Claim Missing Document
Check
Articles

Lama Pemanasan Metode Vapor Heat Treatment (VHT) dan Pelilinan Untuk Mempertahankan Mutu Pepaya Selama Penyimpanan Rokhani Hasbullah; Elpodesy Marlisa; Ali Parjito; Edy Hartulistiyoso
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 22 No. 1 (2008): Jurnal Keteknikan Pertanian
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1945.394 KB) | DOI: 10.19028/jtep.022.1.%p

Abstract

Horticulture products are host for Tephritidae fruitflies that are considered a quarantine risk by many importing countries. This research was conducted to find out the specific condition for the heat treatment using vapor heat treatment (VHT) method to control pest and diseases of papaya and the fruit quality during storage. Papayas were vapor heat treated at medium temperature of 46.5 0C for 0, 15, and 30 minutes. After the treatment, the fruits were waxed using beeswax of 6 % in concentration and then stored at temperature of 10 0C. The results show that the fruitfly of oriental fruitfly (Bactrocera dorsalis) was completely killed by treating in deep water testing at temperature of 46 0C for 10 minutes or at 43 0C for 30 minutes. The VHT of papaya at fruit core temperature of 45.5-46.0 0C for 15-30 minutes following waxing using beeswax of 6% in concentration was found to be effective to control pest and diseases until 21 days of storage without any visible signs of heat injury and without adversely affecting the quality of the fruit. Keywords: Papaya, vapor heat treatment, waxing, quarantine Diterima: 20 Agustus 2007; Disetujui: 24 Nopember 2007
Uji Performansi Mesin Penepung Tipe Disc (Disc Mill) untuk Penepungan Juwawut (Setaria italica (L.) P. Beauvois) Parlaungan Adil Rangkuti; Rokhani Hasbullah; Kaltika Setya Utami Sumariana
agriTECH Vol 32, No 1 (2012)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (656.154 KB) | DOI: 10.22146/agritech.9658

Abstract

Juwawut is a food from the grains includes in Setaria italica (L.) P. Beauvois species. Juwawut in the form of flourhas long been a food ingredient in various countries such as in South-Eastern Europe, North Africa, Northern China, and India. Performance test needs to be conducted, includes characteristics of the engine: capacity, yield, shrinkage scattered, power requirements, efficiency and quality of the flour: particle size, degree of fineness, and moisture content of flour. Disc mill performance test conducted by using 1 kg of juwawut seed per treatment with four rolling speed or rotation per minute (rpm): 1,425, 2,850, 4,750, and 5,700 rpm, and using 80 and 100 mesh sieve. The perfomance test result showed that optimum capacity obtained at 5,700 rpm using 80 mesh sieve: engine capacity 20.43 kg/hour, engine yield 91.66%, and shrinkage scattered 1.77 %. Mill engine at 5,700 rpm with 80 mesh sieve and using 3 phase electric motor needs 519 watt of power with 0.20 % efficiency. As the quality of the flour showed that particle size around0.016 inch, degree of fineness 96.25%, moisture of flour 8.80% of average with intial moisture content of juwawut seed12.03% (wet basis). Based on analysis of variance and Duncam further test rpm treatment was significantly different to mill capacity and yield. For shrinkage scattered analysis showed that rpm treatment of 2,840 is not significantly different to rpm treatment of 4,750, but significantly different to 5,700 rpm treatment.ABSTRAKJuwawut merupakan bahan pangan dari biji-bijian termasuk dalam spesies Setaria italica (L.) P. Beauvois. Juwawutdalam bentuk tepung telah lama menjadi bahan pangan di berbagai negara seperti di Eropa bagian tenggara, Afrika Utara, Cina bagian utara, dan India. Uji performansi mesin penepung tipe disc meliputi karakteristik mesin yakni kapasitas, rendemen, susut tercecer, kebutuhan tenaga dan efisiensi serta kualitas tepung yakni ukuran partikel, derajat kehalusan dan kadar air tepung. Uji performansi dilakukan dengan menggunakan biji juwawut seberat satu kg tiap perlakuan dengan empat kecepatan putar atau rotasi per menit (rpm) yakni 1.425, 2.850, 4.750 dan 5.700 rpm serta menggunakan saringan 80 dan 100 mesh. Hasil pengujian performansi mesin penepung menunjukkan bahwa kapasitas optimum diperoleh pada 5.700 rpm dengan menggunakan saringan 80 mesh yakni kapasitas mesin 20,43 kg/jam, rendemen mesin 91,6 6 %, dan susut tepung tercecer 1,77 %. Mesin penepung pada 5.700 rpm dengan saringan 80 mesh dan menggunakan motor listrik 3 fasa membutuhkan daya sebesar 519 watt dengan efisiensi motor listrik 0,20 %. Ditinjau dari segi kualitas tepung menunjukkan bahwa berdasarkan ukuran partikel tepung yang dihasilkan berukuran berkisar 0,016 inchi, derajat kehalusan tepung 96,25 % dengan kadar air tepung rata-rata 6,80 % dengan kadar air awal biji juwawut 12,03 %. Berdasarkan analisa sidik ragam dan uji lanjut Duncan, perlakuan rpm berbeda nyata terhadap kapasitas penepungan dan rendemen penepungan. Untuk analisa susut tepung tercecer menunjukan bahwa perlakuan pada 2.840 rpm tidak berbeda nyata terhadap perlakuan pada 4.750 rpm, namun berbeda nyata terhadap perlakuan pada5.700 rpm.
Kajian Pengaruh Konfigurasi Mesin Penggilingan terhadap Rendemen dan Susut Giling beberapa Varietas Padi Rokhani Hasbullah; Anggitha Ratri Dewi
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 23 No. 2 (2009): Jurnal Keteknikan Pertanian
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19028/jtep.023.2.%p

Abstract

Rice is the staple food for Indonesian people so that the rice supply will be the barometer for thenational’s food security. In rice production, both of postharvest losses and low milling yield are still theproblems due to lack of postharvest handling. In this study, the effect of rice milling machine configurationon the milling yield and quality of some paddy varieties was examined. Paddy variety of Ciherang, Cibogoand Hybrid were milled using a configuration process of: 1) two husking and two polishing (2H-2P), 2) onehusking, one separating and one polishing (H-S-P), and 3) one husking, two separating and two polishing(H-2S-2P). The results show that the paddy varieties significanly affect milling yield and losses. However,rice milling machine configurations are not significantly affect the milling yield and losses. Paddy variety ofCibogo resulting in the highest milling yield (67.80 %) compared to Ciherang (62.61 %) and Hibrida (60.78%). Paddy variety of Cibogo resulting in the lowest losses (1.41 %) compared to Ciherang (3.43 %) andHibrida (3.03 %). The speed of milling process for configuration of 2H-2P, H-S-P and H-2S-2P were 228.1kg/hour, 295.6 kg/h and 263.2 kg/hr respectively.Keywords: paddy, rice milling configuration, milling lossess, milling yieldDiterima: 30 Juni 2009; Disetujui: 19 Oktober 2009
Use of Calcium Chloride and Chitosan to Control Thielaviopsis paradoxa in Salak Pondoh Fruit during Storage Okky Setyawati Dharmaputra; Rokhani Hasbullah; Jeffrey Fransiscus
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol. 17 No. 4 (2021)
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.17.4.131-140

Abstract

Serangan cendawan Thielaviopsis paradoxa dapat menurunkan kualitas buah salak selama penyimpanan. Salah satu cara penanganan pascapanen untuk mempertahankan kualitas buah salak pondoh ialah dengan penambahan bahan tambahan pangan kalsium klorida dan bahan pelapis kitosan. Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh CaCl2 dan kitosan untuk mengendalikan T. paradoxa, penyebab busuk hitam pada buah salak pondoh. Perlakuan terdiri atas CaCl2 6%, kitosan 1.5%, CaCl2 6% + kitosan 1.5%, dan kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kitosan 1.5% lebih efektif dalam mempertahankan kualitas buah salak selama 12 hari penyimpanan dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Perlakuan ini menghambat peningkatan populasi mikrob, persentase kerusakan daging buah, persentase susut bobot, dan penurunan nilai organoleptik dibandingkan dengan kontrol pada suhu ±28 °C dan kelembapan relatif 65%–75%. Kitosan 1.5% dapat direkomendasikan kepada petani salak untuk memperpanjang masa simpan buah salak sampai dengan 12 hari.
Kajian Pengaruh Iradiasi Sinar Gamma Terhadap Mortalitas Lalat Buah Dan Mutu Buah Mangga Gedong (Mangifera indica L) Selama Penyimpanan Cicih Sugianti; Rokhani Hasbullah; Yohanes Aris Purwanto; Dondy A Setyabudi
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 26 No. 1 (2012): Jurnal Keteknikan Pertanian
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19028/jtep.026.1.%p

Abstract

Abstract Gedong mango (Mangifera indica L.) is a tropical fruit that has the potential for export. But, the fruit of the mango is hosted by fruit fly. Fruit fly pests of mango export has been restrained by the very strict quarantine regulation. Therefore, it need a treatment that can annihilate the fruit fly. Irradiation technique has been one of the quarantine treatment that being attention, in order to disinfested pest attack. This research aims to study the effect of irradiation on mortality of fruit fly species Bactocera papayae (oriental fruitfly) on gedong mango, and to study the effect of irradiation dose and storage temperature on the physiology of the nature and quality of mangoes gedong. The results showed the mortality test results for B. papayae towards the dose 0.75 kGy reached until 100%. The next level was to test the mango fruit fly which considered infested naturally from the field. The dose given were 0:25 kGy, 0.5 kGy, 0.75 kGy and control. The results showed that in the control treatment founded that fruit flies growth from the day 9th to day 24th days of storage. 0.25 kGy dose and 0.5 kGy dose given were still found larva growth until the day 24th days of storage. From the test results of mortality at the dose of 0.75 kGy was able to annihilate fruit fly mortality reaches until 100%, but when applied to the fruit which has considered infested in the field were still found larvae growth until the 21st days of storage. Irradiation dose of 0.75 kGy can suppress the respiration rate, and weight losses during storage. With the irradiation dose can affected the quality of gedong mango such as vitamin C, total acid, Total Soluble Solid (TSS), and moisture content of gedong mango. Keywords: Gedong mango, Fruit flies, Irradiation, Quarantine treatment Abstrak Buah mangga gedong (Mangifera indica L.) merupakan salah satu produk hortikultura yang berpotensi untuk di ekspor. Tetapi buah mangga merupakan inang dari lalat buah. Serangan hama lalat buah menyebabkan ekspor buah mangga terhambat oleh aturan karantina yang sangat ketat. Oleh karena itu diperlukan suatu perlakuan yang dapat membunuh lalat buah tersebut. Teknik iradiasi sebagai salah satu perlakuan karantina mulai dilirik untuk tujuan disinfestasi serangga hama. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh iradiasi terhadap mortalitas lalat buah (fruit fly) spesies Bactocera papayae (oriental fruitfly) pada buah mangga gedong, dan mempelajari pengaruh dosis iradiasi dan suhu penyimpanan terhadap sifat fisiologi dan mutu buah mangga gedong. Hasil penelitian menunjukkan untuk hasil uji mortalitas B. papayae terhadap dosis 0.75 kGy mencapai 100%. Tahapan selanjutnya adalah menguji buah mangga yang dianggap sudah terinfestasi lalat buah secara alami dari lapang. Besarnya dosis yang diberikan adalah 0.25 kGy, 0.5 kGy, 0.75 kGy dan kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada perlakuan kontrol ditemui lalat buah yang berkembang pada hari ke-9 sampai hari ke-24 penyimpanan. Pemberian dosis 0.25 kGy dan 0.5 kGy masih ditemukan larva yang berkembang hingga hari ke-24 penyimpanan. Dari hasil uji mortalitas pada dosis 0.75 kGy mampu membunuh lalat buah mencapai mortalitas 100%, namun ketika diterapkan pada buah yang dianggap sudah terinfestasi secara lapang masih ditemukan larva yang berkembang pada hari ke-21 penyimpanan. Pemberian dosis iradiasi sebesar 0.75 kGy dapat menekan laju respirasi, dan susut bobot selama penyimpanan. Dengan pemberian dosis iradiasi dapat mempengaruhi mutu buah mangga gedong seperti halnya kadar vitamin C, total asam, TPT, dan kadar air buah mangga gedong. Kata kunci : Mangga gedong, Lalat buah, Iradiasi, Perlakuan karantina.Diterima:09 November 2011;Disetujui: 13 Maret 2012 
Aplikasi Ultrasonik untuk Pendugaan Kerusakan Serangan Lalat Buah pada Mangga Arumanis Rokhani Hasbullah; Ridwan Rachmat; Dondy A Setyabudi; nFN Warji
Buletin Teknologi Pasca Panen Vol 5, No 1 (2009): Buletin Teknologi Pascapanen Pertanian
Publisher : Buletin Teknologi Pasca Panen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kerusakan akibat lalat buah biasanya terlihat jika buahnya dibuka. Metode gelombang ultrasonik dapat digunakan untuk mengetahui mutu buah bagian dalam tanpa merusak. Tujuan penelitian adalah pendugaan kerusakan mangga Arumanis yang diakibatkan lalat buah dengan menggunakan gelombang ultrasonik. Karakteristik gelombang ultrasonik yang diaplikasikan untuk pendugaan kerusakan mangga Arumanis adalah atenuasi, kecepatan, dan zero moment power (Mo). Koefisien atenuasi mangga tidak rusak adalah 36,45 Np/M, dengan kecepatan gelombang ultrasonik 518,19 m/detik, dan zero moment power (Mo) 4,58. Dalam aplikasinya pendugaan kerusakan mangga Arumanis menggunakan gelombang ultrasonik dapat digunakan pada batas koefisien atenuasi sebesar 34,76 Np/M dan zero moment power (Mo) 5,60. Pada bentuk pendugaan koefisien atenuasi lebih dari 34,76 Np/M mangga dinyatakan normal/tidak terinfeksi lalat buah, sedangkan pada koefisien atenuasi kurang atau sama dengan 34,76 Np/M diindikasikan telah terinfeksi lalat buah. Pada Zero moment power (Mo) lebih dari 5,60 mangga Arumanis diindikasikan normal/tidak terinfeksi lalat buah, sedangkan kurang dari atau sama 5,60 dapat diindikasikan sebagai telah terinfeksi lalat buah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa koefisien atenuasi rata-rata mangga Arumanis sebesar 30,67 Np/m, kecepatan rata-rata gelombang ultrasonik 731,72 m/detik, dan zero moment power (Mo) 6,40.
REKAYASA MESIN PENCETAK BUTIR BERAS SIMULASI DARI MATERI TANAMAN HUTAN Hendrawan, Iyus; Sutrisno, Sutrisno; Hariyadi, Purwiyatno; Purwanto, Y Aris; Hasbullah, Rokhani
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 33, No 3 (2015): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2015.33.3.235-246

Abstract

Indonesia kaya akan aneka sumber karbohidrat non-beras, termasuk di dalamnya tumpang sari tanaman hutan. Bulir beras simulasi (Simulated Rice Grain/SRG) dibuat dari bahan tepung aneka sumber karbohidrat non-beras dengan pendekatan sifat fisiko kimia tepung dan bulir beras varietas Ciherang. Penelitian bertujuan untuk merancang bangun mesin pencetak SRG berbahan baku campuran tepung hasil tumpang sari tanaman hutan. Perancangan mesin pencetak SRG didekati melalui kriteria perancangan, analisa desain, desain fungsional dan proses manufaktur, mesin ini diuji coba dengan menggunakan bahan campuran terbuat 30% pati garut, 42 % tepung tales beneng dan 28% tepung sorgum. Hasil rekayasa mesin pencetak SRG mempunyai dimensi ruang pencentak 6,8 x 2,2 x 5,06 mm , rasio pemampatan  1,9-2,3, kekuatan tekan 600 N. Sudut luncur pengumpan 70o, lama tekan pencetakan  0-5000 mikrodetik, kapasitas 900 bulir per jam dan temperatur bantalan ruang cetak 25-80 oC. Pengujian mesin pencetak menghasilkan bulir SRG dengan panjang 7,1 mm, tebal 2,8 mm, bentuk agak bulat, kekerasan bulir 0,1–2 N, massa jenis SRG 620-770  kg/m3 dan bobot  17,5-29 g per 1000 butir.
Proses Pengolahan Beras Pratanak Memperbaiki Kualitas dan Menurunkan Indeks Glikemik Gabah Varietas Ciherang (Parboiled Rice Processing Improve Quality and Reduce Glycemic Index of Paddy cv. Ciherang) Nurman Susilo; Rokhani Hasbullah; Sugiyono Sugiyono
JURNAL PANGAN Vol. 22 No. 3 (2013): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v22i3.92

Abstract

Proses pratanak bertekanan dapat memperbaiki kualitas dan menurunkan indeks glikemik beras. Penelitian ini bertujuan, mengkaji pengaruh tekanan pengukusan terhadap kualitas fisik dan komposisi kimia beras pratanak serta sifat organoleptik nasi pratanak, menguji indeks glikemik nasi pratanak pada berbagai tekanan pengukusan. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan tekanan pengukusan yaitu 0,8 kg/cm2 (110oC), 1,5 kg/cm2 (122oC), 2 kg/cm2 (127oC) dan 2,5 kg/cm2 (132oC) dan 4 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pratanak bertekanan dapat memperbaiki kualitas fisik beras yaitu meningkatkan 20,71 persen butir utuh, menurunkan 15,11 persen butir patah, menurunkan 0,16 persen butir menir dan meningkatkan 6,43 persen rendemen, namun belum mampu meningkatkan butir kepala. Proses pratanak bertekanan juga mampu merubah komposisi kimia seperti, meningkatkan 0,38 persen lemak, meningkatkan 0,19 persen abu, meningkatkan 4,21 persen amilosa dan meningkatkan 0,95 persen pati resisten, namun menurunkan 0,01 persen karbohidrat dan menurunkan 0,55 persen protein . Panelis menyukai sifat organoleptik aroma dan tekstur beras pratanak, namun relatif agak suka terhadap warna dan rasa. Perlakuan pratanak dengan tekanan pengukusan 2,0 kg/cm2 (127oC) mampu menurunkan indek glikemik dari 48,18 menjadi 35,52 dan tekanan pengukusan 0,8 kg/cm2 (110oC) mampu menurunkan indeks glikemik dari 48,18 menjadi 44,88.kata kunci: padi, beras pratanak, tekanan pengukusan, indeks glikemikPressure parboiling process can improve the quality and reduce glycemic index of rice. The parboiled rice would be suitable to be consumed by diabetes sufferer. The research was aimed to study the effect of steaming pressure on physical quality, chemical composition and organoleptic properties and to evaluate the glycemic index of parboiled rice at various steaming pressure. The study was conducted using a completely randomized design with 4 treatments of steaming pressure i.e. 0.8 kg/cm2 (110o C), 1.5 kg/cm2 (122o C), 2.0 kg/cm2 (127o C) and 2.5 kg/cm2 (132o C) and 4 replications. The results showed that the pressure parboiling process could improve the physical quality i.e. the increase of the whole grain 20.71 percents, reduced broken 15.11 percents, reduced small broken 0.16 percents and increased yield 6.43 percents. Pressure parboiling process was also able to change chemical compositions i.e. increased fat 0.38 percents, increased ash 0.19 percents, increased amylose 4,21 percents,increased amylase resistant starch 0.95 percents, reduced carbohydrate 0.01 percents and reduced protein 0.55 percents. Organoleptic properties of parboiled rice were relatively preferred in terms of aroma and texture, but rather less preferred in the cases of color and flavor. Pressure parboiling rice with 2.0 kg/cm2 steaming pressure (127o C) could reduce the glycemic index from 48.18 to 35.52, while the steaming pressure of 0.8 kg/cm2 (110o C) could reduce the glycemic index from 48.18 to 44.88. 
PENGGUNAAN FILM PLASTIK UNTUK KEMASAN KELAPA KOPYOR MUHAMMAD YUSUF ANTU; ROKHANI HASBULLAH; USMAN AHMAD
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 21, No 2 (2015): Juni 2015
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v21n2.2015.99-107

Abstract

ABSTRAKKelapa kopyor memiliki kandungan gizi yang penting, seperti karbohidrat, protein, lemak, dan asam lemak. Selama penyimpanan kelapa kopyor mudah mengalami kerusakan karena proses oksidasi dan hidrolisis lemak. Hal ini menyebabkan kelapa kopyor mengalami ketengikan dan perubahan warna dari putih menjadi kuning kecoklatan. Untuk mengatasi hal tersebut, dilakukan pengemasan dengan film plastik dan menyimpannya pada suhu dingin.  Tujuan penelitian adalah untuk Memberikan informasi mengenai keefektifan film plastik untuk penyimpanan  daging kelapa kopyor. Bahan  penelitian adalah kelapa kopyor dari Kalianda (Lampung Selatan). Kelapa kopyor dikemas film plastik jenis Polyamide (PA),  Polypropylene (PP), dan High Density Polyethylene (HDPE).  Arameter mutu yang dianalisis adalah Thiobarbituric acid  (TBA),  asam lemak  bebas  (ALB),  total  padatan terlarut (TPT), pH, total mikrob,  kadar lemak, serta uji organoleptik warna,  aroma,  dan  rasa.  Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan dua faktor. Faktor pertama adalah film plastik dengan tiga taraf (PA, PP, HDPE), dan faktor kedua adalah suhu dengan dua taraf (5 ± 2 dan 10 ± 2 oC). Hasil penelitian menunjukkan jenis film plastik PA pada penyimpanan suhu 5 ± 2 oC merupakan kemasan yang efektif dalam mempertahankan mutu kelapa kopyor hingga enam hari, yang dibuktikan dengan rendahnya total mikrob, TBA, dan ALB. Selain itu, panelis masih menyukai kelapa kopyor dari warna, aroma dan rasa.Kata kunci: kelapa kopyor, plastik film, mutu, suhu, waktu penyimpanan The Usage of Plastic Film for Kopyor Coconut Packaging ABSTRACTKopyor coconut contains important  nutrients, such as carbohydrates, protein, fat, and fatty acids. During storage kopyor coconut is  easily  suffered  damage,  because  of  oxidizing  and  fat  hydrolysis processes. The processes cause  kopyor coconut suffered rancidity and color change from white to brownish-yellow. Packaging  kopyor coconut with plastic film and keep it in a cool temperature could overcome this problem. The aim of the research  was to provide  information   the effectiveness  of  plastic  films  for  kopyor  coconut  storage.  Research material was kopyor coconut obtained from Kalianda (South Lampung). Kopyor   coconut   packaged   in   plastic   film   type   Polyamide (PA), Polypropylene (PP), and High Density Polyethylene (HDPE).  The quality parameters observed were Thiobarbituric acid (TBA), free fatty acids (FFA), pH, total soluble solid (TSS), pH, total microbes, fat content, and sensory characteristics including color, flavor, and taste. This research used Randomized Complete Design with two factors. The first factor was the packaging material with three different types (PA, PP, HDPE), and the second factor was the storage temperature at two levels of 5 ± 2 and 10 ± 2 oC. The results showed that the type of plastic film packaging PA at storage temperature 5 ± 2 oC is effective in maintaining the quality of kopyor coconut up to six days, as evidenced bythe low total microbe, TBA, and ALB. In addition, panelists still like kopyor coconut of color aroma and taste.
Strategi Pengembangan Inkubator Bisnis Sebagai Lembaga Pendampingan Perusahaan Pemula: Studi Kasus Inkubator Bisnis IPB Heriyanto S Soba; Rokhani Hasbullah; Nunung Nuryartono
Jurnal Aplikasi Bisnis dan Manajemen (JABM) Vol. 4 No. 1 (2018): JABM Vol. 4 No. 1, Januari 2018
Publisher : School of Business, Bogor Agricultural University (SB-IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17358/jabm.4.1.96

Abstract

Business Incubator is a model in growing technology-based entrepreneurship. Compared with the other countries, the business incubator in Indonesia has not been well developed. In fact, the contribution of the business incubator is significant for the successes of the entrepreneurs and the economy in general. This study aimed to analyze the development strategy of business incubators (IncuBie) of IPB by analyzing the internal (Internal Factor Evaluation/IFE) and external (External Factor Evaluation/EFE) factors. This study applied SWOT analysis (Strengths-Weaknesses-Opportunities-Threats), and determined the alternative development strategy using Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM). The SWOT analysis showed four alternative development strategies. Meanwhile, the QSPM matrix analysis showed that an interesting strategy to be selected from various strategic alternatives that are available is by increasing the support to the business incubator through the implementation of regulation and provision of particular financing scheme based on its performance and services to the tenants. This strategy managed a number of strengths to take advantage of the existing opportunities (strengths-opportunities/SO) with the highest total attractive score (STAS).Keywords: business incubator, IFE, EFE, SWOT, QSPM
Co-Authors . Setiadjit . Sukarno . Sutrisno Abdul Waries Patiwiri Achmad Fitrah Maulidin Adhitya Yudha Pradhana Agus Sutejo Ahmad Yani Ahmad Yani Ali Parjito Amzul Rifin Andi Suryadi Anggitha Ratri Dewi Arief Daryanto Arif Imam Suroso Arif Suroso Aris Purwanto Astu Unadi Budi Nurtama Budi Rahardjo Cicih Sugianti Dadang . Deasy Fitriani Desy Nofriati Desy Nofriati Deva Primadia Almada Dondy A Setyabudi Dondy A Setyabudi DS Priyarsono Dwi Zuwarman Edi Suryanto Edy Hartulistiyoso Eka Priyana Elisa Nur Faizaty Elpodesy Marlisa Emmy Darmawati Eti Rohaeti Fahim M Taqi Firdaus, Jonni Graita Gaiety Jatmiko Harli Prawaningrum Hasniar . Heriyanto S Soba I Wayan Astika I Wayan Budiastra Idham Sakti Harahap Ita Zuraida Iyus Hendrawan Jeffrey Fransiscus Juniska Muria Sariningpuri Kaltika Setya Utami Sumariana Khoirul Mukhtarom Leopold Oscar Nelwan Lidya Susanti Lilik Pujantoro Eko Nugroho Machfud Machfud Maya Wulan Arini Memen Surahman Mohamad Rahmad Suhartanto Muhammad Yusuf Antu MUHAMMAD YUSUF ANTU nFN Setyadjit nFN Sukarno Nunung Nuryartono Nurhayati Nurhayati Nurman Susilo Nurul Imamah Okky Setyawati Dharmaputra Parlaungan Adil Rangkuti Patiwiri, Abdul Waries Pramita Riskia D. P Prori Vitaliano Latief Purwiyatno Hariyadi Renny Anggraini Ridwan Rachmat Rimba Lestari Rio Viryawan Riska Indaryani Rizal Syarief Rizal Syarief RIZAL SYARIEF Rofika Rochmawati Ruri Wijayanti Sahara Sahara Setiadjit Setiadjit Slamet Budijanto Sugiyono Sugiyono Sugiyono Sugiyono Sukarno Sukarno Sulusi Prabawati Suparlan . Suroso . Susi Lesmayati Susilo, Nurman Sutrisno , Sutrisno - Sutrisno Mardjan Sutrisno Sutrisno Sutrisno Sutrisno Sutrisno, Sutrisno Tajuddin Bantacut Tri Yulni Usman Ahmad Warji Warji