Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

EFISIENSI TEKNIS USAHATANI JAGUNG MANIS DI DESA GUNUNG MALANG KECAMATAN TENJOLAYA KABUPATEN BOGOR: PENDEKATAN DATA ENVELOPMENT ANALYSIS Amandasari, Melissa; Nurmalina, Rita; Rifin, Amzul
Forum Agribisnis Vol 4, No 2 (2014): FA Vol 4 No 2 September 2014
Publisher : Forum Agribisnis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Efficiency can be used as a measurement for decision making. Technical efficiency is one of them. The objectives of the research are (1) to analyze farming techniques and input usage, (2) to measure the technical efficiency and (3) to identify factors affecting technical efficiency of maize farm in Gunung Malang, Tenjolaya, Bogor Regency. Data Envelopment Analysis (DEA) approach and Tobit Regression are used to analyze. The result shows that farmers in Gunung Malang are inefficient in the use of production inputs. Farmers need to decrease manure usage, TSP fertilizer, and outside labor for technical efficiency. Factors that are affecting the technical efficiency are formal education level, number of household member and farmer association membership.
ANALISIS PEMASARAN NENAS PALEMBANG (KASUS: DESA PAYA BESAR, KECAMATAN PAYARAMAN, KABUPATEN OGAN ILIR, PROVINSI SUMATERA SELATAN) Herawati, Herawati; Rifin, Amzul
Forum Agribisnis Vol 3, No 2 (2013): FA Vol 3 No 2 September 2013
Publisher : Forum Agribisnis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pineapple is one of the commodities that make a significant contribution to the Gross National Product (GDP) Indonesian horticulture. South Sumatra is one of the provinces that have a high volume of pineapple production. Pineapple production center is located in Ogan Ilir regency. There are problems in the marketing of pineapples that affect farmers income. The problem is the high margin difference between farmers and consumers. Therefore, this study aimed to analyze marketing system of pineapples in Paya Besar sub regency. This study used structural approach, conduct approach and market performance. Based on the analysis, there are three channels of pineapple marketing in Paya Besar sub regency. Every channel has different marketing areas. The third channel is more efficient than the other channels. These channel involves farmers, traders village, local wholesalers, and foreign wholesalers. The third channel has the smallest margin, the largest farmers share and the most equitable spread of benefit cost ratio. In addition, sales volume pineapple third channel is the highest volume and most widely used by farmers.
DAMPAK PENERAPAN KUOTA IMPOR TERHADAP PERMINTAAN KARET ALAM INDONESIA OLEH NEGARA CHINA Syaffendi, Muhamad Ridho; Rifin, Amzul; Jahroh, Siti
Jurnal Agribisnis Indonesia Vol 1, No 2 (2013): JAI Vol 1 No 2 Desember 2013
Publisher : Jurnal Agribisnis Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia is once country with an open economy, trade is one way to get the source of income for the country. therefore, Indonesian trying to be a exporters some excellent products, especially in the area of ​​rubber plantations. This study aims to look and identify the impact of the adoption quota production of natural rubber to Indonesia and other major rubber producing countries in the ASEAN region, in this study using a rubber commodity time series data to be analyzed quantitatively through descriptive models and quantitative models. Deskritptif model used is multiple linear regression model. the results of this study demand for natural rubber imports from ASEAN countries China is influenced by several variables that the price of natural rubber, synthetic rubber prices , income per capita , exchange rates , and dummy variables. Judging from the competitiveness of Indonesias natural rubber can not compete in terms of price with natural rubber Thai state, due to Indonesias natural rubber are substitutes for natural rubber Thailand, while for Malaysia, Indonesias natural rubber relationship is complementary.
Sistem Pemasaran Karet Rakyat Di Provinsi Jambi dengan Pendekatan Struktur, Perilaku, dan Kinerja Pasar Amalia, Dwi Nurul; Nurmalina, Rita; Rifin, Amzul
Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 4, No 3 (2013): Buletin Riset Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Komoditas karet merupakan komoditas utama di Provinsi Jambi. Pergerakan harga karet di tingkat eksportir tidak diikuti oleh pergerakan karet ditingkat petani. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis sistem pemasaran karet rakyat di Provinsi Jambi dengan pendekatan struktur, perilaku, dan kinerja pasar (SCP). Penelitian ini dilakukan pada dua kabupaten sentra produksi karet di Provinsi Jambi dari bulan Juni sampai Agustus 2013. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei dengan teknik wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi rasio empat perusahaan terbesar (CR4) di tingkat pabrik crumb rubber sebesar 75,70%. Karakteristik struktur pasar menunjukkan bahwa pasar terkonsentrasi dengan tingkat persaingan yang kecil. Struktur pasar yang terbentuk mengarah pada struktur pasar oligopoli dan terdapat lembaga pemasaran yang dominan dalam proses penentuan harga, yaitu pabrik crumb rubber. Hasil penelitian menemukan bahwa integrasi pasar vertikal menunjukkan bahwa harga karet ditingkat petani tidak terintegrasi dengan harga ditingkat pedagang pengumpul desa, pedagang pengumpul kecamatan, pedagang besar provinsi dan pabrik crumb rubber baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Hal ini menunjukkan bahwa dalam proses penentuan harga petani cenderung sebagai penerima harga.Kata Kunci: Sistem pemasaran, karet rakyat, struktur pasar, perilaku pasar, kinerja pasar, hargaRubber is the main commodity of Jambi Province. In the rubber market, price volatilites at exporter level are not followed by price volatilities at farmer level. Generally the objectives of this research was to analyze the marketing system of rubber smallholders with structure-conduct-performance (SCP) approachment. The research was conducted on two district of rubber production centers in Jambi province from June to August 2013. The method used in this research is survey method with interview techniques. The research results show that market concentration ratio (CR4) at crumb rubber factory level is 75.70%. These structural characteristics indicate that market structure is concentrated with low competition level. Hence, market structure of rubber is oligopolistic and the main marketing intitution determining rubber prices is crumb rubber factory. Market conduct analysis states that marketing collution occurs crumb rubber factories determine the price. In addition, the market performance analysis shows that changes of rubber prices at the crumb rubber factory level are not transmitted to farmers. The result analysis of market performance indicates that farmers are the most disadvantages actors comparing with other marketing actors and they are also price taker in the short run and long run.
Analisis Perdagangan Kakao Indonesia di Pasar Internasional Suryana, Anggita Tresliyana; Fariyanti, Anna; Rifin, Amzul
Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 1, No 1 (2014): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

pertumbuhan konsumsi dunia. Sejak pemerintah Indonesia menerapkan kebijakan pajak ekspor kakao biji dalam rangka untuk mengembangkan industri pengolahan kakao, ada perubahan dalam komposisi ekspor kakao. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi perdagangan kakao Indonesia di pasar internasional. Pengukuran menggunakan Gravity Model menunjukkan bahwa variabel yang berpengaruh signifikan terhadap ekspor kakao biji Indonesia adalah GDP riil per kapita negara tujuan, nilai tukar, dan bea keluar kakao biji. Variabel yang berpengaruh signifikan terhadap ekspor kakao powder Indonesia adalah GDP riil per kapita Indonesia dan negara-negara tujuan serta nilai tukar, sementara semua variabel yang signifikan dalam mempengaruhi ekspor kakao butter. Implikasi dari hasil penelitian adalah Indonesia dapat meningkatkan pangsa pasarnya dengan lebih memprioritaskan mengekspor kakao biji ke Cina. Kakao butter pangsa pasar sebaiknya ditingkatkan di Cina dan Australia, sedangkan untuk kakao powder, negara yang dapat ditingkatkan pangsa pasarnya adalah Rusia.Kata Kunci: Kakao biji, kakao butter, kakao powder, ekspor, Gravity ModelIndonesia is one of the largest cocoa producer and exporter in the world. Cocoa international market has great potential regarding world’s consumption growth. Therefore, Indonesia is expected to take advantage on existing opportunities. Since the government of Indonesia implemented export tax policy on cocoa beans in order to develop cocoa processing industry, there were changes in the composition of cocoa export. The objective of this study was to analyze factors that influence Indonesia’s cocoa trade in international market, by using Gravity Model. The result showed that variables that influence Indonesia’s cocoa beans exports significantly are real GDP per capita of destination countries, exchange rate, and cocoa beans export tax. Indonesia’s cocoa powder exports is significantly influnced by real GDP per capita of Indonesia and destination countries, and exchange rate, while all variables are significant in influencing cocoa butter export. The implications of this findings are Indonesia can increase market share by prioritizing of cocoa beans export to China. In the meantime, cocoa butter should be increasing market share in China and Australia, and cocoa powder in Rusia.
Analisis Perdagangan Kopi Indonesia di Pasar Internasional Meiri, Anggi; Nurmalina, Rita; Rifin, Amzul
Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 4, No 1 (2013): Buletin Riset Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia merupakan salah satu negara produsen dan eksportir kopi terbesar di dunia. Akan tetapi, pertumbuhan volume ekspor kopi di Indonesia lebih rendah dari pertumbuhan produksinya. Rendahnya ekspor kopi Indonesia disebabkan oleh banyak faktor yang mempengaruhi perdagangan kopi Indonesia di pasar internasional. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi perdagangan kopi Indonesia di pasar internasional dan menerangkan potensi perdagangan kopi Indonesia di negara tujuan. Metode analisis yang digunakan adalah analisis data panel dengan gravity model dan analisis potensi perdagangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peubah yang berpengaruh signifikan terhadap ekspor kopi Indonesia adalah GDP riil/kapita Indonesia, GDP riil/kapita negara tujuan, jarak ekonomi antara Indonesia dengan negara tujuan, dan keanggotaan WTO. Sementara itu, Indonesia memiliki potensi untuk melakukan ekspansi perdagangan kopi ke negara-negara tujuan di masa yang akan datang karena perdagangan kopi Indonesia di negara tujuan masih under trade. Implikasi kebijakan adalah Indonesia harus meningkatkan pangsa pasar dengan memprioritaskan untuk mengekspor kopi ke Mesir dan Aljazair karena kedua negara tersebut memiliki pertumbuhan GDP riil/kapita yang tinggi dan perdagangan kopi Indonesia di Mesir dan Aljazair masih under trade.Kata Kunci: Kopi, ekspor, gravity modelIndonesia is one of the largest coffee producer and exporter in the world. However, the growth of Indonesia’s coffee export volume is lower than that of its production. Indonesia’s coffee export is low due to many factors affecting the Indonesia’s coffee trade in international market. The purposes of this study are to explain the factors that influence Indonesia’s coffee trade in international market and the trade potential of Indonesian coffee in destination countries. The analysis methods used are analysis of panel data with gravity model and trade potential analysis. The results showed that variables that significantly influence Indonesia’s coffee exports are real GDP/capita of Indonesia, real GDP/capita of destination countries, economic distance between Indonesia and destination countries, and WTO membership. Meanwhile, Indonesia has potency to expand coffee trade to the destination countries in the future. Therefore, Indonesia should increase the market share by prioritizing of exported coffee to Egypt and Algeria having high in real GDP/capita growth rate.
Factors Determining Profit of Rubber and Oil Palm Smallholders in Batanghari, Jambi Dewi, Triana Gita; Nurmalina, Rita; Rifin, Amzul
Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 4, No 3 (2013): Buletin Riset Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

scarcity causes the competition of land use for rubber and oil palm plantation. Hence, the decision of land use is based on the differences of profit. The higher profits, the higher incentive to farmers for developing a commodity. Land scarcity also leads smallholders to improve both rubber and oil palm without use more land. Hence, it is important to analyze the determinant factors of profit in these commodities. Hence, the specific objectives were to identify factors determining rubber and oil palm smallholders profit in Batanghari, Jambi and to compare the profit generated by rubber and oil palm smallholder. Survey method was conducted from October to December 2012 through direct observation and interview techniques. Analysis method used in this research is ordinary least square (OLS) where this method is developed in two regression models and descriptive analysis. The results show that in rubber plantation, factors determining profit are land size, tree age, number of productive tree, district, farmer age, herbicide, and labor, while in oil palm plantation, factors influencing profit are tree age, number of productive tree, district, NPK, and herbicide. Based on average profit generated in planted period, oil palm plantations is more profitable than rubber plantation, they are Rp. 9.387.561,00 and Rp. 8.763.116,00 per ha per year, respectively.Karet, kelapa sawit, ordinary least square, laba 
ANALISIS LOKASI INDUSTRI SERBUK KARET ALAM TERAKTIVASI (SKAT) UNTUK ASPAL KARET Ibrahim, Daniel; Rifin, Amzul; Djohar, Setiadi
Jurnal Penelitian Karet JPK : Volume 36, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.jpk.v36i1.543

Abstract

Untuk memenuhi kebutuhan aspal yang berkualitas tinggi serta meningkatkan penyerapan karet alam di dalam negeri, pemerintah Indonesia sebagai konsumen utama aspal di Indonesia mulai mencanangkan program pengaspalan yang menggunakan bahan dengan campuran karet padat atau Serbuk Karet Alam Teraktivasi (SKAT) untuk aspal karet. Hal tersebut merupakan peluang bagi perusahaan yang bergerak di bidang aspal. Manajemen perusahaan harus melakukan analisis lokasi pengembangan program ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui lokasi terbaik untuk pendirian pabrik SKAT, dengan metode AHP yang menggunakan tiga kriteria, 24 sub kriteria dan empat  alternatif lokasi. Berdasarkan hasil sintesis terhadap kriteria dan sub kriteria, alternatif lokasi pendirian SKAT secara berurutan sesuai bobot yang dihasilkan adalah Semarang (0,382), Cikampek (0,315), Palembang (0,177) dan yang terakhir adalah Sidoarjo (0,126) dengan rasio konsistensi data 0,01. Keunggulan utama dari lokasi ini adalah letaknya yang strategis dikarenakan memiliki pasar yang prospektif dalam radius 600 Km, dengan panjang jalan nasional  5.611 Km dan jalan daerah sepanjang 109.075 Km. Meskipun jarak dengan sumber bahan baku karet alam tidak sedekat apabila pabrik didirikan di Palembang, serta jarak dengan sumber bahan baku Ground Tyre Rubber (GTR) tidak sedekat apabila pabrik didirikan di Sidoarjo, Semarang memiliki keunggulan lain yaitu harga lahan serta upah tenaga kerja yang lebih murah dibandingkan dengan kota lain.
Determinants of Exporting Firm: Case of Food Processing Sector in Indonesia Rifin, Amzul
INTERNATIONAL RESEARCH JOURNAL OF BUSINESS STUDIES Vol 10, No 1 (2017): April - July 2017
Publisher : Universitas Prasetiya Mulya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.61 KB)

Abstract

Analisis Kinerja Daya Saing Industri Teh Indonesia Nurohman, Nurohman; Rifin, Amzul; Djohar, Setiadi
Jurnal Ekonomi Pertanian dan Agribisnis Vol 2, No 5 (2018)
Publisher : Department of Agricultural Social Economics, Faculty of Agriculture, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (20.43 KB) | DOI: 10.21776/ub.jepa.2018.002.05.5

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengukur dan menganalisis daya saing industri teh Indonesia di dunia berdasarkan kinerja perdagangan internasional. Ada empat langkah yang dilakukan secara berkesinambungan untuk mencapai tujuan tersebut. Pertama, mengukur daya saing teh Indonesia dengan Relative Trade Advantage (RTA), kedua mengidentifikasi faktor-faktor determinan daya saing melalui survei kepada stakeholder  industri teh, ketiga menganalisis faktor-faktor determinan dengan Model Diamond Porter, dan keempat menggambarkan perubahan faktor-faktor determinan daya saing teh Indonesia. Tingkat daya saing industri teh Indonesia merupakan kemampuan industri teh dalam negeri untuk bertahan dalam persaingan dalam pasar global. Penelitian ini membandingkan kinerja daya saing teh Indonesia pada tahun 2010 dan 2016 dengan sejumlah pertimbangan. Dari hasil perhitungan, tingkat daya saing teh pada dua tahun tersebut berada di atas level 1 yang berarti teh Indonesia lebih kompetitif jika dibandingkan dengan komoditas dalam negeri lainnya. Survei dan wawancara mendalam yang dilakukan pada 12 responden dari perusahaan BUMN, swasta, pemerintah, asosiasi, dan lembaga penelitian menunjukkan bahwa penerapan PPn perkebunan 10% dan regulasi pembatasan masuknya teh ke Uni Eropa menjadi perhatian utama seluruh responden karena menghambat kinerja daya saing industri teh. Sementara itu, faktor yang mendukung daya saing industri teh tampak dari berkembangnya industri agrowisata dan perusahaan minuman siap saji teh.