksana kulit mangium (40,3%; 11,8 μm). Zonapenghambatan teramati secara makroskopis pada bagian terluar koloni Ganoderma sp.terhadap ekstrak antifungi pada konsentrasi 15 mg mL -1. Secara mikroskopis, padadaerah kontak dengan ekstrak antifungi, hifa berbentuk keriting, tumbuh melingkar danmengalami percabangan dini pada konsentrasi 10 mg mL -1. Pada konsentrasi ekstrakantifungi 15 mg mL-1, hifa mengalami lisis.Kata kunci: antifungi, Acacia mangium Willd, Fusarium sp., Ganoderma sp.
URGENSITAS KOMPETENSI TENAGA PENDIDIK BAHASA INGGRIS DALAM KONTEKS PERSAINGAN GLOBAL Yuniarti, Yuniarti
Jurnal Mentari Vol 15, No 2 (2012)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang Seperti kita ketahui, pendidikan adalah proses membawa manusia kepada kehidupan yang lebih baik.  Suatu negara yang tidak melihat pendidikan akan mengalami ketertinggalan dari negara lain dan masyarakatnya sendiri tidak mampu bersaing dengan dunia luar.  Menilik dari pengalaman Negara lain, Jepang dan Korea menjadi negara maju dan mereka dihargai di dunia karena kekreatifitasan, keinofatifan dan kemajuan di bidang pengetahuan.  Kedua negara tersebut ternyata berkomitmen terhadap penguasaan ilmu dan bahasa Inggris sebagai suatu keharusan. Hingga saat ini, kedua negara tersebut dapat bersaing di berbagai sektor. Penguasaan ilmu dan bahasa Inggris adalah kunci utama.   Mengapa bahasa Inggris? Berbicara tentang bahasa Inggris, sejarah telah membuktikan bahasa Inggris lebih dominan sebagai bahasa yang didalamnya terdapat banyak ilmu dan peradaban.  Dominasi bahasa Inggris terjadi ketika kolonialisme barat berhasil melakukan perluasaan politik, ekonomi, ilmu & teknologi, dan budaya. Itulah sebabnya mengapa bahasa Inggris diakui dan digunakan sebagai alat dalam mengembangkan pengetahuan, bernegosiasi bisnis, dan berkomunikasi dengan dunia luar.  Seperti yang diungkapkan oleh Naisbitt berikut ini: “There are, in the world today, more than one billion English speakers-people who speak English as a mother tongue, as a second language, or as a foreign language.  60 per cent of the radio broadcasts are in English. 70 per cent of the world’s mail is addressed in English.  80 per cent of all international telephone conversations are in English. 80 per cent of all data in the several 100 million computers in the world is in English”.[1] Saat ini, di dunia ada lebih dari satu milyar orang yang berbicara dalam bahasa Inggris sebagai bahasa ibu, sebagai bahasa kedua atau sebagai bahasa asing.  60% penyiaran radio menggunakan Bahasa Inggris. 70% surat-menyurat di dunia menggunakan Bahasa Inggris.  80% percakapan telepon internasional menggunakan Bahasa Inggris.  80% semua data dalam 100 juta computer di dunia menggunakan Bahasa Inggris. Hal serupa diungkapkan Ferguson berdasarkan penelitian ilmiah bahwa sumber ilmu pengetahuan dan korporasi multinasional, terkenal dan ikonik menggunakan bahasa Inggris[2]. Singkatnya, tingkat penguasaan bahasa Inggris begitu penting karena era globalisasi tidak dapat dihindari dan dunia mengalami perubahan cepat dalam dimensi hubungan internasional tanpa sekat melalui web, internet, perjanjian, transaksi, ilmu pengetahuan, teknologi, pendidikan, dan kesempatan. Menurut Indrawati, sebuah penelitian indeks pengembangan  sumber daya manusia (HDI) yang dilakukan UNDP telah mengeluarkan hasil bahwa dari 174 negara yang disurvei, sumberdaya manusia Indonesia berada di level 102.  Sumber daya manusia Indonesia tertinggal 50 tahun dari Singapore dan Malaysia. Kita masih tertinggal jauh khususnya dalam penguasaan bahasa Inggris.[3] Hasballah mengungkapkan hanya beberapa orang Aceh yang memiliki posisi strategis dalam pekerjaan pada saat sesudah tsunami di Rehabilitasi-Rekonsialiasi Aceh-BRR dan internationals organizations (NGOs).  Itupun lebih dikarenakan faktor politik dan sosial-ekonomi bukan karena keahliannya atau kompeten dalam bekerja.  Posisi yang strategis tersebut banyak diduduki orang luar yang lebih kompeten dalam pengetahuan dan penguasaan bahasa Inggris.[4] Berdasarkan fakta tersebut yang diungkap Hasballah, maka perlu kiranya para lulusan pada masa mendatang dipersiapkan untuk dapat bersaing dan mendapatkan pekerjaan yang ‘oriented-overseas job’ seperti di Timur Tengah, di negara-negara asia yang maju seperti Malaysia, Singapore, Japan, Korea atau Australia. Kesempatan kerja harus lebih mengarah pada pekerjaan yang bersifat keahlian atau ‘expert’ seperti ahli telekomunikasi, pedagang berbasis teknologi, dan di badan-badan internasional.[5] Lemahnya sumber daya Indonesia sangat bergantung dari para pendidik yang berkompeten dalam menghasilkan lulusan yang unggul. Yang ingin penulis diskusikan di sini adalah sejauh mana kompetensi pendidik bahasa Inggris secara profesi dan akademik? Tujuan artikel ini adalah untuk mengupas indikator ketidakunggulan kompetensi pendidik Bahasa Inggris dan mencari solusi meningkatkan kompetensi para pendidik Bahasa Inggris. Dalam kamus Webster New Collegiate (1981), profesi (profession) adalah panggilan dalam memperoleh spesialisasi pengetahuan melalui persiapan panjang dan intensif pada institusi.  Ketika seseorang sudah memiliki spesialisasi pengetahuan dan bekerja dengan ilmu tersebut maka seseorang tersebut di sebut ‘profesional’.[6]   Ketidakunggulan Pendidik Bahasa Inggris secara Profesi Dalam dunia pendidikan, profesi pendidik yaitu memiliki spesialisasi berbagai macam pengetahuan metode pembelajaran, memiliki kompetensi literasi jurnal, makalah, buku, linguistik terapan dan sebagainya. Untuk mengukur kompetensi para pendidik, pemerintah menetapkan kebijakan melalui sertifikasi sehingga para pendidik yang sudah mendapatkan sertifikasi secara formal mendapatkan ‘izin mengajar’ dan sudah dapat dikatakan ‘profesional’. Namun, kenyataannya, masih banyak kendala yang terjadi pada saat sertifikasi.  Sertifikasi para pendidik didasarkan asesmen portofolio yang dibuktikan dengan dokumen atas reprensentasi pendidik dalam melaksanakan tugasnya. Seorang pendidik yang sudah bersertifikat pendidik profesional berhak memperoleh tunjangan profesi. Namun,  permasalahan yang kerap muncul adalah pada saat proses melengkapi portofolio itu sendiri. Selain motivasi utama para pendidik untuk mendapatkan tunjangan profesi tetapi keterbatasan kemampuan atau ‘skill’ dan waktu yang singkat dalam menyelesaikan portofolio menjadi kecemasan tersendiri bagi mereka sehingga faktor kejujuran dan objektifitas patut dipertanyakan! Penjelasan tersebut didukung oleh Kartadinata bahwa sulit untuk menilai apakah ada korelasi antara portofolio dengan tingkat penguasaan pengetahuan (metode mengajar dan aplikasi mengajar) atau tidak karena asesmen portofolio tidak disertai pengamatan lapangan sehingga objektifitasdan kejujuran dari para pendidik dalam menyiapkan portofolio merupakan kunci validasi asesmen. Jika terjadi ketidakjujuran dalam menyajikan portofolio, portofolio tidak akan merepresentasikan kompetensi dan kinerja para pendidik dan keputusan yang diambil menjadi tidak valid. Perlu kecermatan tinggi dalam asesmen portofolio dan (mungkin) perlu dilakukan review menyeluruh atas sistem portofolio.[7] Tidak mengherankan sebanyak 1.082 pendidik menggunakan dokumen palsu di Riau dan seorang profesor dari perguruan tinggi ternama di Bandung mempertaruhkan martabatnya dengan memanipulasi jurnal Carl Ungerer[8].  Oleh karena itu, profesional tidak dapat diukur dengan proses yang instan, maka bagi pendidik yang tidak terbiasa menulis akan mengalami hambatan dan kekhawatiran sehingga melakukan plagiat atau mengkopi hasil karya tulisan orang lain.  Jika demikian adanya, secara profesi para pendidik kita tidak profesional. Dampaknya akan mempengaruhi pada terdidik yang menuntut ilmu ketika lulus menjadi tidak terampil ‘unskilled’ untuk bersaing di dunia kerja karena tidak memiliki pengetahuan yang memadai.   Ketidakunggulan Pendidik Bahasa Inggris secara Akademik Saad menekankan bahwa paradigma pengajaran seharusnya diubah atau diganti agar menghasilkan lulusan unggul, bukan lulusan yang ‘penghafal teori’ atau ‘Rote Learner’. [9] Siswa harus bertanggung jawab untuk dapat mengembangkan diri mereka melalui interaksi sosial menjadi ‘Independent Thinker’ sebagai constructivist learning. Alwasilah, dalam buku ‘Bahasa Inggris dalam Konteks Persaingan Global’, ada beberapa indikator atas ketidakunggulan penguasaan pengetahuan bahasa Inggris secara akademik di perguruan tinggi.[10] Pertama, banyak pengajar mengajar bahasa Inggris hanya sekedar mentransfer pengetahuan dan menganalisa kalimat.  Detailnya, pernyataan ini; “…menguasai bahasa Inggris seyogyanya menyajikan kesempatan dan pajanan (exposure) bagi pembelajar dalam isu-isu nyata sehingga menumbuhkan keberanian untuk berinteraksi, berdialog dan berfikir kritis. Berkontribusi terhadap perkembangan daya nalar dan pembaruan kebudayaan (cultural renewal)“. Kewajiban para dosen EFL tidak hanya mengajar bahasa sekedar pada penggunaan ‘tobe’ (am, is, are) dan ‘to have’ atau memperbaiki bahasa secara gramatikal tetapi juga harus mengajarkan fungsi bahasa itu sendiri dalam konteks komunikasi sosial, interaksi, budaya dan berfikir kritis dalam kehidupan nyata. Kedua, para pengajar masih kurang mereproduksi literasi dan pengetahuan.  Rudy  menjelaskan bahwa tahun 2004 The times Higher Education Supplement memilih 200 universitas terbaik di dunia.  10 universitas terbaik adalah Harvard University, University of Barkeley, Masschusetts Institute of Technology, California Institute of Technology, Oxford University, Cambridge University, Stanford University, Yale University, Princeton University dan ETH Zurich Swiss. National University of Singapore (ke-18), Nanyang University (ke-50), Malaya University (ke-89) dan Sains Malaya Univeristy (ke-111).[11] Ironisnya, tidak satu pun universitas dari Indonesia termasuk didalamnya.  Mengapa? Para pengajar tidak dapat menghasilkan produk tertulis yang dipublikasikan di forum dunia. Satu dari lima kriteria untuk menilai untuk menilai 200 universitas terbaik adalah melalui karya tulis dosen yang aktif. Dalam hal ini, universitas berkualitas bukan berdasarkan dari fasilitas yang baik, tetapi produk tertulis yang sering dikutip di forum internasional. Bagaimana pengajar kita bisa berpatisipasi secara internasional berdasarkan sumber Replubika bahwa  tingkat terendah penyerahan proposal penelitian ke Ditjen Dikti Diknas berasal dari universitas? [12]. Kebiasaan literasi kita belum optimal dalam atmosfir akademik. Kurangnya kebiasaan literasi disebabkan karena masih banyak manajemen universitas yang mengabaikan dan kurang memberi apresiasi karya tulis pengajar dan kurang memfasilitasi dalam ‘writing workshop.’  Universitas memerlukan perencanaan terstruktur dan baik untuk membangkitkan dan mendorong pengajar menghasilkan pengetahuan melalui jurnal, buku, atau makalah. Kurangnya kompetensi pengajar dalam literasi akan berdampak besar dalam mengembangkan kemampuan mahasiswa menulis khususnya membuat skripsi seperti dalam menuangkan ide, grammar, ejaan kata bahasa Inggris, penguasaan kosa kata sehingga mahasiswa hanya meng-copy paste karya skripsi orang lain. Makna yang tersirat dari uraian tersebut mengindikasikan tumpulnya kreativitas literasi kalangan intelektual menjadi tantangan terbesar yang dihadapi kita saat ini. Apa daya negara tetangga seperti Malaysia, Nigeria dan Thailand sudah lebih dahulu Go International?  Sekedar mengingat kembali sejarah kejayaan beberapa dekade yang lalu, kita pernah mengirimkan para pendidik yang kompeten ke negeri jiran untuk meningkatkan mutu pendidikan. Ketiga, tidak hanya lemah dalam karya tulis, kualifikasi pengajar dalam berkomunikasi secara lisan juga kurang. Apalagi persyaratan umum minimal penguasaan TOEFL 500 belum tercapai sehingga banyak kesempatan untuk beasiswa tidak termanfaatkan secara maksimal.[13].  Status Bahasa Inggris kita sebagai bahasa asing (English Foreign Language) terbatas digunakan hanya dalam pembelajaran dikelas dan tidak berkembang sebagai alat komunikasi pergaulan menjadi hambatan tersendiri. Keempat, Sakri menjelaskan bahwa penyerapan ilmu pengetahuan melalui produk terjemahan buku teks, jurnal dari bahasa sumber ke bahasa sasaran masih kurang maksimal.  Fakta membuktikan Indonesia memiliki judul lebih dari 100.000 dalam bahasa Inggris tetapi hanya 20-25% saja yang produktif menterjemahkan.[14]. Berbagai alasan terungkap dalam penelitian bahwa motivasi pengajar untuk menterjemahkan buku kurang seiring dengan kurangnya pembayaran honor menterjemahkan. Alasan lain adalah kegiatan menterjemahkan memerlukan waktu dan pemikiran lebih bukan sebagai pekerjaan sampingan sementara, pengajar memiliki tugas utama yaitu mengajar.  Selain itu, yang memiliki keterampilan dalam menterjemahkan secara resmi masih sangat sedikit karena kewenangan untuk mendapatkan ‘sworn translator’ atau ‘certified translator’ hanya satu dari Universitas Indonesia. Tentu saja hal ini akan menjadi hambatan bagi mereka yang berada diluar jangkauan dan ingin mengambil kesempatan menjadi penterjemah resmi karena hambatan biaya dan waktu. Aceh adalah miniatur dari kondisi nyata pendidikan saat ini yang mewakili ketidakunggulan penguasaan bahasa Inggris baik para pengajar. Pengalaman penulis melihat masih banyak pengajar yang belum menguasai  Bahasa Inggris nyatanya mereka adalah sarjana S-2.  Sementara untuk melanjutkan program S-2 dan S-3 di dalam negeri saja memerlukan persyaratan minimal TOEFL 450 untuk memudahkan pengajar memahami dan  menterjemahkan buku teks bahasa Inggris sebagai buku wajib. Dalam Interaksi dikelas, pengajar tidak membiasakan merangsang interaksi yang komunikatif dalam bahasa Inggris karena masih adanya stigma apabila berbicara bahasa Inggris merasa malu disebut ‘gaya-gaya’an saja. Metode mengajar yang tidak berfokus pada komunikasi di tambah kurangnya mahasiswa membaca referensi pengetahuan.  Mereka hanya duduk, diam, dengar dan menerima yang pengajar ajarkan tanpa mempertajam kemampuan berfikir kritis.  Efek domino yang lebih besar adalah lulusan tidak unggul yang menjadi guru dan menyebar keseluruh daerah untuk mengajar sehingga menurut Direktur Pembinaan Pendidikan Depdiknas program belajar bahasa Inggris tidak berjalan lancar di sekolah-sekolah karena kemampuan guru dalam penguasaan materi rendah. Apakah masih ada solusi yang dapat memecahkan masalah tersebut? Apakah sudah terlambat? Usaha pemerintah Aceh untuk memberdayakan para dosen melaui program beasiswa layak mendapat apresiasi tetapi usaha tersebut patut memerlukan follow-up! Tujuan penulisan ini, penulis memberikan sajian solusi alternatif untuk meningkatkan kompetensi pendidik Bahasa Inggris yang memerlukan perencanaan dan pengembangan strategi di masing-masing kampus sehingga menghasilkan para pengajar yang betul-betul profesional dan menghasilkan produk akhir para lulusan yang unggul. PEMBAHASAN   Pengajar sebagai ujung tombak meningkatkan daya saing yang mengglobal, perlu melakukan pengembangan dengan strategi yang baik.   Meningkatkan Daya Saing Pendidik Bahasa Inggris Secara Profesi Seperti yang diungkapkan Stigler; “Professionals have longer and more specialized training, greater freedom, to organize their time, greater personal responsibility for directing their own work, and the respect that comes from the uniqueness and quality of their contribution”.[15]   Profesional tidak sekedar mendapatkan sertifikasi dan pengetahuan serta melakukan pelatihan khusus dalam waktu lama tetapi memerlukan kebebasan lebih luas, mengorganisir waktu, memiliki tanggung jawab pribadi yang besar yang mengarah kepada pekerjaan mereka sendiri dan menghargai sesuatu yang berasal dari keunikan dan kualitas atas kontribusi pengajar sendiri! Memberikan pemahaman bahwa sertifikasi adalah langkah baik sebagai bagian upaya pemerintah memberikan tunjangan terhadap profesi pengajar namun akan lebih baik apabila profesi yang mereka sandang dilengkapi dengan membangun tanggung jawab profesionalitas mengajar yang terkait dengan wilayah profesinya, Bahasa Inggris seperti yang diungkapkan Richards, (1) dengan memperbanyak metode pengajaran seperti human interaksi model, active learning model, competence based teaching models, Diharapkan pula, agar para dosen ketika mengajar dalam kelas siap menghadapi masalah yang muncul, (2) teaching skill berarti keterampilan ‘mengajar’ itu sendiri melibatkan kegiatan pembelajaran yang kesemuanya mengarahkan pada kemampuan mahasiswa untuk bereksplorasi dan berkomunikasi, menyiapkan siswa untuk mempelajari hal-hal baru, memberikan kesempatan mempelajari materi baru, mempersiapkan kegiatan interaktif dan komunikatif melalui group work, games, simulasi, presentasi, role play, (3) keterampilan berkomunikasi atau ‘communicative skill’ mengarah pada kelancaran berbahasa Inggris dan kemampuan membangun psikologi kedekatan dengan mahasiswa.  Melalui pendekatan keterampilan ini, mahasiswa dapat berujar bagaimana cara meminta, bagaimana cara berjanji, bagaimana memberi salam, berterima kasih, mengucapkan belasungkawa dalam bahasa Inggris, (4) mengembangkan keterampilan berfikir kritis dan membuat keputusan, dimana materi dikembangkan dan ditransformasi kedalam bentuk pengajaran yang adaptif sesuai dengan latar belakang, budaya, sosial, (5) dalam kontekstual pengetahun dan (6) pengetahuan di bidang sosiolinguistik yang erat kaitannya dalam fenomena variasi berbahasa dalam atmosfir sosial atau performansi.[16] Meningkatan Daya Saing Pendidik Bahasa Inggris secara Akademik Pertama, pihak kampus dapat mempertimbangkan cara ‘Pembinaan Dosen Muda’ Alwasilah (2004) mengkategorisasikan ke dalam:  (1) Dosen Terbina yaitu dosen yang belum memiliki persyaratan minimal,  (2) Dosen Pembina yaitu yang memiliki gelar dan dapat mengarahkan ‘Dosen Terbina’, (3) ‘Jalur Pembinaan’ yaitu dosen yang memiliki gelar S2 dan S3 untuk mengikuti studi, (4) ‘Materi Pembinaan’ tentang pengetahuan teoritis (Perceived Knowledge), pengetahuan lapangan (Learning Experience) seperti simulasi, micro teaching, studi  kasus, observasi, seminar, diskusi, dan karya tulis. Proses pembinaan memerlukan persyaratan, (1) dari ‘Umum ke Khusus’, dosen terbina dapat menjadi asisten terlebih dahulu dan dapat memilah subjek yang sesuai dari dosen Pembina, (2) dari ‘Terbina ke Mandiri’, dosen yang sudah S2 memiliki kewenangan mengajar program S-1 yang sesuai dengan bidang studi dan dapat menjadi ‘teaching team’. Dengan memenuhi persyaratan diatas melalui program pembinaan maka profesionalitas pengajar diharapkan berkembang dalam supervisi mengajar, mengajar ‘across curriculum’, mengajar subjek favorit, dan mengembangkan materi.  Untuk dua persyaratan mengembangkan kompetensi pengajar dari ‘Sistematik ke Koordinatif’ berkaitan erat dengan penunjukan ‘Dosen Pembina’, penentuan ‘Materi Pembinaan’ dan (2) ‘Dinamis’ dimana kompetensi professional mengarah pada ketepatan (adequacy), kelancaran (proficiency), sampai ahli (expertise). [17] Kedua, kampus hendaknya memiliki ‘Wadah Profesi’ jangka pendek secara rutin untuk kegiatan akademik selain pelatihan peer-writing. Untuk jangka panjang, pihak kampus dapat menjadi keanggotaan organisasi TESOL untuk membangun jaringan. “The association exists to provide opportunities for networking not only among the members of TESOL but also among the members of the several affiliates and with the membership of other local, national, and international professional association with which TESOL shares a common interest” (Asworth 1993:11).   Asosiasi ada untuk menyediakan atau memberikan kesempatan jaringan tidak hanya diantara anggota TESOL tetapi juga diantara beberapa anggota afiliasi dan anggota lokal, nasional dan internasional untuk saling berbagi minat yang sama. Kampus juga dapat membangun minat baca-tulis dosen dengan cara: (1) setiap pengajar bertukar informasi referensi satu sama lain.  Kurangnya referensi menyebabkan kurangnya minat menulis.  Di sini, pengajar satu sama lainnya bisa menjadi fasilitator dalam memfasilitasi referensi, (2) menyediakan ‘writing workshop’ yang berorientasi pada proses mencari ide, menulis draft, merevisi sampai pada menerbitkan tulisan.  Proses merevisi berarti meng-kolaborasikan tulisan untuk saling mengoreksi tatabahasa (grammar), tulisan, ide dengan rekan.  Dengan melakukan ini, diharapakan akan terbiasa menulis dan plagiarisme dapat dihindari.  Proses menulis lebih berharga dan bermakna daripada sekedar hasil tulisan.  Tahapan ini dapat juga diterapkan untuk mahasiswa dan dosen dapat memotivasi mahasiswa itu sendiri untuk menulis, (3) Tulisan pengajar dapat direspon sendiri oleh mahasiswa sebagai pembaca untuk menajamkan dan mengeksplorasi pendapat sebagai bagian dari menumbuhkan keberanian berdialog, berinteraksi, berfikir kritis dalam akademik, Menurut Rudy, respon mahasiswa yang terus-menerus melalui karya tulis dapat pula meningkatkan tulisan mereka sendiri, (4) komitmen dari pihak universitas untuk selalu memajukan dan memfasilitasi dosen mengaktualisasikan diri di lingkungan kampus terlebih dahulu, (5) memberikan apresiasi akan memotivasi pelaku akademik untuk tetap menulis dana akan dapat menghasilkan atau ‘reproduce’ ilmu pengetahuan kedalam jurnal, buku.[18] Ketiga, kampus memfasilitasi para pengajar untuk selalu meng-upgrade atau memperbaharui nilai TOEFL atau IELST  sesuai dengan jangka waktu yang ditentukan. Keempat, prospektifitas bidang terjemahan masih luas untuk dilakoni.  Agar tepat sasaran untuk meningkatkan keterampilan menterjemahkan ada beberapa saran yang diajukan berdasarkan penelitian Harto bahwa (1) pengajar yang memegang mata kuliah ‘translation’ harus mengetahui tujuan akhir apa yang akan dipersiapkan bagi para lulusan dan menganalisa kebutuhan mahasiswa sebelum memutuskan materi apa yang akan dipelajari.  Koherensi kurikulum dengan kebutuhan pasar menjadi perhatian utama, sehingga produk akhir dari lulusan siap pakai, (2) pengajar harus mempersiapkan proses menterjemahkan dari memahami materi secara utuh sesuai konteksnya, menterjemahkan teks, membaca hasil teks, dan mengedit hasil teks, jika perlu membuat ‘footnote’, (3) pemerintah hendaknya mempertimbangkan institusi lain di Aceh untuk memiliki kewenangan mencetak lulusan menjadi ‘sworn translator’.[19] PENUTUP Pada sesi penutup ini, para dosen perlu meningkatkan sumberdaya manusia sehingga dapat menghasilkan lulusan unggul yang mampu dan sesuai dengan ilmu pengetahuan yang diperoleh agar bisa bersaing di era globalisasi.  Menumbuhkan atmosfir akademik dengan membangun ‘Wadah Profesi’ di kampus untuk melakukan pembinaan dosen muda, membangun ‘peer-teaching’ atau kolaborasi mengajar dan ‘writing workshop’ atau peer-writing yaitu metode kolaborasi menulis untuk saling mengkoreksi ide, grammar, spelling dan bertukar informasi referensi satu dengan yang lain untuk menambah informasi referensi pengetahuan dan sumber untuk menulis. Membangun dan memelihara profesionalisme melalui peningkatan dedikasi, komitmen, kerja keras, efisien, jujur dan selalu mengaktualisasikan diri secara akademik dalam kehidupan nyata dengan membangkitkan minat melakukan penelitian, memperkaya variasi metode mengajar dalam pembelajaran, sehingga profesionalisme tumbuh  seiring dengan kepiawaian mengajar, kepiawaian menulis, serta kepiawaian dalam ranah pendidikan bahasa Inggris lainnya.   DAFTAR PUSTAKA     Alwasilah, Chaedar. 1995.  Profesionalism in Language.  Jakarta: Jakarta Post. Alwadilah, Chaedar. 1997.  Lemahnya Diplomat Indonesia. Jakarta: Republika. Alwasilah, Chaedar. 2003. Revitalisasi Pendidikan Bahasa: Mengungkap Tabir Bahasa demi peningkatan SDM yang kompetitif. Bandung: CV.  Andira. Alwasilah, Chaedar. 2004. Perspektif Pendidikan Bahasa Inggris di Indonesia: Dalam Konteks Persaingan Global. Bandung: CV. Andira. Adam, Anas. M. 2010. Banyak Guru Belum Tersentuh Pelatihan. Serambi: Direktur Pembinaan Pendidikan Depdiknas. Banda Aceh: Serambi. Buchori, Mochtar. 2010.  Guru Profesional dan Plagiarisme. Jakarta: Kompas. Harto, Sri. 2003. Peluang dan Tantangan Bisnis Terjemahan: Studi Kasus Tujuh Penerjemah Profesional. Bandung: CV.  Andira. Indrawati. 2003. Meningkatkan Daya Saing SDM Indonesia di Era Pasar Bebas. Bandung: CV. Andira. Informasi Pendidikan.  1995.  Kualifikasi Dosen.  Jakarta: Republika. Kartadinata, Sunaryo. 2009.  Sertifikasi Guru: Perlu Manajemen Cerdas di Tingkat Pemerintah Daerah. Makalah Seminar Peningkatan Mutu Pendidikan. Banda Aceh: Dinas Pendidikan Banda Aceh. Naisbitt, John.  1995.  Global Paradox. New York: Avon Books. Rudy,    Inderawati. 2011. Aktualisasi Literasi Kalangan Intelektual dalam Mereproduksi Ilmu. JPBS FKIP. Malang : Universitas Sriwijaya. Richards, Jack C. 1998.  Beyond Training: Perspective on Language Teacher Education. New York: Cambridge University Press. Stevenson, Harold W. dan James W Stigler. 1992. The Learning Gap: Why our school are failing and what we can learn from Japanese and Chinese Education. New York: Touchstone. Saad, Hasballah. 2009. Kebijakan Meningkatkan Mutu Pendidikan di Aceh: Sebuah Gagasan Alternatif. Makalah Seminar Peningkatan Mutu Pendidikan Banda Aceh: Dinas Pendidikan Banda Aceh. Sakri, Adjat.  1985.  Ihwal Menterjemahkan, Terbitan 2.  Bandung: Penerbit ITB. Webster’s New Collegiate Dictionary. 1981. Professional Definition. At http://webster.com           [1] Naisbitt, John.  Global Paradox (NY: Avon Books, 1995). [2]. Alwasilah, Chaedar. Perspektif Pendidikan Bahasa Inggris di Indonesia dalam Konteks Persaingan Global (Bandung: Andira, 2004). [3]. Indrawati, Meningkatkan daya saing SDM Indonesia di era Pasar bebas (Bandung:           Andira, 2003). [4]. Saad, Hasballah. Kebijakan Meningkatkan Mutu Penddidikan di Aceh: sebuah Gagasan Alternatif. Makalah Seminar Peningkatan mutu Pendidikan (Banda Aceh: Dinas Pendidikan Provinsi Banda Aceh, 2009), pp.5   [5]. Saad, Hasballah. Kebijakan Meningkatkan Mutu Penddidikan di Aceh: sebuah Gagasan Alternatif. Makalah Seminar Peningkatan mutu Pendidikan (Banda Aceh: Dinas Pendidikan Provinsi Banda Aceh, 2009), pp.8.   [6]. Websters’ New Collegiate, Dictionary.  Definition of Profession at Http://www.webstercollegiate.org (1981).   [7]. Kartadinata, Sertifikasi Guru: Perlu Manajemen Cerdas di Tingkat Pemerintah Daerah. Makalah Seminar Peningkatan Mutu Pendidikan (Banda Aceh: Dinas Pendidikan Provinsi Banda Aceh, 2009). [8]. Buchori, Mochtar. Guru profesional dan Plagiarisme (Jakarta: Kompas, 2010). [9]. Saad, Hasballah. 2009. Kebijakan Meningkatkan Mutu Pendidikan di Aceh: Sebuah Gagasan Alternatif. Makalah Seminar Peningkatan Mutu Pendidikan (Banda Aceh: Dinas Pendidikan, 2009).   [10]. Alwasilah, Chaedar. Revitalisasi Pendidikan Bahasa: Mengungkap Tabir Bahasa demi peningkatan SDM yang kompetitif (Bandung: Andira, 2003). [11]. Rudy, Inderawati. Aktualisasi Literasi Kalangan Intelektual dalam mereproduksi ilmu (JPBS IKIP: Universitas Sriwijaya, 2011). [12]. Alwasilah, Chaedar.  Artikel Lemahnya Diplomat Indonesia (Jakarta: Republika, 1997). [13]. Alwasilah, Chaedar. Artikel tentang Profesionalism in English Language (Jakarta: Jakarta Post, 1995).. [14]. Sakri, Adjat. Ihwal Menterjemahkan, Terbitan 2 (Bandung: ITB, 1985). [15]. Stevenson, Harold W dan James W Stigler. The Learning Gap: Why our school are failing and what we can learn from Japanese and Chinese Education (NY: Touchstone, 1992). [16].  Richards, Jack C.  Beyond Training: Perspective on Language Teacher Education (NY: Cambridge University Press, 1998). [17]. Alwasilah, Chaedar. Perspektif Pendidikan Bahasa Inggris di Indonesia: Dalam Konteks Persaingan Global (Bandung: Andira, 2004). [18]. Rudy, Inderawati. Aktualisasi Literasi Kalangan Inteletual dalam Mereproduksi Ilmu (JPBS FKIP: Universitas Sriwijaya, 2011). [19]. Harto, Sri. Peluang dan Tantangan Bisnis Terjemahan (Bandung: Andira, 2003).
INTERNATIONALLY LEGAL MEASURES TO COMBAT TERRORIST FINANCING Yuniarti, Yuniarti
Brawijaya Law Journal Vol 1, No 1 (2014): Legal and Development
Publisher : Faculty of Law, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.blj.2014.001.01.04

Abstract

Following the terrorist attacks in the USA on September 11th, 2001, it was discovered that money laundering was a significant source of finance for terrorists. Although, the amount of money that involve is not as involve as in drug and gun trafficking, terrorist financing had been the most important substance to be monitor. Further, various legal measures have been taken internationally in order to combat terrorist financing. This research analyses the legal measures that have been taken internationally and at EU level to combat terrorist financing.Key words: Money Laundering, Terrorist Financing, International Legal measures, EU.
PENINGKATAN KETERAMPILAN MEMBACA PEMAHAMAN MENGGUNAKAN METODE KNOW-WANT TO KNOW- LEARNED DI KELAS VA Yuniarti, Yuniarti; Kaswari, Kaswari; Sugiyono, Sugiyono
Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Khatulistiwa Vol 7, No 4 (2018): April 2018
Publisher : Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (511.275 KB)

Abstract

AbstractThe problem of this research is "Whether the application of Know-Won to Know-Learned method can improve students' reading comprehension skills in VA West Pontianak primary school class. This study aims to describe the improvement of reading comprehension skills of students by using the method of Know-Want to Know-Learned through the story in the VA class of Elementary School Negeri 21 Pontianak Barat. The research method used is descriptive method, while the form of research used is a classroom action research with the nature of collaborative research. Subjects in the study were as many as 33 students in the VA class. Data collecting technique used in this research is direct observation technique and documentation. Data collection tool used in the form of observation sheet. The results showed that students' reading comprehension skill in cycle I was seen from 33 students with an average score of 46.48, with the completeness of 9,10% (3 people) while the unfinished 90,90% (30 people). While the second cycle has an increase of 33 students with an average value of 67.93, with the completeness of 66.67% (22 people) while the unfinished 33.33% (11 people). Then on the third cycle again increased visible from 33 students with an average value of 74.69 with a mastery of 81.81% (27 people) while the unfinished 18.19% (6 people). It can be concluded that using Know-Want to Know-Learned method can improve reading comprehension skill of students in class VA SD Negeri 21 Pontianak Barat. Keywords: Improvement, Reading Understanding, Know-Want to Know-Learned Method
Santri trained troops: Making new normal kits and training for the COVID-19 task force Damayanti, Meta Maulida; Yuniarti, Yuniarti; Rachmawati, Meike; Kusmiati, Mia
Abdimas: Jurnal Pengabdian Masyarakat Universitas Merdeka Malang Vol 7, No 1 (2022): February 2022
Publisher : University of Merdeka Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26905/abdimas.v7i1.6020

Abstract

Since the COVID-19 pandemic first emerged in December 2019 and was confirmed in Indonesia in March 2020, the Indonesian government has imposed a strict lockdown. The number of confirmed cases is increasing all the time. Efforts to prevent transmission must be carried out immediately, including improving health protocols. The activity aims to create trained troops Santri, by providing insight into COVID-19 which consists of training to implement health protocols and soft skills for making new normal kits, namely hand sanitizers and cloth masks. The activities were carried out at the Manarul Huda Islamic Boarding School, Bandung to 31 Santri. The new normal kit manufacturing training is accompanied by an expert. The training of Santri produces cadres with a level of knowledge about COVID-19 most highly with a fair category (51,61%). Based on the percentage of the group, age17 years, male gender, and education level graduated from school have a higher level of good knowledge than other groups. This service activity produces trained troops Santri equipped with knowledge about COVID-19 particularly good health protocols, has soft skills to make hand sanitizers and cloth masks. Towards they can produce a new normal kit and create a COVID-free Islamic boarding school area.
Improving students’ interest in learning simple past tense using teams games tournaments Yusnita, Yusnita; Yuniarti, Yuniarti
Journal of English Language Teaching Innovations and Materials (Jeltim) Vol 2, No 2 (2020): October 2020
Publisher : UPT Bahasa Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jeltim.v2i2.37832

Abstract

This study aims to describe the students’ interests and perceptions in learning simple past tense by using the TGT (Team Game Tournament) technique. The situation in the teaching-learning process at an Islamic Junior High School in Pontianak has shown that there are still many problems that must be addressed, concerning English grammar. The researcher has encountered several problems such as student’s reluctance to participate, lack of interest, motivation, and attention in the classroom. The researcher employed Classroom Action Research as a means to solve the problems. The findings presented information regarding the use of TGT that could serve as a beneficial alternative in teaching grammar, particularly the simple past tense. Furthermore, the information will provide the teacher with useful insights on ways to teach and to motivate their students in the classroom.
BRIKET ARANG DARI SERBUK GERGAJIAN KAYU MERANTI DAN ARANG KAYU GALAM Yuniarti, Yuniarti
Jurnal Riset Industri Hasil Hutan Vol 3, No 2 (2011)
Publisher : Kementerian Perindustrian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (131.124 KB)

Abstract

Saw dust waste has a big potential to be used as charcoal briquettes. The galam wood charcoal was added to increase the quality of the Meranti saw dust charcoal. The composition arrangement of Meranti saw dust and galam wood charcoal were 100%:0% ; 90%:10% ; 85%:15% ; 80%:20% ; and 0%:100%. Tapioca flour was used as the adhesive agent. We use 10.000 kg/cm2 for the pressure clamp. The result show that the charcoal briquette have the physical characteristics such as 3.78% - 4.54% for water content with the density between 0.49 – 0.77 gr/cm3 – 0,77 gr/cm3. For the chemical characteristics, the ash content is between 2.64% - 3.24%, substances fly content is 25,40% - 29,40% and the calorific value is between 5502.40 – 6249 cal/gr. The addition of galam wood charcoal is causing the decreasing of the ash and substance fly content but in contrast the calorific value and the residual carbon are increase.Keywords: charcoal briquette, meranti, galam, physic, chemistry
SIFAT KIMIA TIGA JENIS KAYU RAKYAT Yuniarti, Yuniarti
Jurnal Riset Industri Hasil Hutan Vol 3, No 1 (2011)
Publisher : Kementerian Perindustrian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (40.021 KB)

Abstract

The objective of this study was to determine the chemical components of three kinds of social forestry timber of Jengkol, Madang, and Bangkinang, where wood samples was procured from Loksado South Kalimantan. The analysis was conducted according to TAPPI Standard with three replications for each sample. Result shows that Jengkol wood contained 44.73% of cellulose, 79.19% of holocellulose, 32.14% of lignin, 4.08% of extractive and 3.42% of ash. Madang wood contained 45.02% of cellulose, 80.05% of holocellulose, 31.60% of lignin, 4.06% of extractive and 4.59% of ash. Bangkinang wood contained 45.76% of cellulose, 72.84% of holocellulose, 20.90% of  lignin, 2.89% of extractive and 3.9% of ash. This research indicated that among three social forestry timber investigated, the Bangkinang wood is better than two others as sources of raw material for pulp and paper due to the highest cellulose content and lowest lignin and extractives contents.Keywords: chemical properties, Jengkol, Madang, Bangkinang
Co-Authors A.A. Ketut Agung Cahyawan W Alsari, Desi Amirul Mukminin Anita Agustina, Anita Antonius Totok Priyadi Arintina Rahayuni Astutik, Silviana Puji Asysyifa Asysyifa Atikasari, Luthfia Bagoes Widjanarko Bambang Budi Utomo Basuki, Hari Wahyu Budi Sutiya Chaira, Uswatul Damayanti, Meta Maulida Darmaji Darmaji Darwin Darwin Diana Diana Eliana Eliana Enik Sulistyowati eny enawaty Faisal Mahdie, Muhammad Fatriani, Fatriani Fitriani, Yessi Fonny Rianawati fuziarti, eka Hapsari, Bela Amalia Humairah, Arfi Indriana, Indita Indriyani, Yulis Irma Irma Isnaniah, Isnaniah Jaeng, Maxinus Kaswari Kaswari Katu, Umar Kurdiansyah, Kurdiansyah Martalena Br Purba, Martalena Br Maulina, Iin Meike Rachmawati, Meike Mia Kusmiati Mohammad Jaelani, Mohammad Muhammad Firdaus Muhammad Muhammad Muhammad Yasin Mutiyati, Mutiyati Noor Mirad Sari Novrianti, Silpia Nurul Huda Okhtiarini, Dina Okiana, Okiana Partriani, Desi Pratama, Briyandika Purwaningrum, Tantin Rachmawati Rachmawati Rahmat Rasmawan Retno Pangastuti Ria Ambarwati Rifa’i, Rizal Rifandi, Muhammad Rosidah Rosidah Rr Vita Nur Latif Rusmilawaty Rusmilawaty, Rusmilawaty Ryani Yulian Sentryo, Izlan Septianti, Merlina Winda Septianti, Merlinda Winda Sesilia Seli Siti Hamidah Soemantri, Elin B Somantri, Elin B Sri Noor Mintarsih, Sri Noor Sri Nugroho Jati, Sri Nugroho Subekti, Atika Diah Sudarman Sudarman Sugiyono Sugiyono Sulasmi Sulasmi Sulistiowati, Nining Sutrisno, Sutrisno Syabani, Muh Wahyu Syarwani Ahmad Tantri Palupi Taufik, Yulian Thamrin, Gusti Abdul Rahmat Tri Tunggal, Tri Ulfah, Maulida Violet, Violet wasian wasian, wasian Widhoyo, Hafizh Wiwin Tyas Istikowati YUSNITA YUSNITA Yuwono Setiadi, Yuwono Zahroh Shaluhiyah Zakiah Zakiah